JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong aktivitas perdagangan berjalan beriringan dengan upaya menarik investasi. Sebab, kedua hal itu saling berkaitan dengan kegiatan produksi dan rantai pasok global.
Budi mengatakan, pemerintah terus membuka akses pasar melalui berbagai perjanjian perdagangan dengan negara mitra. Saat ini, Indonesia memiliki 25 perjanjian perdagangan yang telah diimplementasikan. Sementara itu, dua perjanjian masih dalam proses ratifikasi dan 13 lainnya masih dalam tahap negosiasi.
Perjanjian tersebut tidak hanya memberikan akses terhadap pasar negara mitra, tetapi juga menciptakan kepastian bagi pelaku usaha dalam mengembangkan perdagangan dan investasi.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Tertekan hingga Rp18.000 per Dolar AS
”Ketika banyak peluang ekspor yang terbuka, dengan sendirinya investasi datang,” kata Budi saat membuka Asian Trade, Tourism, and Economics Council (ATTEC) Global Investment Forum di Jakarta, Jumat (18/9).
Karena itu, Budi mendorong forum bisnis seperti ATTEC Global Investment Forum bisa menjadi ruang untuk mempertemukan pelaku usaha, mitra dagang, dan investor. Upaya tersebut juga diarahkan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor), Kemendag memberikan pendampingan kepada UMKM untuk memasuki pasar internasional.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, program UMKM BISA Ekspor mencatat nilai transaksi ekspor sebesar USD 347 juta. Selain pasar luar negeri, Kemendag memperluas akses produk UMKM ke pasar domestik melalui kerja sama dengan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo).(bry/gal/jpg)
Editor : Arif Oktafian