Bahlil Pastikan Harga BBM dan Elpiji Subsidi Tidak Naik

Tim Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 09:48 WIB
Bahlil Lahadalia. (JPG)
Bahlil Lahadalia. (JPG)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG/elpiji) subsidi tidak akan naik di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia.

Bahlil menyebutkan, keputusan tersebut merupakan arahan dari Presiden Prabowo Subianto untuk tetap menjaga harga BBM dan elpiji subsidi seperti kondisi saat ini. “Jadi tidak ada kenaikan untuk BBM subsidi termasuk di dalamnya adalah elpiji subsidi,” ujar Bahlil dalam konferensi pers, Jakarta, Selasa (28/7).

Bahlil mengatakan, di tengah harga minyak dunia yang fluktuatif pemerintah memastikan stok BBM dan elpiji nasional tetap terjaga untuk masyarakat Indonesia. “Kami menyampaikan bahwa untuk stok BBM kita dan CRUD, in sya Allah di atas standar minimum nasional termasuk kondisi elpiji,” ujarnya.

Baca Juga: BRK Syariah Perkuat Daya Saing UMKM Rokan Hilir Lewat Bantuan Tenda Bazar

Bahlil mengatakan sampai saat ini harga minyak mentah dunia masih naik turun imbas dari geopolitik peperangan yang ada di Timur Tengah. Sebagaimana diketahui, harga minyak mentah dunia kembali turun pada perdagangan Selasa (28/7) di tengah meredanya konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Dilansir Investing, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,29 poin atau 0,34 persen menjadi 85,07 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 1,01 poin atau 1,22 persen menjadi 81,62 dolar AS per barel.

Dilansir Reuters, Presiden AS Donald Trump pada Senin (27/7) mengatakan bahwa negaranya tengah melakukan “pembicaraan yang baik” dengan Iran dan masih terbuka peluang tercapainya penyelesaian konflik.

Baca Juga: CIMB Niaga Raih Penghargaan Best SME Bank Indonesia 2026 

Meski begitu, Trump menegaskan serangan AS dapat kembali dilanjutkan apabila perundingan gagal. Iran juga menyampaikan peringatan serupa terkait kemungkinan aksi balasan.

Analis IG Tony Sycamore mengatakan untuk sementara waktu pasar menyambut positif peluang meredanya konflik sehingga tekanan terhadap harga minyak berkurang.

“Untuk saat ini, harapan adanya jalan keluar telah meredakan tekanan harga minyak dan mengurangi kekhawatiran atas serangan Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi. Namun, situasi tetap sangat dinamis,” tulis Sycamore dalam catatannya, Selasa (28/7).

Baca Juga: Investasi Baja Turun, Asosiasi Desak Kepastian Regulasi 

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri terpilih Yaman dari pemerintahan yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi, Afrah al-Zouba, mengatakan kelompok Houthi berupaya meniru kontrol Iran atas jalur pelayaran di Selat Hormuz dengan memperluas pengaruhnya di Selat Bab el-Mandeb.

Analis Marex Edward Meir menilai kemampuan Houthi untuk memberlakukan blokade penuh masih diragukan. Hal ini mengingat Arab Saudi diperkirakan akan terus melancarkan serangan terhadap kelompok tersebut.

“Kendati demikian, tidak diragukan lagi bahwa lalu lintas kapal di Laut Merah dan Selat Hormuz telah turun secara signifikan,” ujar Meir. Menurutnya, salah satu alasan harga minyak tidak melonjak lebih tinggi adalah melemahnya permintaan, terutama dari kawasan Asia.(jpg)

Editor : Arif Oktafian
elpiji subsidi BBM Subsidi bahlil lahadalia