JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Fenomena El Nino yang masih berlangsung pada 2026 menjadi risiko perekonomian domestik. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat El Nino pada Dasarian I September berada dalam kategori sangat kuat.
"Persoalannya El Nino bukan hanya tentang perubahan cuaca. Jika tidak diantisipasi dengan baik, fenomena ini dapat memberikan tekanan baru terhadap perekonomian Indonesia terutama melalui jalur pangan dan Inflasi," ucap Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Senin (21/9).
Dijelaskannya, panas dan kering yang berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia meningkatkan risiko terhadap sektor pertanian, ketersediaan air hingga kebakaran hutan dan lahan. BMKG juga terus mengingatkan mengenai kondisi kemarau dan potensi kekeringan diberbagai wilayah sampai akhir tahun 2026.
Baca Juga: Serangan Rudal dan Drone Houthi ke Riyadh Sebabkan Harga Minyak Dunia Turun
Diperkirakannya, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) akan kembali melemah pada perdagangan Senin (21/9), setelah sebelummya ditutup melemah 5 poin menjadi Rp17.758 per dollar AS pada perdagangan Jumat (18/9).
Di sisi lain, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi oleh harga komoditas, khususnya minyak mentah dunia. Gejolak tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan inflasi Indonesia.
"Untuk perdagangan Senin (21/9), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.650-Rp.17.800," ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Baca Juga: Teknologi Parkir di Ruang Sempit hanya Pendukung, Jangan cuma Andalkan Sensor, Ini Caranya
Salah satu sentimen eksternal yang masih menjadi perhatian pasar adalah kebijakan moneter bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).
The Fed pada 16 September 2026 menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4 persen. Keputusan tersebut diambil secara bulat oleh 12 anggota Federal Open Market Committee (FOMC).
Dalam pernyataannya, The Fed menyebut inflasi masih berada pada level tinggi sehingga kebijakan tersebut diperlukan untuk mendorong inflasi kembali menuju target 2 persen.
Baca Juga: Bawa Pulang Karya Lokal! Serunya Petualangan BRIZZI ARKIV di Blok M Hub
Sikap hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh juga menjadi perhatian pasar. Warsh menilai inflasi masih terlalu tinggi dan kenaikan suku bunga diperlukan untuk mengurangi akomodasi moneter. Sikap tersebut membuka ruang bagi kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi