JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Target pertumbuhan ekonomi 6 persen tahun depan membutuhkan mesin pertumbuhan yang lebih kuat. Pemerintah menempatkan konsumsi dan investasi sebagai penopang utama, dengan APBN dan Danantara diharapkan bergerak beriringan untuk mengerek investasi hingga sekitar 7 persen.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, konsumsi rumah tangga perlu tumbuh di atas 5,4 persen. Konsumsi pemerintah juga ditargetkan tumbuh lebih dari 5,6 persen. Sementara itu, investasi diharapkan mampu tumbuh sekitar 7 persen melalui sinergi APBN dan Danantara.
Menurut Suahasil, kolaborasi tersebut penting karena kedua institusi memiliki fungsi berbeda, tetapi sama-sama menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Pemerintah Cari Pasokan Minyak ke Negara Surplus
”Lengan APBN bekerja untuk pelayanan publik, infrastruktur publik, perlindungan sosial, operasional pemerintah dan layanan publik pemerintahan. Danantara adalah konsolidasi aset, bekerja untuk investasi,” jelasnya di Jakarta kemarin (8/10).
Suahasil menjelaskan, investasi melalui APBN lebih diarahkan pada pembangunan infrastruktur dasar dan kebutuhan publik. Sementara itu, Danantara diharapkan menjalankan fungsi investasi katalis yang mampu menarik pelaku usaha dan investor swasta.
Dengan skema tersebut, investasi negara tidak berhenti pada belanja pemerintah. Investasi Danantara diharapkan menciptakan efek lanjutan sehingga sektor swasta ikut masuk dan memperbesar aktivitas ekonomi. ”Investasi dari Danantara adalah investasi katalis. Bekerja untuk memastikan, meyakinkan kelompok pelaku usaha dan perekonomian, ayo bekerja bareng, bersama-sama,” tuturnya.
Baca Juga: Pemerintah Cari Pasokan Minyak ke Negara Surplus
Dividen Tak Masuk Kas Negara
Di sisi lain, pemerintah memastikan dividen Danantara belum diperhitungkan sebagai sumber penerimaan APBN. Suahasil menyebut tidak ada setoran dividen Danantara dalam APBN 2026 maupun persiapan APBN 2027.
Menurut Suahasil, kontribusi Danantara tidak semata-mata diukur dari besarnya dividen yang disetorkan kepada negara. ”Dividen Danantara yang paling penting adalah pekerjaan Danantara. Apa saja agenda kerja, apa saja proyek yang mau dilakukan. Apa saja aktivitas yang didesain dan akan dilaksanakan di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Itulah dividen Danantara yang paling utama,” tambahnya.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengatur (BP) BUMN Dony Oskaria menambahkan, dividen yang diterima Danantara memang dirancang untuk kembali diinvestasikan. Pengelolaan tersebut dilakukan melalui Danantara Asset Management (DAM) dan Danantara Investment Management (DIM).
Baca Juga: PNM Dorong UMKM Riau Naik Kelas Berbasis Budaya Lokal
”Skema sebagian keuntungan disetorkan ke kas negara tidak menjadi bagian dari rencana pengelolaan Danantara,” tegasnya.
Danantara dan APBN, lanjut Dony, sama-sama merupakan instrumen negara dengan fungsi berbeda. APBN menopang kebutuhan dasar seperti infrastruktur dan kesehatan, sedangkan Danantara mengelola investasi dan aset BUMN. ”Pada dasarnya dua-duanya negara. Danantara itu 100 persen punya negara, bukan punya orang lain,” ujarnya.(mim/dio/jpg)
Editor : Arif Oktafian