Festival pacu jalur merupakan salah satu festival budaya terbaik di Indonesia yang sukses menarik perhatian wisatawan. Pacu jalur menggabungkan unsur olahraga dan seni yang sangat indah sehingga festival ini selalu dinanti masyarakat dan wisatawan.
Laporan HENNY ELYATI, Pekanbaru
PACU jalur merupakan tradisi budaya turun-temurun (the legend of culture) yang diwariskan lebih dari 100 tahun oleh nenek moyang masyarakat Kuansing. Pada abad ke-17 jalur hanya digunakan sebagai alat transportasi utama bagi warga desa di Rantau Kuantan, yakni daerah di sepanjang Sungai Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu hingga Kecamatan Cerenti di hilir. Saat itu memang belum berkembang transportasi darat. Akibatnya jalur itu benar-benar digunakan sebagai alat angkut penting bagi warga desa, terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu, serta berfungsi untuk mengangkut sekitar 40-60 orang.
“Seiring berjalannya waktu, jalu-jalur yang digunakan sebagai alat transportasi tersebut semakin berkembang. Bahkan muncul jalur yang dihias dengan ukiran indah dan khas seperti motif bunga, daun, dan binatang yakni ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayungnya. Ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri). Perkembangan inilah yang akhirnya melahirkan lomba adu cepat antar jalur atau lebih dikenal dengan sebutan festival pacu jalur,’’' ujar Pengamat Pacu Jalur Darwis kepada Riaupos.co, Selasa (9/7/2024).Baca Juga: Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat, Puskesmas Bandar Seikijang Luncurkan Inovasi Besti TB
Pacu jalur merupakan sejenis lomba dayung tradisional yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau. Perlombaan mendayung ini menggunakan perahu dari kayu gelondongan, alias kayu utuh tanpa sambungan. Oleh karena itu masyarakat Riau menyebutnya jalur.
Disebutkan Darwis, awalnya pacu jalur diselenggarakan untuk merayakan hari raya agama Islam, seperti hari raya Idulfitri di Riau. Namun, di masa penjajahan Belanda, pacu jalur digunakan untuk merayakan hari jadi Ratu Wilhelmina setiap tanggal 31 Agustus.
Tradisi turun-temurun ini memiliki makna dan filosofi yang sangat mendalam. Baik itu dari segi pembuatan perahu, hingga makna di setiap gerakan sang penari saat pacu jalur. Ditambah lagi, pembuatan jalur tidak dilakukan sembarangan. Sebelum mengambil kayu besar, seluruh masyarakat harus melakukan ritual terlebih dahulu. Tujuannya untuk menghormati dan meminta izin kepada hutan belantara saat mengambil kayu yang besar.
Wardison (65), salah satu tukang yang berasal dari Desa Koto Kombu, Kecamatan Hulu Kuantan sudah berhasil membuat ratusan jalur sejak tahun 2000. Bahkan dari tangan Wardison membuat jalur ternama seperti Jalur Ngiang Kuantan Cahayo Nagori, Tuah Koghi Dubalang Ghajo, Singa Kuantan, Raja Laut, Toduang Biso Rimbo Piako, Palimo Olang Putie dan Jalur Putri Ayu, Bintang Emas Cahaya Intan juara 1 Kecamatan Gunung tahun 2022. Jalur Singa Kuantan juara 1 rayon Kecamatan Hulu Kuantan tahun 2024, Jalur Palimo Olang Putie juara 2 Kecamatan Hulu Kuantan 2024.
Bentuk jalur yang dibuat Dison, panggilan akrabnya, jalurnya menarik dipandang mata dan banyak mengukir prestasi.
‘’'Saya sudah membuat jalur lebih dari 100,’’ kata Dison yang tinggal di Desa Sungai Alah, Kecamatan Hulu Kuantan ini.
Satu jalur, lanjut Dison, bisa menampung 50-60 orang (anak pacu), dan setiap orang di perahu memiliki tugas masing-masing. Baik itu tukang concang (komandan atau pemberi aba-aba), tukang pinggang (juru mudi), dan tukang onjai (pemberi irama dengan cara menggoyang-goyangkan badan), dan terakhir adalah tukang tari atau anak coki yang berada di posisi paling depan.
