Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Berhaji Jalur Darat, Jambi-Batam: Persiapan Menuju Malaysia (4)

Redaksi • Sabtu, 10 September 2011 | 14:00 WIB
Begitu tiba di Jambi, hal pertama yang saya cari tahu adalah soal kepastian jadwal pemberangkatan ferry dari Pelabuhan Kuala Tungkal, ibu kota Tanjung Jabung Barat, menuju Pulau Batam.

Itu memudahkan perencanaan perjalanan agar tak terlalu lama di Jambi karena harus secepatnya sampai di Batam untuk bersiap meninggalkan Tanah Air menuju Malaysia, terus ke Thailand.

Apalagi, jarak Kota Jambi dengan Kuala Tungkal cukup jauh, sekitar 130 Km atau sekitar 3 jam perjalanan.

Berdasar informasi dari rekan-rekan Jambi Ekspres (Jawa Pos Group) setelah mengontak wartawan yang ada di Kuala Tungkal, keberangkatan kapal dua hari sekali. Akhirnya, diperoleh kabar, kapal besok (Rabu, 8/8) berangkat pukul 10.30 WIB.

Sebelum pukul 04.00, saya sudah bersiap di depan hotel, menunggu mobil pengangkut koran Jambi Ekspres yang akan membawa saya. Itu adalah mobil ekspedisi yang tiap hari digunakan untuk mendistribusikan koran kepada pembaca di Kuala Tungkal.

Rencananya, saya dijemput pukul 04.30. Tapi, karena lampu depan tiba-tiba mati dan tak bisa diperbaiki seketika, baru pukul 05.30 mobil tiba.

‘’Sorry, Mas, mendadak lampunya mati. Nanti kalau terlalu pagi bahaya karena gelap,’’ ujar Malik, bagian pemasaran koran Jambi Ekspres.

Sebagai penggantinya, dinyalakan lampu dim darurat. Meski sudah pukul 05.30, suasana Kota Jambi masih sedikit gelap karena cuaca agak berkabut.

Hari itu Malik membawa sekitar 2.000 eksemplar koran Jambi Ekspres untuk pembaca Kuala Tungkal dan sekitarnya.  

Sekitar 35 Km dari Kota Jambi ke arah Kuala Tungkal yang merupakan jalan lintas timur menuju Riau jalannya lebar dan mulus. Tapi, setelah itu, sebagian jalan ke arah Kuala Tungkal rusak, berlubang di sana sini, dan relatif sempit.

Sepanjang perjalanan, banyak dijumpai aktivitas masyarakat mengumpulkan buah kelapa di sungai. Yakni, setelah memetik kelapa di kebun, para petani tak perlu repot-repot membawa pulang.

Mereka cukup menghanyutkan buah kelapa itu ke kali-kali kecil, lalu mencegat di dekat rumahnya, di dekat jalan. Benar-benar praktis.

Sampai di Kuala Tungkal yang merupakan ibu kota Kabupaten Tanjung Jabung Barat, suasananya belum begitu ramai. Meski Kuala Tungkal hanya merupakan ibu kota kabupaten, perannya begitu sentral, bahkan pernah mengalahkan Jambi yang juga ibu kota Provinsi Jambi sebagai pusat perdagangan di Provinsi Jambi.

Saat kami tiba di pelabuhan, ferry masih belum terlihat. Seorang petugas kesyahbandaran mengatakan, hari itu tak ada penyeberangan. ‘’Baru besok (Kamis, 9/8) ada pemberangkatan sekitar jam 11.00,’’ terang petugas tadi.

Oala, ternyata informasinya keliru. Ya, terpaksa kami menginap di Kuala Tungkal karena untuk balik ke Jambi jadi tak efisien. Selain jaraknya cukup jauh, itu buang-buang waktu. Lumayan, ada waktu istirahat sehari di Kuala Tungkal. Sebab, saat di Jambi kami tak bisa beristirahat.

Kota Kuala Tungkal memusat di sekitar pelabuhan dan tak beraturan. Deretan toko bertebaran di jalan-jalan yang tak begitu besar. Bahkan, terminalnya tergolong kecil.

Sedang pusat pemerintahan seperti kantor Pemkab terpisah dari pusat pertokoan, namun tak terlalu jauh. Baru esoknya kami bersiap meninggalkan Kuala Tungkal menuju Pulau Batam dengan menumpang ferry.

Tiba di pelabuhan pukul 10.00 (9/8), terlihat anak buah kapal (ABK) sibuk memasukkan barang penumpang dan kargo.

Ferry terbuat dari fiber glass cukup bagus dan full AC. Dengan kapasitas 150 penumpang, hari itu hanya terisi separuh. Jadinya banyak bangku yang kosong.

Kapal mulai meninggalkan Kuala Tungkal menuju Pulau Batam. Setengah jam pelayaran, ombak terasa bersahabat dan kapal terasa nyaman. Tapi, begitu memasuki perairan terbuka, ombak mulai tinggi.

Saya yang duduk paling depan nomor dua merasa hempasan ombak begitu kuat. Setelah berlayar selama 3,5 jam, kapal singgah di Pelabuhan Sungai Guntung, masuk Kepulauan Riau.

Selain menurunkan penumpang, banyak penumpang yang naik dari tempat itu. Kapal bergerak lagi menuju Pelabuhan Pulau Burung, selanjutnya ke Pelabuhan Tanjung Batu.

Setelah berlayar sekitar 7,5 jam, kapal merapat di Pelabuhan Sekupang, Batam, pukul 18.00. Hari mulai gelap.(c4/kum/jpnn) Editor : RP Redaksi