Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Khawatir Kuota Pertalite Tak Cukup

Tim Redaksi • Jumat, 12 Juni 2026 | 10:47 WIB
Antrian kendaraan melakukan pengisian BBM di salah sat SPBU di kawasan Jalan SM Amin, Pekanbaru, Kamis (11/6/2026) ft: MHD AKHWAN/RIAUPOS
Antrian kendaraan melakukan pengisian BBM di salah sat SPBU di kawasan Jalan SM Amin, Pekanbaru, Kamis (11/6/2026) ft: MHD AKHWAN/RIAUPOS

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi pertamax 92 tak hanya membuat kecewa masyakakat, tapi juga memun­culkan kekhawatiran terhadap ketersediaan BBM bersubsidi pertalite. Pasalnya, mahalnya harga pertamax 92 yang dijual Rp17 ribu per liter di Riau maka diprediksi warga akan beralih ke pertalite.

Hal ini sudah terlihat di SPBU 14.282.62 Bangkinang, Kabupaten Kampar, Kamis (11/6). Antrean kendaraan di SPBU ini terpantau masih normal meskipun harga BBM nonsubsidi pertamax 92 naik. Mayoritas pengendara masih memilih mengisi pertalite yang dijual dengan harga Rp10.000 per liter.

Salah seorang warga Bangkinang bernama Iqbal mengaku khawatir kenaikan harga pertamax akan membuat sema­kin banyak masyarakat beralih ke pertalite. Kondisi tersebut dikhawatirkannya dapat mempercepat habisnya kuota BBM subsidi sebelum akhir bulan.

Baca Juga: Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia-Pasifik

Menurut Iqbal, pengalaman bulan lalu menunjukkan kuota pertalite sempat habis sebelum masa distribusi bulanan berakhir. Jika kondisi serupa kembali terjadi, masyarakat akan menghadapi kesulitan mendapatkan BBM dengan harga terjangkau.

‘’Kalau dulu saat pertalite habis, saya masih mempertimbangkan mengisi Pertamax karena harganya sekitar Rp12.900 per liter. Namun sekarang harganya sudah mencapai Rp17.000 per liter, tentu sangat memberatkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga BBM turut memberikan dampak besar terhadap kondisi perekonomian masyarakat. Biaya transportasi yang meningkat dinilai akan berpengaruh pada pengeluaran sehari-hari, terutama bagi warga yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja dan beraktivitas.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Jumat 12 Juni 2026 Turun Rp 25 Ribu, Begitu juga Galeri24 dan UBS

Masyarakat berharap ketersediaan pertalite tetap terjaga sehingga kebutuhan BBM bersubsidi dapat terpenuhi hingga akhir periode distribusi setiap bulannya.

Di Indragiri Hulu, antrean kendaraan masih sebatas jenis truk lebih dominan di sejumlah SPBU Jalan Lintas Timur. Salah seorang pengelola SPBU di Jalan Lintas Timur Kelurahan Pematang Reba, Sriyanto mengatakan, satu hari pascakenaikan harga BBM nonsubsidi, pengisian BBM masih tergolong normal untuk jenis pertalite dan pertamax.

”Pengendara mengisi BBM jenis pertalite lebih banyak pada pagi hari, terutama untuk kendaraan sepeda motor. Hal ini terjadi hampir setiap hari,” ujar Sriyanto, Kamis (11/6). ”Jika memang pengendara banyak beralih ke BBM jenis pertalite, kami siap melayani selama tersedia. Karena di SPBU kami memiliki jalur sendiri-sendiri dan kecil kemungkinan terjadi antrean panjang,” sebutnya.

Mobil Listrik Berpotensi Makin Diminati

Kenaikan harga pertamax dinilai berpotensi mendorong minat masyarakat beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). Namun, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berharap kondisi tersebut tidak sampai menekan penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE).

Ketua Gaikindo Jongkie D Sugiarto mengatakan, pihaknya belum melakukan kajian khusus mengenai dampak kenaikan harga Pertamax terhadap pasar otomotif nasional. Meski demikian, dia menilai peluang pergeseran minat konsumen ke kendaraan listrik cukup terbuka.

Baca Juga: BRK Syariah Fasilitasi Penyaluran Dana PPKS untuk 16.021 Hektare Lahan Sawit di Riau

Menurut Jongkie, pertumbuhan kendaraan listrik seharusnya memperluas pasar otomotif nasional, bukan menggerus pasar kendaraan konvensional yang selama ini menjadi tulang punggung industri. “Kalau bisa ICE tidak turun, tapi BEV-nya yang bertambah,” katanya.

Dia berharap peningkatan penjualan kendaraan energi baru, khususnya mobil listrik berbasis baterai, dapat berjalan seiring dengan tetap terjaganya pasar kendaraan konvensional. Saat ditanya langkah untuk mengantisipasi potensi penurunan penjualan kendaraan ICE akibat kenaikan harga bahan bakar, Jongkie menegaskan, segmen tersebut harus dijaga karena masih mendominasi pasar otomotif nasional. 

