JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Jumat (19/6).
Padahal sebelummya rupiah ditutup melemah 32 poin menjadi Rp17.794 per dollar AS pada perdagangan Kamis (18/6). Pelemahan ini akibat sentimen kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Dalam keterangan yang diterima, Jumat (19/6), Ibrahim Assuaibi menjelaskan, Pasar Indonesia memang tengah mengalami tekanan dan volatilitas tinggi akibat sikap wait and see pelaku pasar. Investor global dan institusi menahan diri sembari menunggu dua keputusan krusial dari MSCI untuk melihat apakah status Indonesia dipertahankan di emerging market dan apakah pembekuan konstituen akan dicabut.
Baca Juga: Rupiah dan IHSG Mulai Pulih
Ibrahim mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed yang mempertahankan suku bunga tetap di 3,50 persen-3,75 persen pada hari Rabu dan memberi sinyal bahwa para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk kebijakan moneter yang lebih ketat di akhir tahun ini.
"Jika MSCI memutuskan penurunan peringkat. Terlebih lagi, pada pengumuman rebalancing sebelumnya, MSCI sempat membekukan penambahan konstituen saham baru untuk Indonesia akibat kekhawatiran terkait struktur kepemilikan dan transparansi free float," ujarnya.
Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa sembilan dari 19 pejabat Fed memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga pada tahun 2026, sebuah perubahan signifikan dari ekspektasi awal tahun ini.
Baca Juga: Gadai Emas Di BRK Syariah Jadi Pilihan Tepat Masyarakat dari Jerat Rentenir
Dalam pertemuan pertamanya sebagai ketua Fed, Kevin Warsh mempertahankan sikap tegas terhadap inflasi, menekankan komitmen bank sentral untuk memulihkan stabilitas harga. Fed juga menaikkan perkiraan inflasinya, mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga dan meningkatkan nilai dolar.
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi