PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Wali Kota (Wako) Pekanbaru H Agung Nugroho SE MM menegaskan pemerintahannya terus melakukan pembenahan kota sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan yang diwariskan dari periode sebelumnya. Salah satu yang menjadi perhatian adalah penyelesaian kewajiban utang daerah yang nilainya mencapai sekitar Rp470 miliar.
Penyelesaian utang tersebut dilakukan di tengah kondisi fiskal daerah yang menghadapi berbagai tekanan. Di saat anggaran daerah relatif stagnan, Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru juga harus berhadapan dengan pemotongan dana transfer dari pemerintah pusat.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat pemerintah kota menghentikan program pembenahan pelayanan publik. Sejak Wako Agung Nugroho bersama Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar mulai memimpin pada Februari 2025, pemerintah kota mengarahkan perhatian pada persoalan-persoalan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: SPPD DPRD Kuansing Dianggarkan Rp10,4 M
Agung mengatakan, setelah tahapan kontestasi politik berakhir, pemerintah harus kembali fokus bekerja dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Berbagai sektor yang menjadi kebutuhan dasar warga pun terus dibenahi secara bertahap. “Jalan dibaguskan, anak sekolah diurusin, kesehatan ditingkatkan penjaminannya. Pertemuan dan silaturahmi juga kami lakukan,” ujar Agung, Kamis (23/9).
Menurutnya, pembangunan dan pelayanan publik harus berjalan beriringan dengan penataan keuangan daerah. Karena itu, Pemko Pekanbaru tidak hanya mengalokasikan anggaran untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan kebersihan, tetapi juga berupaya menyelesaikan kewajiban finansial yang masih menjadi beban pemerintah daerah.
Salah satu langkah penting yang berhasil dilakukan adalah melunasi utang daerah yang sebelumnya mencapai sekitar Rp470 miliar. Agung menjelaskan, penyelesaian utang tersebut tidak terlepas dari upaya pemerintah kota mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Baca Juga: Target PAD di RAPBD-P Rohul 2026 Naik Jadi Rp283,2 M
Optimalisasi pendapatan menjadi salah satu strategi agar ruang fiskal yang tersedia dapat dikelola lebih efektif untuk memenuhi kewajiban sekaligus membiayai berbagai kebutuhan pembangunan. “Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi pengoptimalan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sehingga alokasi anggaran dapat dialihkan secara efektif untuk membiayai pembenahan fasilitas publik,” jelasnya.
Di sisi lain, peningkatan pendapatan daerah dan aktivitas pembangunan juga diarahkan agar memberikan efek langsung terhadap perekonomian masyarakat. Agung menyebut, salah satu indikatornya terlihat dari pertumbuhan ekonomi Pekanbaru yang mencapai 7,39 persen pada triwulan II 2026. Angka tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi di Kota Pekanbaru terus bergerak di tengah berbagai tantangan fiskal yang dihadapi pemerintah daerah.
Bagi Agung, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya ditopang oleh investasi yang bersifat padat modal. Pemerintah kota, menurutnya, perlu memastikan aktivitas pembangunan juga membuka ruang partisipasi bagi masyarakat dan memberikan dampak terhadap ekonomi warga.
Baca Juga: Indonesia Rentan Serangan Fraud, BI Ingatkan Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan
“Pertumbuhan ekonomi Pekanbaru didorong oleh pendekatan padat karya yang melibatkan partisipasi aktif warga, bukan sekadar investasi padat modal yang manfaatnya terbatas pada lingkup tertentu. Aktivitas ekonomi yang menyentuh langsung masyarakat bawah menjadi kunci utama dalam menggerakkan perekonomian daerah,” terangnya.
Karena itu, berbagai program pemerintah diarahkan agar tidak berhenti pada pembangunan fisik maupun pencapaian angka pertumbuhan ekonomi. Perputaran ekonomi di tingkat masyarakat juga menjadi bagian yang diperhatikan pemerintah kota.
