Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Jemaah calon haji (JCH) Riau asal Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Supriyadi Achmad Suchemia wafat, Rabu (29/5). Tak ada firasat sedikit pun dari keluarga terkait wafatnya JCH yang masuk kategori lanjut usia (lansia) ini.
Laporan KASMEDI, Rengat
Warga Desa Bukit Lingkar RT03/RW/01 Kecamatan Batang Cenaku berusia 81 tahun ini diduga meninggal akibat kelelahan hingga hilang kesadaran. Dari laporan yang diterima, almarhum yang tergabung dalam Kloter 9 BTH kelelahan hingga hilang kesadaran dan tiba-tiba napas berhenti.
Almarhum hilang kesadaran saat bus tiba di Hotel Burg Suro Man Roaa 212 wilayah Syisyah Makkah. Atas kejadian itu, tim emergency membawa ke lobi hotel untuk melakukan pertolongan pijat jantung dan paru. Bahkan, akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit (RS) King Faisal.
Ketika ditangani di RS King Faisal Makkah, almarhum memiliki riwayat penyakit diabetes, jantung, dan juga tergolong uzur dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 18.10 WAS.
Keluarga almarhum di Desa Bukit Lingkar RT 03/RW 01 Kecamatan Batang Cenaku, Inhu mendapat kabar duka ini pada Kamis (30/5) dini hari. “Saya waktu itu sedang tertidur lelap. Tiba-tiba handphone berdering. Pihak petugas haji memberi tahu tentang Mbah saya sudah meninggal dunia,” ujar Tio Ardiansyah, cucu Supriyadi, Senin (3/6).
Tio didampingi orangtuanya, Yanuar mengaku terpukul dengan kabar itu. Betapa tidak, saat berangkat haji, datuknya tidak terlihat tanda-tanda akan meninggal dunia. Bahkan almarhum terlihat lebih lincah dari biasanya.
Masih terngiang di telinga Tio saat datuknya berpesan agar menjaga dan memberi makan ayam dan menyiram tanaman cabai. Menurut Tio, bisanya memang sang atuk yang melakukan aktivitas memberi makan ayam dan menyiram tanaman cabai tersebut.
Ternyata, pesan itu merupakan pesan terakhir dari datuknya yang selama ini dibanggakannya. “Om saya yang masih ada di Pulau Jawa dan tidak sempat mengantar saat keberangkatan juga sangat terpukul dengan kepergian datuk,” lirihnya.
Diceritakan Tio, sang datuk masuk daftar berangkat haji pada tahun 2022 lalu. Namun saat itu Supriyadi memutuskan tidak berangkat demi sang istri Sutini. Ya, saat itu istrinya tak masuk daftar berangkat. Hal yang sama juga dilakukan almarhum di tahun berikutnya 2023.
“Almarhum senang dan mau berangkat di tahun 2024 ini ketika nama nenek saya juga masuk dalam daftar calon jemaah haji,” kenangnya.
Saat ini neneknya yang sudah berusia 77 tahun masih menjalankan ibadah haji di Makkah. Dikatakan Tio, beberapa kali neneknya menelepon keluarga dan selalu menangis. Bahkan pihak keluarga dari kejauhan juga ikut menangis.
“Kami selalu mendoakan nenek agar sehat dan dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar, pulang dengan selamat, walaupun tanpa datuk,” tambahnya dengan mata berkaca-kaca.
Sejak kepergian almarhum, pihak keluarga bersama warga setempat masih melaksanakan doa dan pembacaan surat Yasin. “Kebiasaan warga setempat, pelaksanaan doa dan baca surat Yasin selama tujuh malam berturut-turut,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Inhu Dr Darwison MA mengatakan, berdasarkan laporan petugas haji almarhum hilang kesadaran saat bus tiba di Hotel Burg Suro Man Roaa 212 wilayah Syisyah Makkah. “Almarhum meninggal dalam keadaan sudah memakai pakaian ihram dan sudah berniat ihram. Semoga beliau husnul khotimah,” ujarnya.
JCH Diminta Tidak ke Luar Makkah
Mendekati puncak ibadah haji yang tinggal sekitar sepekan lagi, otoritas Arab Saudi memperketat pemeriksaan di sejumlah titik (check point). Untuk itu jemaah yang sudah berada di Makkah, diimbau tidak bepergian ke luar kota untuk sementara waktu.
Secara khusus, imbauan tersebut tertuang dalam surat edaran Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Jemaah sebaiknya beristirahat di dalam hotel. Untuk mencegah adanya masalah, ketika melewati pemeriksaan di check point otoritas Saudi.
“Demi keselamatan dan kenyamanan jemaah, perangkat kloter, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) dan petugas lainnya mengimbau jemaah agar tidak ke luar Kota Makkah sebelum puncak haji,” kata anggota Media Center Kemenag Widi Dwinanda di Jakarta, Rabu (5/6).
Dia menuturkan, aktivitas JCH sampai ke luar Kota Makkah biasanya cukup beragam. Di antaranya adalah untuk berziarah. Misalnya berziarah sampai ke Thaif. Di daerah yang dikenal sebagai “Bogornya” Arab Saudi itu, terdapat makam Ibnu Abbas yang kerap jadi kunjugan jemaah.
Lokasi Thaif juga menarik karena berupa pegunungan dan bersuhu dingin. Kontras dengan Kota Makkah yang cenderung panas. “Jemaah yang ziarah ke luar kota perhajian, dikhawatirkan akan mendapatkan kendala saat masuk kembali ke Makkah,” tuturnya.
Misalnya karena ada dokumen haji yang tertinggal di hotel, saat bepergian. Dia juga meningkatkan jemaah untuk selalu membawa dokumen agau identitas saat keluar hotel. Misalnya ketika akan beribadah di Masjidilharam. Identitas itu berupa smart card, gelang haji, atau paspor. Sehingga bisa memudahkan ketika melalui pemeriksaan petugas Arab Saudi.
Saat ini cuaca di Makkah juga masih relatif panas. Rerata berada di suhu berada di angka 44 derajat celcius. Jemaah diimbau untuk selalu membawa topi lebar atau payung. Kemudian juga selalu membawa perbekalan air minum yang cukup.(wan/jpg/das)
Editor : RP Arif Oktafian