Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Wawancara Eksklusif Irjen Pol Mohammad Iqbal Spesial Hari Jadi Ke-78 Bhayangkara: Bhayangkara Dicintai karena Ketulusan Melayani dan Mengayomi

Redaksi • Senin, 1 Juli 2024 | 09:35 WIB

Kapolda Riau Irjen Pol Mohammad Iqbal dicium bocah penderita kelainan genetik tulang Rehan dan Fajri di Pekanbaru, beberapa waktu lalu.
Kapolda Riau Irjen Pol Mohammad Iqbal dicium bocah penderita kelainan genetik tulang Rehan dan Fajri di Pekanbaru, beberapa waktu lalu.

Bhayangkara mengandung filosofi yang kompleks. Menjadi pelindung, pengayom, serta pelayan bagi masyarakat merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari sosok seorang Bhayangkara. Menjelang hari jadi ke-78 Bhayangkara, Asisten Redaktur Riau Pos Afiat Ananda berkesempatan mewawancarai langsung Kapolda Riau Irjen Pol Mohammad Iqbal. Berikut petikan wawancaranya.

Assalamualaikum, selamat siang Bapak Kapolda, apa kabarnya? Sepertinya selalu semangat.

Dalam melindungi dan melayani harus selalu semangat. Bagaimana yang mau dilindungi melihat pengayomnya tidak semangat, apalagi mereka melihat sosok Kapolda tidak semangat, tidak melambangkan sebuah perlindungan. Jadi harus selalu semangat apapun kondisinya.

Isu tentang kepolisian ini ada banyak dan selalu dan sangat menarik dibahas. Pertanyaan dasar dulu. Selama ini kita mengenal Hari Bhayangkara, mungkin tidak banyak juga masyarakat yang tahu apa sih Hari Bhayangkara? Mungkin itu bisa dijelaskan?

Hari Bhayangkara merupakan harinya kepolisian negara. Dahulunya, Bhayangkara itu adalah penjaga pelindung Mahapatih Gajah Mada Majapahit. Nah hari ini, Bhayangkara dipakai sebagai simbol. Kita tahu bahwa sebaik-baiknya orang adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia lain.

Karena itu Bhayangkara harus lebih bermanfaat untuk kepentingan masyarakat. Hari Bhayangkara ini diperingati agar bagaimana kepolisian terus meningkatkan kerja-kerjanya. Untuk melindungi masyarakat dan juga melakukan penegakan hukum yang berkaitan untuk memelihara keamanan.

Untuk dicintai, polisi harus betul-betul profesional. Dia sebagai pelayan yang mana dia paham bagaimana masyarakatnya memerlukan. Kami sangat memahami bahwa masyarakat menuntut polisi yang profesional yang cerdas, yang adaptif, yang melek informasi dan teknologi di kondisi saat ini.

Bukan hanya wawasan tentang hukum keamanan, tapi wawasan nusantara, politik, budaya, dan wawasan tentang geopolitik. Polisi itu dinamis, tidak bisa dia tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi hari ini bahwa luar biasa cepat sekali perubahan itu.

Bisa disimpulkan bahwa polisi masuk di hampir segala aspek kehidupan. Sebagai contoh, polisi harus ada pada setiap rutinitas denyut nadi kehidupan manusia. Begitu masyarakat bangun tidur ada tugas polisi di sini. Menjamin, mungkin masyarakat ingin melaksanakan perekonomian, sekolah atau beribadah. Ada tugas polisi mengamankan.

Jangan sampai mungkin ya, sederhana jangan sampai ada kecelakaan lalu lintas, atau lebih tidak sederhana lagi kerja polisi melakukan upaya-upaya preventif.

Sekarang kita sedikit me-review kerja-kerja polisi dalam tahun 2024 ini. Pertama, ada agenda pemilu. Kedua, Idulfitri. Saya ingin Bapak menjelaskan dua agenda besar yang telah dilalui ini? Apalagi sewaktu pemilu, Bapak mendapat penghargaan dari KPU dan juga Bawaslu.

Bagi saya penghargaan itu bukan untuk Mohammad Iqbal. Tapi yang layak mendapat penghargaan kerja-kerja yang luar biasa ini adalah seluruh personel Polda Riau. Bayangkan, dari pelosok-pelosok gunung, perbukitan, dan laut-laut dari ujung Indragiri Hilir sampai ujung Meranti kita sangat luar biasa.

Tim saya, pasukan saya, dan personel Polda Riau beserta Polres jajaran, melakukan upaya-upaya bagaimana pemilu berjalan baik tanpa ada kendala. Kita kerja sama dengan semua stakeholder. Karena doa dan ikhtiar yang sangat luar biasa, Alhamdulillah semua berlangsung aman.

