JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen luar dan dalam negeri. Hal itu dikatakan Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi.
"Dua pengaruh itu akan menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan melemah pada perdagangan Senin (28/9). Sebelummya rupiah ditutup menguat 13 poin menjadi Rp17.903 per dollar AS pada perdagangan Jumat (25/9)," ujarnya, Senin (28/9).
Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia (BI) diharapkan mampu meredam tekanan terhadap perekonomian dan menjaga stabilitas rupiah.
Baca Juga: Manusia Pemakan Bangkai
Makanya BI diminta mengoptimalisasi pertumbuhan ekonomi dengan memaksimalkan instrumen kebijakan fiskal dan moneter secara terpadu untuk menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah juga diharapkan mendalami pasar keuangan dengan mempercepat pengembangan pasar uang untuk memperlancar transmisi kebijakan sekaligus memperluas basis pembiayaan pertumbuhan ekonomi.
"Sektor penguatan eksternal untuk menjaga stabilitas dari potensi gejolak eksternal harus dilakukan, khususnya yang berasal dari perdagangan dan aliran modal asing (capital inflows)," ingatnya.
Baca Juga: Dari Selatpanjang, Kapolres Bersama Istri Boyong Anak SLB Nonton Film Istimewa di Bioskop Pekanbaru
Inflasi harus dikendalikan melalui penguatan koordinasi penanganan antara pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID).
Lakukan juga pengelolaan likuiditas perekonomian dengan memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang, perbankan, dan sektor riil. Langkah ini juga mencakup respons terhadap dinamika perebutan dana yang dapat memicu kenaikan biaya dana atau cost of fund.
Dari luar Ibrahim mengatakan, ada beberapa sentimen yang masih menjadi perhatian pasar. Hal itu seperti perkembangan hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, arah kebijakan moneter bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan harga energi global.
Baca Juga: Irvandi Gustari Kembali Pimpin Himpunan Alumni Sekolah Bisnis IPB Periode 2026–2030
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi, Washington dan Beijing sepakat memperpanjang gencatan senjata perdagangan hingga 10 Januari 2027. Presiden AS Donald Trump juga menjamu pemimpin Tiongkok Xi Jinping dalam jamuan makan malam kenegaraan. Keduanya turut membahas kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Walau demikian, sentimen positif dari hubungan AS-Tiongkok masih dibayangi oleh arah kebijakan The Fed. Sejumlah pejabat The Fed membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan apabila tekanan inflasi belum kembali ke target.
Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, menyatakan bahwa bank sentral perlu mengembalikan inflasi ke tingkat target. Sementara Presiden The Fed wilayah Cleveland, Beth Hammack, memperingatkan bahwa semakin lama inflasi bertahan tinggi, semakin sulit untuk mengembalikannya ke target.
Baca Juga: Jelang Laga Lawan Malaysia, Ragnar Oratmangoen, Dean James, dan Emil Audero Meragukan Bisa Tampil
"Klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 19 September, di bawah ekspektasi pasar sebesar 201.000. Kondisi tersebut menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Fed," urainya.
Makanya tekanan terhadap rupiah juga datang dari data ekonomi AS yang relatif kuat. Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global AS menunjukkan PMI Komposit September berada di level 58,4, atau menjadi level tertinggi dalam lima tahun.
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi