Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

The Seven Ghost Itu adalah Bono

Redaksi • Minggu, 9 Oktober 2011 - 10:35 WIB
Laporan SAID MUFTI, Kuala Kampar  saidmufti@riaupos.com

Rabu 28/09 dini hari ombak disertai suara gemuruh menghantam sisi penginapan Mega Lestari. Sekilas ombak yang lebih akrab dengan nama Bono ini mengigatkan datangnya tsunami yang melanda Aceh.

Sungai Kampar yang semula tenang berubah gemuruh dengan air, yang terdengar menghempas apa saja yang menghalangi datangnya arus Bono.

Malam itu kampung yang penerangannya serba terbatas mengadakan pagelaran seni, tetabuhan dan alunan musik tradisional. Alunan musik itu terdengar menyambut kedatangan pejabat negeri yang di wakilkan.

Antusias warga yang memang haus akan hiburan tetap terlihat, meski acara sempat tertunda lama akibat guyuran hujan lebat. Saat sekarang Kecamatan Teluk Meranti tidaklah sebagai perkampungan yang sepi. Memang penerangan hanya mereka dapatkan di waktu malam saja hingga pukul 07.00 WIB pagi.

Setelah itu warga hanya hidup tanpa bantuan listrik meski beberapa rumah menggunakan daya genset. Dengan penerangan di malam hari Teluk Meranti terasa lebih hidup ditambah dengan kehadiran bule bule luar negeri yang kadang tingkah polahnya aneh-aneh namun lucu.

Sudah tiga hari ini kampung Teluk Meranti terlihat hidup. Kedatangan tujuh wisatawan mancanegara yang datang dari Jerman, Belanda, Belgia dan Selandia Baru.

Meski masih terlihat sopan tanpa menggunakan cawat hanya bercelana pendek dan kaos khas para surfer (peselancar).

Bule-bule ini ke mana-mana tetap cekeran alias tanpa menggunakan alas kaki. Jika siang hari mereka habiskan dengan membaca berbagai macam novel dan beragam buku tentang jurnal berselancar. Itu terlihat di atas meja penginapan yang mereka gunakan setiap siangnya sebagai tempat untuk bersantai.

Sorenya mereka mengajak anak-anak tempatan untuk bermain bola di lapangan bola yang ada di tengah perkampungan, dan sekali lagi tetap cekeran. Puluhan anak melayani permainan mereka tak ayal ini menjadi tontonan warga setempat sebagai bahan gelak tawa.

Dan sore itu ada salah satu rumah warga yang mengadakan acara pernikahan. Ketika bule-bule itu melewati rumah warga mengadakan acara, para bule diajak untuk singgah sebentar mencicipi pengananan khas yakni pulut kuning dan abon ikan.

Usai bermain bola mereka pun nyebur ke sungai dan itu pun masih di temani anak anak kecil tempatan. Keramahan warga Teluk Meranti tergambar jelas bagi setiap tamu yang datang ke kampung itu.

Kedatangan warga asing bukanlah kali pertama bagi warga Kecamatan Teluk Meranti. Belakangan Kampung yang berada di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau menjadi pembicaraan di berbagai situs resmi para penghobis olahraga berselancar.

Bono atau ombak besar aneh akibat dua pertemuan arus, yang semestinya berada lautan biru dapat dengan mudah di temukan di bentangan sungai Kampar ini.

Masyarakat sekitar sudah terbiasa dengan jadwal kedatangan ombak ini tanpa harus merasakan delay seperti menunggu kedatangan penerbangan. Ketika pasang mati (bulan kecil) Bono bisa di katakan tidak ada.

Meski ada itupun kecil, ombak ini datang bersama air pasang baik siang ataupun malam.

 Terutama pada musim bulan penuh antara tanggal 10 samapai 20 bulan Melayu (Arab). Kedatangannya bisa dirasakan disaat malam dini hari atau pada pukul 12.00 WIB di waktu siang.

Terlepas dari mitos yang berkembang di masyarakat Teluk Meranti. Kini kehadiran Bono menjadi sesuatu yang membuka pikiran masyarakat setempat bahwa sesuatu yang selama ini ditakutkan dapat dengan mudah ditaklukkan.

Hanya dengan mengunakan sebongkah papan yang menjadi hiburan bagi warga asing, mereka dengan leluasa bermain dan tertawa di atas ganasnya ombak.

Pagi itu Rabu (28/9) pukul 09.00 WIB, lima warga asing yang terdiri dari David Baladec dan istrinya Lynn Wanie asal Jerman, Edwin Suzor, Geofroy Moreno asal Perancis, Paul dari Selandia baru, Gerrard dari Belgia dan Tom Scroder asal Belanda kembali membawa papan papan surfing. Mereka pagi itu langsung menuju kapal boat karet yang mereka beri nama Bono Surf.

Setelah sehari sebelumnya mereka juga berburu Bono meski kecil, Riau Pos yang mendapat kesempatan melihat lebih dekat. Hal ini berkat ajakan Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Riau juga ikut melihat aksi mereka di atas ombak Bono.

Meski rada telat karena menunggu jemputan speed boat yang sudah dipersiapkan kami pun harus molor turun ke Sungai Kampar hingga pukul 10.30 WIB.

Satu speed boat ditumpangi awak fotografer media lokal, satu media televisi nasional. Beberapa teman dari majalah nasional Tourism berkesempatan ikut, walaupun tak menggunakan speed boat melainkan kapal tempel dengan bermesin satu yang berdinding kayu.

Sempat ragu dengan kondisi transportasi, kami tetap melakukan peliputan, hingga perjalanan mengikuti hulu Sungai Kampar.

Perjalanan kami yang terpaut jauh dengan kepergian bule bule itu membuat jarak lintasan kami dan lokasi di mana para bule-bule surfer bermain terentang jauh. Kabarnya mereka memilih bermain di arus besar yang terdapat di Teluk Muda yang memiliki potensi ombak hingga empat meter.

Di saat kapal kayu kami akan menuju Teluk Muda, pengemudi boat berhenti ketika ada pengguna pompong dari arah berlawanan yang juga masyarakat setempat berbalik arah. Dari pembicaraan mereka pemilik pompong mengatakan bahwa ombak Bono akan segera datang. “Elok tak usah lanjut lai. Bono kojab gi tibo. Elok ke topi lu, (bagus tak usah di lanjutkan dulu. Sebentar lagi ombak bono datang, red),” ujar Husni pengemudi pompong.

“Biasaonyo tanda tu tampak dari air yang mulai surut ke atas dan air pun mulai agak berbuih macam menggelegak, nah biasanya itu tanda Bono sekejap lagi pasti tibo, urang bule tu biasonyo menunggu bono sambil beronang di sungai menunggu ombak. Dulu pernah ado bule yang hilang tasapu Bono. Kami sangko lah hilang, ruponyo masih selamat tesangkut di antara semak-semak di tepi sungai,” tambah Husni.

Kami pun merapat ke tepian. Tepi sungai yang berjejak menganga bekas hantaman Bono. Kami bersabar menunggu aba-aba dari pengemudi kapal didampingi oleh Ikhsan, seorang teman baru yang menemani kami selama meliput aksi ombak Bono di Teluk Meranti.

Tak sampai 15 menit, benar saja gemuruh ombak terdengar, padahal jaraknya sangat jauh. Garis ombak yang tak terlalu putih terlihat jelas di ujung belokan terusan. Aba-aba dari Ikhsan dan pengemudi kapal agar kami bersiap pun diberikan.

Kami pun kembali naik ke atas kapal. Salah satu penumpang wanita di kapal pompong yang tadi bersama kami di atas tepian sungai bertanya kepada penumpang lain. ‘’Ke mana kami akan pergi?’’

Yang ditanya malah menjawab, mereka nak mengejar Bono untuk melihat para bule bermain ombak Bono. Dengan bahasa daerahnya ia berteriak .

“Usah dikojo Bono tu, nak cai mati kliannn! (usah di kejar Bono, mau mati kalian, red),’’ sambil berteriak. Kamipun tersenyum meski hati mulai was-was karena ini kali pertama buat saya meliput datangnya Bono.

Apalagi di perairan meski kami sudah terlebih dahulu dipersiapkan oleh Disbudsenipar propinsi dengan pelampung. Kapal untuk meliput aksi para surfer mulai bergerak, biar selamat hati ini tetap berdoa semoga tidak ada kejadian apa apa yang menimpa kami.

Kapten kapal kami memilih mundur untuk mengambil jarak aman. Hingga tiga kali ia memilih mundur menghindar kejaran ombak Bono.

Saat merasa aman ia mengambil jalur yang sedikit rendah gelombangnya dan kamipun bersiap dengan hantaman gelombang ombak pertama. Gemuruh ombak semakin terlihat mendekat garis ombak yang mulai berwarna kecoklatan di iringi suara gemuruh sesekali di sertai titik kilat di antara gulungan ombak.

Titik itu berpindah-pindah setelah jarak ombak terasa mendekat dari lensa tele kamera terlihat para surfer berliuk liuk di antara gelombang Bono. Buih ombak dari kanan sungai membawa peselancar di ujung ombak, semakin jelas salah satu surfer Lynn Wanie, surfer wanita asal Jerman bermain di antara gulungan ombak.

Wanita yang berprofesi sebagai dokter ini datang ke lokasi Bono ditemani sang suami, David Baladec, yang juga warga negara Jerman.

