Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ikhtiar dari Limbah POME

Edwir Sulaiman • Minggu, 31 Desember 2023 | 14:55 WIB

PLTBg Pasadena di Desa Suka Damai, Ujung Batu, Rohul


Sejatinya, dengan luas perkebunan kelapa sawit di Riau yang mencapai 3,38 juta hektare (sesuai data dari Kementerian Pertanian RI) menciptakan energi bersih dengan memanfaatkan limbah pabrik kelapa sawit bukanlah hal yang muskil. Ini sudah dibuktikan dengan hadirnya Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) di Desa Suka Damai, Kecamatan Ujung Tanjung, Kabupaten Rokan Hulu. Ikhtiar itupun bermula walau kecil tapi akan berdampak sangat besar bagi penyelamatan lingkungan hidup dan manusia.

Laporan GEMA SETARA (Pekanbaru)

UPAYA menggunakan energi baru dan terbarukan (EBT) terus dilakukan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Di Riau, penggunaan energi bersih itupun pelan namun pasti mulai dilakukan. Pada Rabu (3/5/2023) lalu sejarah ditorehkan dalam bidang energi ramah lingkungan.

Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Pasadena yang berada di Desa Suka Damai,Kecamatan Ujung Batu, Rokan Hulu. PLTBg Pasadena ini merupakan PLTBg pertama di RI.
Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Pasadena yang berada di Desa Suka Damai,Kecamatan Ujung Batu, Rokan Hulu. PLTBg Pasadena ini merupakan PLTBg pertama di RI.

Pembangkit listrik dengan kapasitas 3x1 megawatt ini berada di Desa Suka Damai, Kecamatan Ujung Batu, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau ini menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg).

PLTBg ini dioperasikan pembangkit listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) PT Pasadena Biofuels Mandiri, bagian dari Biodena Energy Group yang berkecimpung dan fokus pada pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dan upaya penurunan emisi karbon (dekarbonisasi) serta turut berperan dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.

PLTBg Ujung Batu ini memanfaatkan limbah Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair dari pabrik minyak kelapa sawit milik PT Rohul Sawit Industri. Dengan menggunakan teknologi pengolahan secara anaerobik, limbah cair kelapa sawit tersebut diolah menjadi energi biogas.

Selain menghasilkan energi bersih, PLTBg Ujung Batu juga menerapkan teknologi tepat guna untuk pengelolaan limbah sawit yang ramah lingkungan serta turut berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon sebesar 100.000 ton CO2 atau setara dengan emisi 10.000 mobil pertahun.

PLTBg ini beroperasi setelah dilakukan penandatanganan Berita Acara Commercial Operation Date (COD) PLTBg Ujung Batu antara PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Riau dan Kepulauan Riau dengan PT Pasadena Biofuels Mandiri selaku IPP.

“PLTBg adalah pembangkit listrik tenaga biogas. Untuk PLTBg Pasadena ini biogas yang dihasilkan dari pemanfaatan limbah cair dari pabrik kelapa sawit diproses jadi biogas. PLTBg Pasadena ini bekapasitas 3x1 mW yang di export ke jaringan PLN 20 kV dengan kerja sama IPP selama 25 tahun,” kata Plant Manager PLTBg Pasadena Ir Murni Marbun kepada Riau Pos.

Dikatakannya, PLTBg ini didirikan dengan pertimbangan perhitungan kelayakan financial, pengurangan emisi dengan energi terbarukan dan pembukaan tenaga kerja baru.

“Mekanisme kerja PLTBg yaitu PT Pasadena Biofuels Mandiri bekerja sama dengan Pabrik Kelapa Sawit dan juga PLN, PT PBM mengambil limbah cair POME dari pabrik kelapa sawit kemudian diolah di reaktor biodigester sehingga menghasilkan biogas yang mengandung gas methane,” ujarnya.

Biogas yang terdapat di biodigester dimanfaatkan menjadi bahan bakar generator pembangkit dan kemudian generator pembangkit menghasilkan listrik yang dikirim ke saluran 20 kV PLN. “Sebelum disalurkan ke jaringan PLN tentunya sudah dilengkapi dengan SLO (sertifikat laik operasi) yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Ketenaga Listrikan,” tuturnya.

