PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - menjadi kota dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi di Kota Bertuah ini mencapai 7,39 persen. Ini menjadi indikator positif di tengah tantangan fiskal dan kondisi perekonomian nasional yang terus berkembang.
Wali Kota (Wako) Pekanbaru H Agung Nugroho SE MM menilai pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru yang mencapai 7,39 persen pada Triwulan II 2026 tidak terlepas dari kebijakan pemerintah daerah dalam menggerakkan ekonomi masyarakat. Tidak hanya mengandalkan sektor padat modal, Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru berupaya mendorong perputaran ekonomi yang manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Baca Juga: Harga Kelapa Sawit Turun Tipis
Wako, Selasa (15/9) mengatakan, angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu berarti seluruh masyarakat berada dalam kondisi ekonomi yang sama. Dalam kehidupan sehari-hari, tetap terdapat masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi. Namun, angka pertumbuhan ekonomi menggambarkan bagaimana aktivitas dan perputaran ekonomi berlangsung di suatu daerah.
”Alhamdulillah ya, ini tertinggi di antara kota se-Indonesia, nomor satu pastinya, sampai di angka 7,39 persen. Ini sudah kita bahas dengan beberapa kategori yang memang harus kita tingkatkan dan betul-betul dirasakan manfaatnya,” ujar Agung.
Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi memiliki pola pengukuran yang tidak semata-mata melihat kondisi ekonomi individu masyarakat. Ada masyarakat yang masih mengalami kesulitan, sementara sebagian lainnya memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik.
Baca Juga: Konten Kuliner Makin Booming, Industri Makanan Tumbuh 7,41 Persen
”Memang ada yang susah, ada juga yang punya duit, ada yang ke lapangan. Namun di sini menggambarkan tentang perputaran ekonomi,” jelasnya.
Dorong Ekonomi Padat Karya
Menurut Agung, salah satu kunci yang membedakan dampak pertumbuhan ekonomi adalah jenis kegiatan ekonomi yang berkembang. Ia membaginya ke dalam dua kategori besar, yakni ekonomi padat modal dan ekonomi padat karya.
Ekonomi padat modal, kata Agung, biasanya membutuhkan investasi besar dengan jumlah tenaga kerja yang relatif terbatas. Ia mencontohkan keberadaan pabrik pengolahan kelapa sawit atau PKS yang membutuhkan modal besar, tetapi manfaat langsungnya dirasakan oleh kelompok pekerja dalam jumlah tertentu.
Baca Juga: Mau Siapkan Dana Pensiun? BRI DPLK Bisa Dibuka Praktis lewat BRImo
”Kalau padat modal, ini seperti pabrik PKS. Modalnya besar, tapi dirasakan oleh sedikit orang. Punya modal besar, tetapi sedikit yang menikmati, misalnya karyawannya,” katanya.
Sementara itu, ekonomi padat karya melibatkan lebih banyak tenaga kerja dan sektor usaha masyarakat. Perputaran uang yang dihasilkan dari aktivitas tersebut dinilai lebih luas karena melibatkan banyak pelaku ekonomi, mulai dari usaha kecil, perdagangan, jasa, hingga industri rumah tangga.
”Nah, kalau padat karya, itu orang yang banyak sekali didukung oleh seluruh sektor dan dirasakan oleh banyak orang. Seperti itulah yang berdampak di Kota Pekanbaru,” ungkapnya.
Agung menyebutkan, salah satu contoh nyata dampak kebijakan ekonomi yang dilakukan Pemko Pekanbaru terlihat dari perbaikan infrastruktur, khususnya jalan. Infrastruktur yang semakin baik mendorong mobilitas masyarakat dan aktivitas perdagangan di berbagai kawasan.
Baca Juga: Hotel Mutiara Merdeka Hadirkan Program Eksklusif ‘’Savetember’’
Perbaikan jalan yang sebelumnya mengalami kerusakan, menurutnya, membuat kawasan-kawasan yang sempat sepi kembali ramai. Masyarakat lebih mudah datang, berbelanja, dan menjalankan aktivitas usaha.
”Dengan adanya perbaikan infrastruktur, daya beli orang yang selama ini sepi di situ, orang mau belanja di sana,” ujarnya.
Selain pembangunan infrastruktur, Pemko Pekanbaru juga berupaya menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan belanja pemerintah dan pemberian dukungan kepada aparatur serta kelompok masyarakat tertentu.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekanbaru Guswandi SST menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Pekanbaru sebesar 7,39 persen pada Triwulan II 2026 dipengaruhi oleh sejumlah lapangan usaha dan komponen pengeluaran.
Baca Juga: Siapkan Rp1,7 M Lindungi Pekerja Rentan Kuansing
Jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia, pertumbuhan tersebut menempatkan Pekanbaru pada posisi pertama. ”Pertumbuhan ekonomi yang 7,39 persen tadi, kalau dibandingkan kota seluruh Indonesia berada pada posisi pertama. Kalau sesama kota dibandingkan, Pekanbaru posisi pertama,” ujar Guswandi.
Ia menjelaskan, terdapat tiga lapangan usaha utama yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Pekanbaru. ”Ketiganya yakni perdagangan, konsumsi, dan industri pengolahan,” ungkapnya.(yls)
Laporan M ALI NURMAN, Pekanbaru
Editor : Arif Oktafian