Ditutup Rp17.748 per Dollar AS, Hari Ini Rupiah Diprediksi Kembali Menguat

Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:08 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, baru-baru ini. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, baru-baru ini. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Per Dollar Amerika Serikat (AS) ditutup Rp17.748 pada perdagangan Kamis (20/8). Sinyal membaiknya nilai tukar rupiah akan terus terjadi hingga Jumat (21/8) ini.

"Untuk perdagangan hari ini (21/8), mata uang rupiah fluktuatif, diperkirakan direntang Rp17.700-Rp 17.750," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan yang diterima, Jumat (21/8).

Ibrahim mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri. Salah satunya adalah berasal dari keputusan pemerintah yang berencana memangkas kuota bahan bakar minyak (BBM) subsidi pada tahun 2027.

Baca Juga: Tambang Emas di Republik Afrika Tengah Runtuh, Lebih 100 Orang Tewas dan Masih Akan Bertambah

Kebijakan itu menurutnya berpotensi memberikan dampak terhadap masyarakat pengguna BBM bersubsidi, terutama untuk jenis BBM Pertalite. Pengurangan subsidi BBM tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah untuk melakukan pengendalian subsidi.

"Pasar merespon positif terhadap pemerintah yang berencana memangkas kuota BBM bersubsidi secara signifikan pada 2027," ujarnya.

Ibrahim menyebut, dengan pemangkasan kuota hingga 58,5 persen masyarakat yang selama ini mengandalkan BBM bersubsidi berpotensi menghadapi pengetatan akses terhadap BBM subsidi.

Baca Juga: Ada Layanan Pos Kesehatan Gratis Pada Festival Pacu Jalur Kuansing

"Selain itu, sikap hati-hati para investor terus membayangi pasar menjelang rilis data transaksi berjalan kuartal kedua yang dijadwalkan pekan ini, mengingat defisit pada kuartal pertama sempat melebar ke tingkat terbesar sejak 2019 akibat kinerja perdagangan yang melemah karena gejolak geopolitik di Timur Tengah yang meyebabkan harga minnyak mentah dunia terus menguat," ungkapnya.

Di sisi lain, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 75 Dollar AS per barel pada 2027. Angka tersebut masih berada di bawah harga minyak saat ini yang berada di kisaran 83 Dollar AS per barel, Rupiah diangka Rp17.500.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat. Terlebih, pengguna Pertalite didominasi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: Kondisi Kesehatan Personel Manggala Agni Rengat Masih Prima hingga Hari ke 18, Besok Karhutla di Inh

Menurutnya, pembatasan kuota yang cukup besar berpotensi meningkatkan beban pengeluaran apabila masyarakat harus beralih ke BBM nonsubsidi. Karena itu, kebijakan pengendalian subsidi BBM perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah yang paling sensitif terhadap kenaikan biaya transportasi.

Sumber: Jawapos.com

Editor : Rinaldi
dollar as pemangkasan bbm subsidi rupiah menguat nilai tukar rupiah