WASHINGTON (RIAUPOS.CO) – Dunia kembali menghadapi ancaman krisis pangan akibat fenomena el nino yang diperkirakan berkembang menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Para ekonom memperingatkan dampaknya tidak hanya memukul produksi pertanian global, tetapi juga memicu lonjakan harga pangan yang dapat berlangsung hingga 2028.
Peringatan itu muncul ketika harga pangan dunia sudah berada di bawah tekanan akibat terganggunya rantai pasok global yang dipicu konflik Iran-Amerika Serikat (AS). Dilansir dari The Guardian, kondisi tersebut membuat pasar menghadapi dua guncangan sekaligus, yakni gangguan geopolitik dan cuaca ekstrem.
Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) memperkirakan el nino 2026-2027 memiliki peluang besar berkembang menjadi kategori sangat kuat. Fenomena itu berpotensi memicu gelombang panas, kekeringan, banjir, hingga perubahan pola hujan yang mengganggu produksi pangan di berbagai belahan dunia.
Analis Goldman Sachs memperkirakan harga komoditas pangan global dapat naik sekitar 15,8 persen. Sementara itu, UniCredit memperingatkan lonjakan harga komoditas utama bisa mencapai 10 hingga 50 persen. “Untuk komoditas yang paling rentan, seperti beras, minyak sawit, gula, dan kopi, kenaikannya diperkirakan mencapai 50 hingga 100 persen atau bahkan lebih,” ungkap para analis di Bank Italia UniCredit dalam lapora tertulis.
Meski demikian, dampak penuh diperkirakan baru akan terasa pada paruh kedua 2028 karena siklus tanam, masa panen, serta gangguan distribusi membutuhkan waktu sebelum tercermin pada harga di pasar.
Asia Tenggara Paling Berisiko
Baca Juga: 1 Dollar AS Dihargai Rp18.065, Senin Ini Rupiah Diprediksi Fluktuatif
Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang paling berisiko terdampak. Kekeringan berkepanjangan diperkirakan menekan produksi padi dan perkebunan kelapa sawit, sementara hasil panen kopi juga berpotensi menurun akibat cuaca yang semakin panas dan tidak menentu. Penurunan produksi tersebut dapat mengerek harga bahan pangan pokok dan berbagai produk olahan yang menggunakan minyak sawit.
Selain mengganggu produksi, suhu yang lebih hangat dan kelembapan tinggi juga meningkatkan risiko penyebaran hama dan penyakit tanaman sehingga dapat menekan hasil panen pada musim berikutnya.
UniCredit memperkirakan skenario ekl nino ekstrem dapat memangkas produksi pertanian global hingga 14,3 persen dengan nilai kerugian mencapai sekitar 342 miliar dolar AS. Para analis mengingatkan cadangan pangan dunia masih tersedia, tetapi ruang untuk menghadapi gangguan pasokan semakin terbatas sehingga risiko inflasi pangan global tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang.(gas/jpg)
Editor : Arif Oktafian