Salah satunya melalui pembayaran Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi aparatur sipil negara (ASN). Pemko Pekanbaru terus mendorong agar pembayaran TPP dapat berjalan lancar sehingga daya beli dan aktivitas konsumsi masyarakat tetap terjaga.
Baca Juga: Sumur RECO#4 Berproduksi 1.528 BOPD, PHR Optimalkan Kembali Lapangan Idle
Agung juga mendorong para pegawai untuk membelanjakan penghasilannya di dalam Kota Pekanbaru. Dengan demikian, uang yang beredar dari penghasilan ASN diharapkan kembali berputar di dalam daerah dan memberikan dampak lanjutan bagi pelaku usaha, termasuk UMKM lokal.
Langkah tersebut diharapkan menciptakan efek berganda terhadap perekonomian. Ketika daya beli masyarakat terjaga dan transaksi berlangsung di dalam kota, maka pelaku usaha lokal juga memperoleh manfaat dari perputaran uang tersebut.
Agung menegaskan, capaian penyelesaian utang maupun berbagai program pembangunan yang berjalan bukan merupakan hasil kerja pemerintah kota semata. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh jajaran pemerintahan dan dukungan masyarakat.
Baca Juga: Promo Lelang Produk Samsung Rp500 Ribu di Toko Ponsel di Pekanbaru Ini
“Keberhasilan pelunasan utang dan percepatan pembangunan ini merupakan hasil kerja keras bersama seluruh elemen, mulai dari kepala OPD, camat, lurah, ASN, hingga dukungan masyarakat,” tegas Agung. Ia mengatakan, pemerintahannya akan terus mengarahkan kebijakan pembangunan agar memberikan manfaat yang bisa dirasakan masyarakat secara langsung.
Agung berharap berbagai program yang telah dijalankan tidak hanya menghasilkan angka-angka capaian dalam laporan pemerintah, tetapi benar-benar berdampak terhadap kehidupan warga.
Dengan demikian, penyelesaian kewajiban keuangan daerah, pembenahan infrastruktur, peningkatan pelayanan pendidikan dan kesehatan, pengelolaan kebersihan, serta penguatan aktivitas ekonomi dapat berjalan beriringan untuk memperbaiki kondisi Kota Pekanbaru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga: Telkomsel Luncurkan Halo Optima Kuota hingga 2.000 GB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekanbaru Guswandi SST menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Pekanbaru sebesar 7,39 persen pada Triwulan II 2026 dipengaruhi oleh sejumlah lapangan usaha dan komponen pengeluaran.
Jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia, pertumbuhan tersebut menempatkan Pekanbaru pada posisi pertama. “Pertumbuhan ekonomi yang 7,39 persen tadi, kalau dibandingkan kota seluruh Indonesia berada pada posisi pertama. Kalau sesama kota dibandingkan, Pekanbaru posisi pertama,” ujar Guswandi.
Ia menjelaskan, terdapat tiga lapangan usaha utama yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Pekanbaru. Ketiganya yakni perdagangan, konsumsi, dan industri pengolahan. Menurut Guswandi, sektor perdagangan dan industri pengolahan memiliki karakteristik yang melibatkan banyak masyarakat.
Baca Juga: Industri dan Produk Tekstil Masih Miliki Prospek
Salah satu contohnya adalah industri pengolahan makanan dan kue yang berkembang di tingkat rumah tangga. “Contohnya industri pengolahan kue. Begitu banyak ibu-ibu kita di setiap RT yang kadang-kadang menjalankan usaha seperti itu. Sehingga pertumbuhan ekonomi yang ada di kita dinikmati juga oleh lebih banyak orang daripada yang padat modal tadi,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Pekanbaru tidak hanya ditopang oleh kegiatan usaha berskala besar. Aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat bawah turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan nilai ekonomi daerah.
