JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) belum masuk kategori industri senja. Pemerintah menyiapkan sejumlah insentif dan pembenahan dari hulu hingga hilir untuk mengembalikan daya saing sektor yang menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, industri TPT masih memiliki prospek karena pertumbuhannya berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor itu tumbuh 5,6 persen, sedangkan industri barang dari kulit dan alas kaki naik 8,25 persen. ”Ini menjadi salah satu sektor padat yang strategis,” kata Airlangga di Jakarta, Rabu (23/9).
Kontribusi industri TPT terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai sekitar 0,97 persen dengan nilai ekspor sekitar 12 miliar dolar AS. Utilisasi pabrik tekstil juga masih berada di kisaran 75 persen sehingga masih terdapat ruang untuk meningkatkan produksi.
Baca Juga: Iven Jadi Penggerak Ekosistem UMKM Pekanbaru
Meski memiliki prospek, industri TPT masih menghadapi persoalan struktural. Salah satunya harmonisasi tarif dari sektor hulu hingga hilir, termasuk biaya masuk dan kebijakan antidumping yang dikeluhkan sektor garmen.
Struktur perdagangan juga menunjukkan ketergantungan berbeda antara hulu dan hilir. Indonesia masih menjadi net importer bahan baku dengan nilai sekitar 8,4 miliar dolar AS, sedangkan ekspornya hanya 3,1 miliar dolar AS. Sebaliknya, industri pakaian jadi berada dalam posisi net exporter. Ekspornya mencapai 8,7 miliar dolar AS, sementara impor sekitar 690 juta dolar AS.
Karena itu, lanjut Airlangga, pemerintah akan mengevaluasi berbagai hambatan, termasuk kemudahan masuknya bahan baku. Di sektor hilir, pengawasan terhadap impor pakaian dalam jumlah besar juga akan diperketat. Termasuk impor pakaian bekas secara kiloan maupun balpres yang dinilai mengganggu produsen garmen dalam negeri.
Baca Juga: Genap 10 Tahun, Ayola First Point Hotel Pekanbaru Perkuat Pengalaman Tamu
Mesin Tua Jadi Sorotan
Sementara itu, perusahaan tekstil yang tengah menjalani restrukturisasi diminta segera ditangani. Presiden meminta Danantara mengambil langkah untuk mempercepat penyelesaian proses tersebut.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan, salah satu persoalan utama industri TPT adalah kondisi mesin yang sudah berusia tua. Karena itu, perbankan didorong kembali menyalurkan pembiayaan untuk peremajaan mesin.
”Dari segi perbankan, dulu tekstil dilihat. Sekarang diarahkan agar Himbara dan bank nasional lainnya memberikan pinjaman, terutama untuk perbaikan mesin-mesin yang sudah cukup tua,” paparnya.
Baca Juga: Dayton Masuk Indonesia, Hadirkan Ban Andal untuk Aktivitas Harian
Selain pembiayaan, pemerintah juga mempertimbangkan insentif fiskal untuk mendorong investasi. Salah satunya adalah menghidupkan kembali fasilitas bagi investasi di sektor tekstil.
Danantara juga menyiapkan konsep kawasan industri tekstil terintegrasi dari hulu hingga hilir. Integrasi tersebut diharapkan meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mempercepat adopsi teknologi.
Kebijakan tersebut akan dikoordinasikan lintas kementerian dan lembaga di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Investasi, Danantara, serta BP BUMN akan terlibat.(mim/dio/jpg)
Editor : Arif Oktafian