Peselancar mulai terlihat jelas di depan kami dan satu perahu karet mengikuti mereka. Karena ombak bono yang jumlahnya banyak terkadang membuat peselancar jatuh dari papannya, dan pengemudi perahu karet menjemput mereka untuk naik kembali ke atas perahu. Guna kembali mencari ombak baru, mereka berlalu sambil melambaikan tangan.

Sedangkan Paul, bule asal Selandia Baru yang merekam aksi teman teman mereka terlihat asik dengan peralatan rekamannya. Mereka berlalu kencang sambil berlalu meninggalkan kami mengejar ombak di depan.

Sementara kami masih terombang-ambing dihantam ombak pertama. Ombak memecah membuat arus tak menentu hantaman dari kanan kiri membuat kami terhuyung-huyung di dalam kapal. Jauhnya jarak pengambilan gambar membuat kami sempat putus asa ketika pengemudi kapal tempel yang kami tumpangi mengejar perahu karet si bule dkk.

Keraguan dengan jumlah penumpang yang lebih membuat dia mengambil keputusan tidak mengejar ombak untuk lebih dekat menuju Bono.

Pada saat itu ada pengendara kapal tempel kosong yang juga akan menuju ke arah Teluk Meranti dengan bawaaan tanpa penumpang berhenti di sisi kiri kapal kami. Ditanya apakah bisa membawa kami, anak muda bernama Khairil itu mengiyakan sambil tersenyum. Kami sempat ragu dengan umur pengemudi yang masih tergolong muda. Tapi sudahlah, mari berjudri nasib semoga dengan jumlah yang sudah berkurang kapal kayu ini dapat dengan mudah mengejar Bono.

Kami pun pindah ke kapal tempel baru. Kapal pun tancap gas mengejar ombak, sungguh di luar perkiraan, anak muda ini lebih lihai dari kapten kapal kami yang pertama. Dengan gampang dia menjajal ombak yang mengaduk di antara hempasan air, dan saya pun memberi gelar Schumi buat ini anak saking lihainya.

Di antara hantaman ombak Bono satu kaki harus berkait pada salah satu besi penahan. Sementara tangan harus memegang kamera. Satu kaki lagi harus menahan satu tabung gas dan baling baling kapal yang di bawa dari awal di dalam kapal. Entah untuk apa tabung gas itu ada di dalam kapal yang jelas pekerjaan buat saya bertambah dan tidak mudah membidik gambar dengan kondisi diobokobok ombak.

Kami pun kembali tancap gas mengejar peselancar bule di antara gelombang. Tak lama kami pun sudah berada di depan ombak, para surfer terlihat dengan posisi tidur di atas papan selancar semuanya mengikuti arus ombak yang berada di belakang mereka. Ombak buih bergulung gulung membawa mereka seperti laju peluru.

Asyik mengambil gambar, kami tak menyangka ombak setinggi tiga meter mengejar kami dari arah belakang, dan Kahiril kembali dengan sigap membawa kami menghindar dari Bono.

Di saat menegangkan perahu yang kami tumpangi mati mesin. Dengan sigap Khairil berlari ke belakang mesin untuk kembali menghidupkan baling baling kapal. Brrrmmm, kapal pun kembali hidup. Namun satu hantaman keras nyaris saja membuat kapal kami terbalik, tabung gas yang ada di dalam kapal menggelinding ke arah saya.

Namun sempat tertahan, arah kapal ke kiri membuat saya dan teman dari tv swasta nasional memberatkan badan ke sisi kanan kapal agar kapal kembali stabil.

Kembali kami berada di depan ombak mengejar peselancar yang kini sudah mulai berdiri untuk mendapatkan ombak baru. David Baladec di ujung gelombang mulai bermain dengan papan selancarnya di susul Lynn, istrinya.

Sesekali ia seperti meberikan instruksi kepada rekan rekan lainnya bagaimana berselancar, dari semua peselancar terlihat Davidlah yang agak menguasai ombak Bono. Maklum ini bukan kali pertama ia datang ke Teluk Meranti untuk bermain ombak Bono.

Semakin lama tinggi ombak semakin berkurang. Merasa cukup dengan gambar kami meminta Khairil untuk segera menuju dermaga Teluk Meranti, arena di Kecamatan Teluk Meranti inilah Ombak Bono berakhir menyisakan ombak-ombak kecil dengan riak yang tak begitu besar.

Masyarakat Teluk Meranti ternyata telah menunggu di dermaga juga di rumah rumah tinggi yang ada di tepian sungai. Tak lama para peselancar juga sampai di dermaga. Mereka sempat melihat hasil foto kami terutama Paul dari Selandia Baru.

Usai melihat hasil foto ia berujar, “Bono sesuatu yang unik. Saya pikir baru kali ini ada ombak yang dapat di nikmati peselancar hingga satu jam lebih. Its amazing,” ungkapnya.*** Editor : RP Redaksi