Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

IHSG Berpeluang Menguat Terbatas

Tim Redaksi • Senin, 29 Juni 2026 | 12:04 WIB
Hans Kwee. (JPG)
Hans Kwee. (JPG)

 JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih dibayangi sentimen global pada pekan ini. Meski berpeluang menguat secara terbatas, tekanan dari arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), saham-saham teknologi berbasis AI (AI), hingga ketidakpastian geopolitik diperkirakan membuat pasar bergerak dalam fase konsolidasi.

Praktisi pasar modal Hans Kwee memperkirakan IHSG bergerak pada area support 5.677-5.830 dan resistance 6.056-6.226.

Menurut Hans, perhatian pelaku pasar masih tertuju pada saham-saham produsen chip AI di Wall Street. Valuasi yang sudah tinggi membuat sektor teknologi rentan terkoreksi apabila laporan keuangan emiten tidak mampu memenuhi ekspektasi investor. ”Tekanan pada sektor teknologi juga memengaruhi pergerakan saham di bursa Eropa maupun Asia,” ujarnya, Ahad (28/6).

Dari sisi makroekonomi, pasar juga mencermati kenaikan Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) AS yang mencapai 4,1 persen pada Mei. Inflasi yang masih tinggi, terutama dipicu kenaikan harga energi, dinilai membuka peluang Bank Sentral AS (Federal Reserve) kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang.

Baca Juga: OJK: Ruang Ekspansi Kredit Masih Longgar

”Pandangan pelaku pasar saat ini lebih mengarah pada potensi kelebihan pasokan minyak dalam waktu dekat. Ada peluang banjir pasokan sehingga harga minyak berpotensi tetap tertekan,” katanya.

Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah juga diperkirakan masih menghadapi tekanan. Selain terdampak penguatan dolar AS, inflasi domestik diperkirakan meningkat setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Sementara itu, cadangan devisa yang menyusut akibat intervensi Bank Indonesia turut menjadi faktor yang membebani rupiah.

Di tengah berbagai sentimen negatif tersebut, masih terdapat katalis positif bagi pasar domestik. Salah satunya keputusan MSCI yang tetap menempatkan Indonesia dalam kelompok Emerging Market, meski disertai sejumlah catatan.

Investor juga menantikan hasil penilaian Sovereign Credit Rating dari S&P Global yang dijadwalkan diumumkan pekan ini. ”Hasil pemeringkatan tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik,” ucapya.(mim/dio/jpg)

 

Editor : Arif Oktafian
#ihsg #saham #pasar saham #Bursa Efek Indonesia