Mengapa PLTBg ini dikatakan ramah lingkungan, Murni mengatakan, PLTBg sebagai pembangkit ramah lingkungan dikarenakan pembangkit ini menggunakan bahan bakar yang bukan dari fosil tetapi bahan bakar dari limbah.

“PLTBg ini berkapasitas 3x1 mW yang bisa menerangi rumah sekitar 3.000 rumah tangga, biar kecil tentunya bisa menambah ratio elektrifikasi di daerah Riau,” ungkapnya.

Menjawab tentang berapa pengurangan emisi karbon dari keberadaan PLTB Pasedana? Murni mengatakan perhitungan pengurangan emisi belum pernah dihitung, tetapi kedepannya akan ada CDM yang akan melakukan penghitungan.

Melansir dari Greenpeace, penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan emisi gas rumah kaca yang menghangatkan bumi. Penggunaan bahan bakar fosil juga menghasilkan polutan udara, seperti jelaga (partikel halus atau PM2.5) dan kabut asap (ozon).

Polutan-polutan tersebut dapat meningkatkan risiko kematian akibat stroke, penyakit jantung , kanker paru-paru, dan penyakit pernapasan lainnya.

Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, paparan terhadap PM2.5 menyebabkan sekitar 4 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun (belum termasuk paparan dari polusi udara dalam ruangan).

Penggunaan bahan bakar fosil yang telah berlangsung lama, dari dulu hingga sekarang ini menyebabkan timbulnya masalah-masalah lingkungan.

Oleh karena itu diperlukan gerakan global menuju penggunaan energi terbarukan agar bahan bakar fosil tidak cepat habis. Walaupun penggunaan bahan bakar fosil pada era sekarang telah menggerakkan pengembangan industri dan menggantikan kincir angin, tenaga air, dan juga pembakaran kayu atau pelat untuk panas.

Meningkatkan Keandalan Pasokan Listrik
General Manager PLN Unit Induk Wilayah Riau dan Kepulauan Riau Agung Murdifi saat penandatanganan Berita Acara Commercial Operation Date (COD) PLTBg Ujung Batu antara PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Riau dan Kepulauan Riau dengan PT Pasadena Biofuels Mandiri selaku IPP mengatakan sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PLN memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan bauran energi dan menjalankan transisi energi untuk mendukung Indonesia dalam mewujudkan target net zero emission (NZE) 2060.

“Namun kami (PLN, red) tidak bisa bekerja sendiri dalam mewujudkan program transisi energi. Kontribusi swasta seperti Biodena Energy Group mendukung upaya PLN dalam meningkatkan bauran energi bersih dinilai penting untuk membantu Pemerintah Indonesia mewujudkan nol emisi karbon tersebut,” tuturnya.

Saat ini, tambahnya, bauran EBT di Riau telah mencapai 9,62 persen. Dengan beroperasinya PLTBg Ujung Batu maka dapat meningkatkan keandalan pasokan listrik, khususnya di Kabupaten Rokan Hulu dan sekitarnya. Selain itu, hadirnya PLTBg ini juga mampu berkontribusi untuk efisiensi Biaya Pokok Penyediaan (BPP) PLN di Riau sebesar Rp11,9 miliar pertahun.

Independent Power Producer (IPP) PLTBg pertama di Provinsi Riau ini beroperasi secara komersial setelah dilakukan penandatanganan Berita Acara Commercial Operation Date (COD) PLTBg Ujung Batu, antara PT PLN Unit Induk Distribusi Riau dan Kepulauan Riau dengan PT Pasadena Biofuels Mandiri selaku IPP.

PT Pasadena Biofuels Mandiri merupakan bagian dari Biodena Energy Group yang berkecimpung dan fokus pada pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dan upaya penurunan emisi karbon (dekarbonisasi), serta turut berperan dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Pasadena Biofuels Mandiri Edmond Widjaja mengatakan, Biodena Energy Group berkomitmen untuk terus mendukung upaya PT PLN dalam meningkatkan bauran energi hijau di tanah air.

“Kami bangga dapat melakukan COD PLTBg Ujung Batu. Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pembangunan pembangkit hijau ini, khususnya kepada PLN. Kami berharap PLTBg ini dapat meningkatkan bauran energi bersih di tanah air sehingga berkontribusi dalam mewujudkan target pemerintah untuk mencapai net zero emission,” ujarnya.***

Editor : RP Edwir Sulaiman
#kelapa sawit #pembangkit listrik tenaga biogas