Selain dari sisi lapangan usaha, Guswandi mengatakan, pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi komponen pengeluaran. Salah satu yang memberikan dorongan adalah belanja pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Baca Juga: Genap 10 Tahun, Ayola First Point Hotel Pekanbaru Perkuat Pengalaman Tamu
Dalam konteks Pekanbaru, belanja pemerintah daerah untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur menjadi salah satu faktor yang ikut menggerakkan perekonomian.
“Kalau dari sisi pengeluaran, salah satu yang memengaruhinya adalah belanja pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Kota Pekanbaru. Seperti perbaikan jalan, pengeluaran yang dikeluarkan untuk perbaikan jalan itu juga ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru,” ungkapnya.
Ia menambahkan, BPS berperan dalam memotret kondisi perekonomian daerah melalui data statistik. Data dari berbagai sektor tersebut kemudian menjadi bagian dari proses perumusan angka pertumbuhan ekonomi secara nasional.
Baca Juga: Aryaduta Pekanbaru Perkuat Kolaborasi dengan Pelaku Industri Event
Menambahkan Kepala BPS Pekanbaru, Wako Agung menegaskan, capaian pertumbuhan ekonomi Pekanbaru tidak dapat diklaim sebagai hasil kerja pemerintah semata. Menurutnya, angka tersebut merupakan gambaran dari aktivitas seluruh sektor masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah yang bergerak secara bersamaan.
Ia juga menjelaskan, BPS memiliki peran sebagai lembaga yang memotret kondisi ekonomi daerah berdasarkan data yang tersedia. Selanjutnya, data tersebut dikirimkan kepada pemerintah pusat untuk dilakukan perumusan dan penghitungan secara nasional.
“Intinya, ini tidak tentang hanya pemerintah saja, tapi digerakkan oleh seluruh sektor masyarakat yang ada di Kota Pekanbaru,” tegas Agung. Ia mengatakan, keberhasilan menjaga pertumbuhan ekonomi juga sangat bergantung pada kemampuan daerah menciptakan iklim yang nyaman bagi investasi dan aktivitas konsumsi masyarakat.
Baca Juga: BRI Private Gandeng Siloam Hospitals, Hadirkan Medical Check Up Eksklusif
Menurutnya, Pekanbaru memiliki posisi strategis sebagai pusat perdagangan dan jasa di Riau. Banyak masyarakat dari luar kota, termasuk mereka yang memiliki usaha perkebunan di daerah lain, datang ke Pekanbaru untuk memenuhi kebutuhan belanja dan menikmati berbagai fasilitas yang tersedia.
“Bahkan, Kota Pekanbaru adalah kota yang nyaman untuk mereka berinvestasi dan juga untuk melakukan pembelanjaan. Ini yang harus kita jaga,” katanya.
Agung mencontohkan, masyarakat yang memiliki perkebunan kelapa sawit di luar Kota Pekanbaru tetap menjadikan Pekanbaru sebagai pusat aktivitas ekonomi dan konsumsi. Infrastruktur yang semakin baik serta tersedianya berbagai pusat perdagangan, kuliner, dan fasilitas publik menjadi daya tarik tersendiri.
“Ada orang punya duit yang punya perkebunan sawit di luar kota, belanjanya di Pekanbaru. Karena jalan-jalan ke Pekanbaru bagus, ada tempat-tempat yang enak dinikmati,” tuturnya.
Baca Juga: Turun Tipis, Harga Kelapa Sawit Mitra Rp3.948/Kg
Karena itu, Agung menilai capaian pertumbuhan ekonomi 7,39 persen harus menjadi momentum bagi Pemko Pekanbaru untuk terus menjaga kualitas pelayanan publik. “Juga memperbaiki infrastruktur, memperkuat daya beli masyarakat, serta menciptakan ruang usaha yang semakin terbuka bagi masyarakat,” tegasnya.(ali)
Editor : Arif Oktafian