Investasi Baja Turun, Asosiasi Desak Kepastian Regulasi 

Tim Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 11:39 WIB
Harry Warganegara. (jpg)
Harry Warganegara. (jpg)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Penurunan investasi di industri baja menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih. Pelaku usaha mendesak pemerintah segera memperkuat kepastian regulasi dan menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif agar ekspansi industri kembali bergulir.

Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan realisasi investasi sektor besi dan baja pada kuartal II 2026 hanya mencapai Rp13,2 triliun. Angka itu turun sekitar 22,4 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai Rp17 triliun.

Direktur Eksekutif The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara menyebutkan, penurunan tersebut mencerminkan sikap hati-hati investor di tengah tekanan yang masih membayangi industri baja, baik dari faktor global maupun domestik. 

Baca Juga: Investasi Baja Turun, Asosiasi Desak Kepastian Regulasi 

Menurut dia, kelebihan kapasitas produksi (overcapacity) dunia, terutama dari Tiongkok, masih menjadi ancaman utama. Di dalam negeri, investor juga menghadapi pasar yang belum sepenuhnya kondusif. ”Investor juga membutuhkan kepastian regulasi dan iklim usaha yang kondusif sebelum merealisasikan investasi baru,” ujarnya di Jakarta, Senin (27/7).

Harry menjelaskan, prospek permintaan domestik dan tingkat utilisasi pabrik menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan investasi. Saat ini, utilisasi industri baja nasional masih berkisar 52 persen. ”Selama kapasitas eksisting belum dapat dimanfaatkan secara optimal, investasi baru cenderung dilakukan secara lebih selektif,” katanya.

Selain utilisasi yang masih rendah, derasnya arus baja impor berharga murah juga terus menekan industri nasional. Produk asal Tiongkok membuat margin produsen domestik semakin tergerus sehingga kemampuan perusahaan untuk melakukan reinvestasi maupun ekspansi ikut melemah. 

Baca Juga: OJK: Universal Banking Tak Berlaku untuk Semua Bank

Di sisi lain, industri masih dibebani tingginya biaya energi, terutama gas bumi dan listrik, yang menjadi komponen terbesar dalam struktur biaya produksi. Fluktuasi harga bahan baku, pelemahan nilai tukar, serta ketidakpastian ekonomi global turut memperberat tekanan terhadap kinerja industri.

Untuk memulihkan minat investasi, IISIA meminta pemerintah menghadirkan kebijakan yang konsisten dan terintegrasi. (bry/dio/jpg)

Editor : Arif Oktafian
industri baja investasi baja IISIA