Bagaimana Bapak melakukan itu?

Yang pertama tentunya aspek manajemen kita harus lakukan dengan baik. Bahasa sekarang itu kita harus lakukan upaya-upaya maksimal. Dari awal kita tahu bahwa daftar pemilih tetap (DPT) itu menjadi embrio-embrio keberlanjutan pelaksanaan pemilu. Jadi bagaimana ke depannya pelaksanaan pemilu, baik dari daftar pemilih sementara sampai ditetapkan, semua terkawal dengan baik.

Saya sampaikan agar bantu. Jangan sampai ada masyarakat yang tidak masuk dalam DPT. Bantu betul ini karena kita harus yakin bahwa daftar pemilih tetap sangat menentukan. Memang walau tidak sempurna ya, walaupun ada dinamika, satu atau dua mungkin.

Mungkin ada ya masyarakat pindah atau meninggal dunia di tengah-tengah waktu pelaksanaan. Tetapi, alhamdulillah waktu itulah penerapan DPT di KPU nggak ada masalah. Dari situ kita sudah koordinasi dengan baik sampai dengan ke tingkat KPPS dan lain-lain.

Saya dorong semua teman-teman pejabat utama agar kawal dan bekerja untuk menjamin keamanan dalam pelaksanaan pemilu. Kami juga saling berkoordinasi dengan instansi vertikal, KPU, Bawaslu, TNI, pemerintah daerah sampai ke pemerintah desa.

Bahkan kami mengadakan yang namanya cooling system. Di mana seluruh elemen kami ajak bersatu, duduk bersama. Partai politik melalui perwakilannya, semua kami rangkul sehingga walaupun berbeda pilihan, kita tetap satu dan selalu bersama. Saya juga ajak teman-teman media untuk aktif.

Bahkan saya membuat perlombaan jurnalistik yang menghasilkan belasan ribu pemberitaan positif terkait pemilu. Sehingga semua berjalan sejuk, damai, dan setiap individu merasa terlibat menjadi agen penjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Dari sisi keamanan surat suara dan logistik, kami kawal dari awal dicetak sampai ke gudang logistik. Bahkan, saya minta penjagaan berlangsung 1 x 24 jam. Bahkan manajemennya saya atur sedemikian rupa. Jangan sampai, penjagaan hanya sebatas tugas piket. Sehingga ketika ada polisi dan TNI di sana, mereka yang berniat jahat jadi takut.

Kita beralih ke pembicaraan mengenai kamtibmas pada saat Ramadan, Idulfitri hingga mudik. Bagaimana Bapak memenej situasi di Riau pada saat itu?

Kami melakukan berbagai kegiatan ya. Baik itu kegiatan rutin yang ditingkatkan, praoperasi hingga operasi. Pada saat Ramadan kami kerahkan seluruh personel. Bahwa saya ingin umat muslim dapat khusuk dan nyaman dalam beribadah tanpa ada gangguan keamanan sedikitpun.

Kami lakukan razia narkoba. Jelang Ramadan kita sidak tempat-tempat hiburan dan lain-lain. Terus juga senjata-senjata tajam, preman-preman dan lain sehingga semua terjaga. Prinsipnya, kekhusukan bulan Ramadan jangan terganggu. Alhamdulillah tidak terganggu, bahkan di dalam bulan Ramadan saya memerintahkan jajaran Polda Riau untuk Tarawih bareng, berjemaah ke masjid-masjid, safari Salat Subuh, bahkan Kapolda keliling. Untuk apa? Karena saya lead by example, memimpin dengan contoh.

Alhamdulillah pada saat Operasi Ketupat, saya lakukan halalbihalal dengan disertai memberikan reward kepada masyarakat dan juga semua Kapolres terbaik. Ini untuk memicu mereka berkompetisi yang sehat untuk melakukan yang terbaik.

Bagaimana bapak memerangi peredaran narkoba di Riau?

Saya ingat begitu waktu saya masuk (jadi Kapolda, red) langsung saya panggil Direktur Narkoba. “Adinda, saya perlu welcome drink. Apa itu? Bukan minuman welcome, tapi saya perlu pengungkapan kasus, saya mau sikat ini narkoba. Apalagi pengedar, kita harus keras! Saya genjot setiap hari, saya cek, kontrol, cek ricek, final check, saya pelajari.

