Selepas berkeliling selama tiga hari di Belitung Timur, akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju Dumai. Menyusuri kembali jejak sejarah Jalur Rempah. Dumai jadi titik singgah kedua pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) 2024 bersama KRI Dewaruci.
Laporan YUSNIR, Jakarta
Meski hanya tiga hari di Belitung Timur, namun sangat berkesan. Rasa haru seketika muncul ketika lambaian perpisahan dari masyarakat yang antusias melepas kepergian kami. Kami diiringi puluhan kapal nelayan tradisional ke tengah laut seakan tak rela kami pergi. Bagi saya, masyarakat Belitung Timur begitu ramah dengan pendatang.
Pelayaran dilanjutkan. Wajah para peserta MBJR 2024 terlihat jelas seperti kelelahan. Maklum karena agenda di darat begitu padat dan menguras tenaga. Namun semangat mereka terus membara mengalahkan rasa lelahnya.
Jarak tempuh dari Belitung Timur ke Dumai lebih kurang 588 mil laut sekitar empat hari pelayaran. Tentu ini pelayaran yang cukup lama dan jauh. Rasa-rasanya kami lebih siap dari segi tenaga dan mental untuk berlayar bila dibandingkan pas saat pertama naik kapal di Jakarta. Karena kami bersama Laskar Rempah sudah menyesuaikan diri dengan laut.
Aktivitas di atas kapal sama seperti biasanya. Laskar Rempah latihan menari dan lain-lain. Untuk membunuh rasa bosan, kami pun terlibat dalam kegiatan spontan. Misalnya game berhadiah dan juga sharing soal pengalaman selama jurnalis. Baik itu cara menulis, jadi reporter tv, news anchor, dan juga video/fotografer.
Setelah dua hari berlayar menyusuri Selat Melaka, salah satu titik jalur rempah di wilayah barat. Saat melintasi garis khatulistiwa. Ada tradisi menarik saat berlayar bersama KRI Dewaruci yaitu “Mandi Khatulistiwa”.
Di tengah pelayaran di larut malam muncul suara-suara berisik bernuansa mistis terdengar pagi-pagi sekali di KRI Dewaruci, yang sedang berlayar di Perairan Selat Melaka. Suara-suara keras dan teriakan oleh para prajurit KRI Dewaruci ditujukan untuk membangunkan para penumpang.
Para penumpang kapal saat itu diisi oleh peserta MBJR 2024 yang sedang melakukan pelayaran dari Belitung Timur menuju Dumai. Dari atas geladak kapal, tampak langit masih gelap. Beberapa prajurit kapal terlihat mengenakan setelan yang menyeramkan. Mereka dipanggil dengan sebutan ‘punggawa’.
Ada juga yang berperan sebagai bajak laut Davy Jones serta Raja Neptunus bersama permaisurinya. Kegiatan itu dilakukan dalam rangka tradisi Mandi Khatulistiwa.
Tradisi Mandi Khatulistiwa dilakukan bagi seluruh penumpang yang baru pertama berlayar di KRI Dewaruci. Semua penumpang dimandikan dengan air kembang tanpa terkecuali. Tradisi yang sudah dilakukan di KRI Dewaruci sejak puluhan tahun lalu.
Kegiatan Mandi Khatulistiwa dimaknai sebagai bentuk penyucian diri bagi seorang pelaut atau orang yang berlayar dengan maksud menggugurkan kotoran-kotoran yang ada di dalam tubuh. Di mana tradisi Mandi Khatulistiwa ini ditujukan bagi penumpang baru di KRI Dewaruci dilakukan tanpa terkecuali, tua, muda, perwira maupun prajurit.
Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Rhony Lutviandany menyebutkan, kegiatan Mandi Katulistiwa ini adalah tradisi yang selalu dilaksanakan di KRI Dewaruci. “Tradisi Mandi Khatulistiwa ini pertama kali adanya di KRI Dewaruci, baru kemudian ada di KRI-KRI lain,” ucap Rhony.
Dia menyebutkan, ketika seseorang telah mendapatkan sertifikat pelayaran dan Mandi Khatulistiwa di KRI Dewaruci, maka tidak perlu lagi untuk Mandi Khatulistiwa di KRI yang lain. “Nanti tinggal tunjukkan saja sertifikatnya. Jadi kalau pas ke KRI lain, tidak perlu lagi ikut Mandi Khatulistiwa,” ucapnya.
Malam terakhir di KRI Dewaruci, tepatnya Sabtu (15/6) malam di geladak KRI Dewaruci. Tampak sukacita di wajah peserta. Saat kapal yang sedang menurunkan jangkar di perairan Dumai, Riau itu melaksanakan kegiatan malam inagurasi.
Sebuah kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk perpisahan para prajurit TNI AL KRI Dewaruci dengan para peserta MBJR 2024 Batch 1 Lada Putih. Ini merupakan malam perpisahan kami dengan seluruh kru KRI Dewaruci. Acara ramah tamah. berbagai penampilan kami ditampilkan tak terkecuali kami yang sebagai undangan dalam giat tersebut.
Ahad (16/6) menjadi hari terakhir bagi peserta MBJR 2024 Batch 1 di KRI Dewaruci. Kami dijadwalkan sekitar pukul 08.15 WIB pagi, KRI Dewaruci telah bersandar di Pelabuhan Kota Dumai.
Kami disambut secara langsung oleh Wali Kota Dumai, H Paisal didampingi oleh unsur forkopimda. Tari persembahan selamat datang, atraksi silat dan prosesi tepung tawar sekaligus pemasangan tanjak menjadi petanda disambutnya para Laskar Rempah yang selama kurang lebih 4 hari telah menjalani pelayaran dari Belitung Timur menuju Kota Dumai.
Ini akan menjadi perjalanan terakhir bagi mereka. Pasalnya, setelah itu, kegiatan MBJR 2024 akan dilanjutkan dengan peserta Batch 2 yang akan melakukan perjalanan dari Dumai ke Sabang.
Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Rhony Lutviandany meminta maaf jika selama pelayaran ada banyak sarana dan prasarana di KRI Dewaruci yang masih kurang. “Walaupun ada keterbatasan fasilitas. Saya bangga kalian mampu untuk berlayar di kapal ini,” ucap Rhony.
Setelah acara penyambutan di Dumai, malam harinya kami langsung bertolak menuju Siak Sri Indrapura. Titik akhir perjalanan MBJR 2024 Batch 1 Lada Putih. Sekitar dua hari kami di Siak dan merayakan Hari Raya Iduladha di sana.
Setelah melaksanakan Salat Iduladha, kami melanjutkan kunjungan ke Istana Siak Sri Indrapura dan beberapa tempat lainnya seperti tansi (penjara) pada zaman Belanda yang berada persis di seberang Istana Sultan Syarif Kasim.
Siak menjadi salah satu daerah paling penting dikunjungi peserta MBJR 2024. Pasalnya Sungai Siak atau Sungai Jantan adalah jalur niaga terpenting pada masa lampau dengan kekayaan hasil alam sebagai komoditas berharga seperti gaharu, batu geliga, dan kapur barus.
Beberapa literatur menuliskan, dalam wacana besar Jalur Rempah, keberadaan sungai ini sering diabaikan karena orang cenderung melihat Selat Melaka sebagai jalur yang seolah berdiri tunggal.
Masa keemasan Siak adalah pada saat Sultan Syarif Ali berkuasa karena ia berhasil mengamankan barang yang keluar dari wilayah pedalaman Minangkabau di Sungai Kampar dan kayu-kayu bernilai tinggi di hilir Sungai Siak.
Masa kejayaan itu juga ditopang oleh hubungan diplomatik yang sangat baik dengan penguasa-penguasa pelabuhan besar, baik masyarakat asli Asia maupun Eropa. Setelah loji Belanda di Pulau Guntung berhasil diambil alih oleh Sultan Syarif Ali pada tahun 1795, sang sultan kemudian mempererat hubungan dengan pihak Inggris di Penang dan Melaka.
Siak pada masa itu telah menjadi salah satu dari tiga kekuatan besar perdagangan di Selat Melaka, yaitu Inggris di Penang dan Belanda di Malaka.
Pada abad ke-18, selain Aceh, Siak Sri Indrapura adalah imperium dagang besar yang saling berebut pengaruh di Sumatera Timur. Kemakmuran Siak berasal dari hasil alam di sepanjang hilir sungai yang dikelola dengan baik dan didukung kemajuan teknologi pengolahannya.
Bahkan sampai saat ini Sungai Siak masih menjadi salah satu jalur paling sibuk di Sumatera Timur yang dilewati kapal-kapal bermuatan berat pengangkut hasil alam.
Sampai saat ini pula masyarakatnya masih menanam pohon gaharu dalam jumlah besar dan pemerintah pun berinisiatif membuat perkebunan gaharu untuk memenuhi kebutuhan pasar global.***
Editor : RP Arif Oktafian