Pernyataan itu disampaikan di tengah tren positif penjualan mobil nasional sepanjang 2026. Data Gaikindo menunjukkan penjualan kendaraan roda empat atau lebih dari pabrik ke dealer (wholesales) pada Mei 2026 mencapai 69.219 unit. Angka tersebut naik 14 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 60.697 unit.

Sementara itu, penjualan ritel dari dealer ke konsumen tercatat 71.890 unit atau meningkat 16,8 persen secara tahunan dibanding Mei 2025 yang mencapai 61.546 unit. Secara kumulatif, penjualan mobil nasional pada Januari–Mei 2026 juga masih tumbuh. Penjualan wholesales naik 12,8 persen menjadi 359.015 unit dari 318.344 unit pada periode yang sama tahun lalu.

Adapun penjualan ritel meningkat 8,8 persen menjadi 359.490 unit dari sebelumnya 330.486 unit. Meski demikian, secara bulanan pasar otomotif mengalami perlambatan. Penjualan wholesales pada Mei turun 14,3 persen dibanding April yang mencapai 80.779 unit. Penjualan ritel juga terkoreksi 5,1 persen dari 75.736 unit menjadi 71.890 unit.

Jongkie menjelaskan, lonjakan penjualan pada April dipengaruhi faktor musiman pasca-Lebaran yang mendorong peningkatan distribusi kendaraan. Memasuki Mei, pasar kembali bergerak normal dan turut dipengaruhi sejumlah hari libur nasional. 

 

BEM Unair Gaungkan Tujuh Desakan Darurat Ekonomi

Kenaikan harga pertamax memantik reaksi dari berbagai kampus. Di Surabaya, ratusan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) menggelar aksi pernyataan sikap di Bundaran Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair kemarin (11/6). 

Mereka mendesak pemerintah segera menindaklanjuti tujuh desakan darurat ekonomi di tengah berbagai persoalan yang dinilai semakin membebani masyarakat. Isu yang disorot, antara lain, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya biaya hidup, melemahnya daya beli, hingga menyempitnya lapangan pekerjaan.

Aksi yang diikuti 100–150 mahasiswa tersebut melibatkan BEM Unair, BEM FEB Unair, BEM fakultas se-Unair, serta sejumlah elemen mahasiswa dari kampus lain. 

Menteri Sosial dan Politik BEM Unair Daniel Nikon Martua Situmorang mengatakan, kegiatan itu merupakan bentuk peringatan sekaligus evaluasi terhadap pengelolaan anggaran negara. ’’Intinya adalah tujuh desakan darurat ekonomi sebagai bentuk peringatan dan evaluasi terhadap pengelolaan APBN,” ujarnya.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan, mahasiswa menilai kondisi ekonomi nasional saat ini ditandai melemahnya rupiah, meningkatnya biaya hidup, menurunnya daya beli masyarakat, serta bertambahnya ketimpangan sosial-ekonomi. Mereka juga menyoroti sejumlah kebijakan yang dinilai belum berpihak pada kesejahteraan rakyat. Daniel menjelaskan, aksi tersebut diinisiasi BEM FEB Unair dan mendapat dukungan dari berbagai organisasi mahasiswa di lingkungan kampus.

Tujuh tuntutan yang disampaikan meliputi evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan APBN, menjamin independensi dan transparansi institusi negara, menghentikan praktik dominasi negara yang menghambat pertumbuhan ekonomi masyarakat dan UMKM, serta melakukan reformasi regulasi dan birokrasi guna membuka lapangan kerja yang berkualitas.

Selain itu, mahasiswa mendesak pemerintah memprioritaskan pengurangan ketimpangan sosial-ekonomi melalui perlindungan sosial yang tepat sasaran, mengembalikan kebijakan berbasis data dan riset, serta memperkuat kualitas demokrasi dan tata kelola pemerintahan. ’’Mendesak pemerintah memprioritaskan kebijakan yang berfokus pada pengurangan ketimpangan sosial-ekonomi melalui perlindungan sosial yang tepat sasaran,” bunyi salah satu tuntutan yang dibacakan dalam aksi tersebut.

Daniel menegaskan, kegiatan berlangsung damai dan hanya berupa penyampaian pernyataan sikap di lingkungan kampus. Menurut dia, sempat terjadi kesalahpahaman karena sejumlah pihak mengira mahasiswa akan menggelar aksi di luar kampus.

BEM se-Unair juga berencana menggelar konsolidasi lanjutan pada Jumat malam untuk menentukan langkah berikutnya. ’’Apakah nanti akan ada aksi lanjutan atau bagaimana, itu masih akan kami konsolidasikan terlebih dahulu supaya satu suara se-Unair,” katanya.(kom/kas/mia/dho/kp/yog/zam/oni/jpg)

Editor : Arif Oktafian
#pertamax 92 #BBM Subsidi #pertalite