JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Emas tak lagi sekadar menjadi layanan pelengkap bagi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dan PT Pegadaian (Persero). Dua bank bulion itu telah menjadikan komoditas tersebut sebagai mesin pertumbuhan baru. Tak hanya lewat pembiayaan dan perdagangan emas saja.
BSI kini menyiapkan skema simpanan emas hingga produk berbasis (ETF). Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo di Jakarta, Selasa (25/8) mengatakan, pengembangan bisnis simpanan emas masih berada pada tahap persiapan.
Menurut dia, pembangunan ekosistem menjadi penting karena skema tersebut merupakan model bisnis baru bagi perseroan. Dalam skema simpanan emas yang disiapkan, logam mulia fisik menjadi transaksi sehingga mekanismenya berbasis emas dengan emas.
Baca Juga: PT DSI Tidak Akan Menambah Rantai Birokrasi Baru
BSI juga tertarik mengembangkan produk berbasis ETF emas. Namun, realisasi produk tersebut masih menunggu kesiapan regulasi dan internal perbankan. ”Kita masih menyiapkan. Regulasinya kalau di perbankan kan tidak secepat ,” tutur Anggoro sambil menambahkan hingga Juni 2025, BSI mencatat aset pengelolaan emas mencapai 24 ton.
Sementara itu, PT Pegadaian (Persero) mencatat geliat bisnis emas juga semakin kuat. Total kelolaan emas perseroan telah melampaui 153 ton. Angka tersebut berasal dari berbagai layanan, mulai Pinjaman Modal Kerja (PMK) Emas, perdagangan emas, deposito emas, hingga jasa titipan emas korporasi.
”Pencapaian tersebut telah melampaui target perseroan selama setahun. Tingginya minat masyarakat menjadi salah satu pendorong utama,” kata Direktur Jaringan dan Operasi Pegadaian Eka Pebriansyah.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Raih Predikat Bintang 5
Lonjakan transaksi terutama terjadi pada Januari hingga Mei 2026. Saat itu, harga emas sempat menembus level Rp3 juta lebih sehingga mendorong masyarakat meningkatkan transaksi pembelian, tabungan, maupun cicilan emas. ”Memang terjadi lompatan pada awal tahun ini,” tuturnya.
Namun, tren pembelian emas belakangan mulai melandai. Fluktuasi harga membuat sebagian masyarakat memilih menunggu dan mencermati perkembangan pasar. Kondisi geopolitik global turut memengaruhi pergerakan harga emas.”Ketika kondisi seperti saat ini, masyarakat relatif ,” ungkapnya.(mim/dio/jpg)
Laporan JPG, Jakarta
Editor : Arif Oktafian