Rupiah Diprediksi Kembali Tertekan, Penyebabnya Konflik AS-Iran yang Masih Memanas

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 09:51 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dollar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dollar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran serta arah kebijakan suku bunga bank sentral Negeri Paman Sam, Federal Reserve (The Fed), membuat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS makin tertekan.

Pada perdagangan Jumat (9/10), rupiah ditutup menguat sebesar 16 poin menjadi Rp17.899 per dolar AS. Namun diprediksi tukar rupiah akan kembali melemah pada perdagangan Senin (12/10).

Hal itu disampaikan Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Senin (12/10). "Pergerakan mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah direntang Rp17.780-Rp 18.060," ujarnya.

Baca Juga: Festival Tring Pegadaian Disambut Antusias, Hadirkan Adrian Khalif di Living World Pekanbaru

Pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Washington tengah melakukan "diskusi produktif" dengan Iran jadi perbincangan hangat. "Tidak ada rencana serangan terhadap Iran sebelum pemilihan umum sela Kongres AS pada 3 November mendatang," katanya Kamis (8/10). Trump juga mempertimbangkan serangan terhadap Iran sebelum tanggal tersebut.

Iran pun langsung bereaksi. Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi tengah meninjau tanggapan AS terhadap usulan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.

AS masih memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran untuk mengakhiri konflik yang telah memasuki bulan kedelapan. Pada Kamis (8/10), Washington menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah individu, jaringan, serta 17 kapal yang mengangkut minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia asal Iran.

Baca Juga: Hujan Turun di Wilayah Kuansing, Udara Mulai Sedikit Membaik

Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal itu jelas memengaruhi pergerakan rupiah. Pasar masih melihat perkembangan konflik AS dan Iran serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga energi global dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan.

Sementara dari sisi kebijakan moneter, Gubernur The Fed Christopher Waller pada Kamis (8/10) menyatakan, kenaikan suku bunga lebih lanjut masih diperlukan. Namun, dia menegaskan tetap fleksibel dalam menentukan kecepatan penyesuaian suku bunga.

Baca Juga: Lebah, Lalat, dan Laron

Waller menilai kondisi pasar tenaga kerja AS pada September masih kokoh dan stabil meskipun pertumbuhan penciptaan lapangan kerja melambat. Di sisi lain, tingkat inflasi dinilai masih terlalu tinggi.

Sumber: Jawapos.com

Editor : Rinaldi
Konflik AS-Iran rupiah tertekan the fed nilai tukar rupiah