JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Pada perdagangan Kamis (1/10), nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah sebesar 71 poin. Satu dollar AS dihargai dengan Rp17.965.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan itu juga akan terjadi pada perdagangan Jumat (2/10). Penyebabnya, sentimen dalam negeri.
Pasar akan bergerak hati-hati. Kembalinya aktivitas manufaktur ke zona ekspansi dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,4 di September 2026 atau mengalami ekspansi.
Baca Juga: Timnas Indonesia Jumpa Thailand di Final FIFA ASEAN Cup, John Herdman: Terima Kasih Suporter
"PMI berbalik arah dari sebelumnya fase kontraksi 49,8 di Agustus 2026. Indeks PMI di September yang mencapai 52,4 adalah yang tertinggi sejak Februari 2026 atau tujuh bulan," ujarnya.
Impor Indonesia tercatat sebesar USD 23,06 miliar, naik 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025. Demikian pula dengan impor nonmigas naik 17,20 persen menjadi USD 19,53 miliar.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami suplus USD 3,55 miliar per Agustus 2026. Surplus ini ditopang oleh kinerja ekspor Indonesia yang mencapai USD 26,61 miliar melampaui nilai impor USD 23,06 miliar per Agustus 2026.
Baca Juga: Saksi Dua Kali Dengar Suhardiman Amby Minta Mobil LC, Sidang Korupsi Sekda Kuansing
Dikatakannya, data BPS, ekspor Indonesia meningkat terutama didorong oleh sejumlah komoditas antara lain nikel yang naik 51,67 persen secara tahunan dan alumunium yang meroket hingga 206,78 persen secara tahunan pada Agustus 2026.
Kemudian, Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali meningkat pada September 2026. Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi dan sejumlah bahan pangan menjadi salah satu sumber tekanan terbesar.
Sumber: Jawapos.com