Alhamdulillah pengungkapan sangat luar biasa. Beberapa pekan saya menjabat, tertangkap 200 kilogram. Terus saya juga lakukan prinsip reward dan punishment. Yang bekerja kita kasih reward, yang kurang kita kasih punishment. Banyak adik-adik kita beri jabatan. Jadi ada teori pulling factor and pushing factor. Ada daya tarik dan faktor pendorong.

Oleh karena itu ada gaya dorong dan tarik, pasti mesin-mesin bekerja, dan direktur narkoba berganti. Saat ini Adinda Manang (Dirnarkoba saat ini, red) luar biasa. Sehingga total selama saya menjabat di Riau ada 2,5 ton pengungkapan. Saya kira angka yang spektakuler.

Dan tak hanya itu, saya ke Malaysia, jumpa teman-teman polisi Diraja Malaysia. Meminta kerja sama. Mereka sepakat juga upaya pencegahan. Kami ajak para stakeholder bicara intensif, Gubernur dan kepala BNNP, untuk upaya pencegahan maksimal. Masyarakat pesisir kita kuatkan, Alhamdulillah berbuah. Bahkan kemarin Riau dipilih sebagai pusat Hari Anti Narkoba Internasional.

Untuk kasus pidana umum seperti jambret, curas, dan lainnya, bagaimana upaya Bapak?

Antisipasi itu betul-betul jadi prioritas. Saya sepakat dan setuju dengan pernyataan Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Bapak Komjen Pol Dr Fadil Imran. Dokter di bidang kriminolog, quotes-nya sederhana, pengungkapan kasus adalah suatu kebanggaaan, tapi pencegahan adalah kemuliaaan. Bahwa antisipasi dan pencegahan preventif, itu intinya.

Tugas-tugas polisi, misalnya pencegahan maksimal, daya rusak tidak ada, korban tidak ada, pelaku sudah sadar, daya cegah jadi prioritas. Polisi harus bisa merangkul semua potensi yang ada, apa itu dari rumah tangga, RT, RW, kecamatan, guru-guru, pengajian, untuk memaksimalkan daya cegah ini. Inilah konsep kepolisian di tengah masyarakat.

Peran bhabinkamtibmas harus maksimal. Saya pilih Kasat Binmas yang profesional, Direktur Binmas yang kuat, serta seluruh tim agar bisa menghasilkan upaya pencegahan maksimal. Jadi binmas itu orang-orang pilihan. Samapta, saya pilih yang kuat. Ini metode antisipasi. Karena ketika pencegahan sudah baik bagus sehingga polisi memerangi street crime, kejahatan jalanan bisa kita tekan.

Tetapi, simetris dengan itu saya akan selalu senyum kepada masyarakat. Tetapi saya akan sangat galak kepada penjahat jalanan. Saya sampaikan ke seluruh reserse, terutama di Kampar dan Pekanbaru. Saya tegaskan, kalau kalian tak bisa tangkap penjahat jalanan, saya pakaikan rok kalian. Yang kedua, kalian semua saya pindah, saya ganti dengan reserse kawakan.

Reserse itu adalah filosofinya buru dan habisi itu pelaku kejahatan jalanan. Saya pilih reserese yang baik. Alhamdulillah walaupun ada dinamika, namun pelaku cepat dapat dan dilakukan tindakan tegas. Bahkan kalau membahayakan nyawa petugas dan sekaligus orang lain, jangan sungkan-sungkan habisi saja. Kepada pelaku kejahatan, pengedar narkoba, kita 10 x lebih galak dari orang galak, sikat habis.

Lantas bagaimana peran masyarakat dengan keberhasilan kerja polisi?

Kekuatan Polda Riau tidak berarti apa-apa kalau masyarakat tak membantu kita. Para ulama, tokoh masyarakat, tokoh agama, pendeta, TNI, Korem, Lanud, Lanal, teman-teman pemuda, organisasi cipayung, adik-adik BEM, dan jurnalis. Semua masyarakat bersatu padu.

Itu tak mudah mendapatkan simpati masyarakat menjaga harkamtibmas. Waktu baru bertugas, saya jarang di kantor. Saya cari pasukan dan tim untuk menjaga Riau ini. Berarti peran masyarakat sangat besar, bahkan kita tak ada apa-apa dibanding kekuatan kami.

Di Hari Bhayangkara ini, saya selaku Kapolda Riau sangat berharap masyarakat terus mengawal kami, kuatkan kami, terus juga koreksi kami. Kami masih banyak salah, demi kerja perlindungan dan pengayoman kepada masyarakat.***

Silakan simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu dengan mengakses Riau Pos WhatsApp Channel

 

Editor : RP Arif Oktafian
#hari bhayangkara #HUT ke 78 Bhayangkara #wawancara kapolda riau #polda riau #riau pos