Menariknya, posisi tukang tari hampir selalu diisi oleh anak-anak. Alasannya karena anak-anak memiliki berat badan yang tergolong ringan. Dengan begitu, perahu tetap bisa melaju dengan lincah. Uniknya, gerakan yang dilakukan anak coki memiliki makna tersendiri. Anak coki menari di depan jalur kalau perahu yang dikendarainya unggul. Kalau sudah sampai garis finis, anak coki akan langsung sujud syukur di ujung perahu.
Untuk membuat satu jalur, lanjut Dison, diperlukan waktu paling cepat dua pekan dengan empat orang tukang. Jika dikerjakan di hutan, maka upah yang diterima sebesar Rp35 juta. Sementara jika dikerjakan di kampung (permukiman) maka upah yang diterima sebesar Rp25 juta.
“Rata-rata untuk membuat satu jalur ini hanya dua tukang yang bekerja sampai akhir. Sementara dua lagi kerja harian, khusus untuk sinso atau gergaji mesin,’’ terangnya.
Banyaknya jalur yang dibuat Wardison ini mendapat prestasi (juara), Wardison pun dianugerahi penghargaan oleh KONI Riau. Di mana Wardison sebagai tukang Jalur Singa Kuantan dan Cakaran Garuda Muda KONI Riau menjadi momok menakutkan di Tepian Narosa Telukkuantan pada tahun 2023, di mana Jalur Cakaran Garuda Muda KONI Riau berhasil menjadi runner-up di ajang tahunan, sedangkan Jalur Singa Kuantan berhasil menduduki peringkat ke-13.
Jalur Cakaran Garuda Muda dari 3 gelanggang masuk terus di putaran final, 1 kali juara 1 di open turnamen pacu jalur Tepian Pantai Gunung Toar, juara 2 di tepian H Saidina Ali dan juga juara dua di event nasional di Tepian Narosa Telukkuantan.Baca Juga: PPDB Onlne SMP di Inhu Capai 6.370 Peserta, Diterima 6.010 Siswa
Selain Wardison, Khairun (63) juga seorang tukang jalur yang terkenal dari Kecamatan Inuman. Dari tangan dinginnya telah lahir sejumlah jalur yang pernah menjadi juara di Tepian Narosa yang merupakan event puncak pacu jalur di Kuansing. Antara lain Jalur Siposan Rimbo, Sialang Soko dan lain-lain. Memulai karier tahun 1999 setelah sebelumnya hanya membuat perahu bermuatan 9 orang.
Berbekal pengalaman itu, Khairun yang akrab dipanggil Irun ini, mengikut Rusli pamannya yang sudah biasa membuat jalur pacu. Seiring berjalannya waktu Irun menjadi mahir dalam pembuatan jalur. Dia menjadi kepala pembuatan jalur yang membawahi beberapa anggotanya. Sejak beberapa jalur buatannya bisa merajai sejumlah arena pacu jalur di Kuansing, Irul semakin terkenal dan kerap dipakai jasanya untuk pembuatan jalur baru.
Untuk membuat jalur, lanjut Irul, kayu yang dipilih tidak boleh memiliki tekstur terlalu keras dan terlalu lunak. Karena jika jalur keras, maka jalur yang akan digunakan tidak akan laju dan jika terlalu lunak, maka jalur akan cepat lapuk.
‘’Pembuatan jalur paling cepat memakan waktu dua pekan dibantu 3 orang anak tukang dengan peralatan kapak dan ladiang godang. Upah yang saya terima sekitar Rp30 juta,’’ ujar Irun kepada wartawan.
Saat ditemui, Irul sedang membuat Jalur Pangeran Keramat Tangan Biso milik warga Desa Kampung Baru Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuansing.
Selama proses pembuatan jalur, Irul mengaku harus menjauhkan hal-hal yang dilarang agama. Salah satunya tidak boleh mabuk dan berbuat maksiat.
‘’Ada ritual-ritual lah, sebelum dan selama proses pengerjaannya,’’ senyumnya.
Jalur Pangeran Keramat Tangan Biso yang akan diturunkan di festival pacu jalur Agustus 2024 mendatang, merupakan jalur yang keempat yang dibuat desa tersebut. Jalur dengan panjang 34 meter, kedalaman 35 centimeter dan lebar 85 centimeter ini mampu menampung 53 pendayung.
Tradisi Pembuatan Jalur
Jalur milik masyarakat Kuansing ini terbuat dari kayu kure, kunyuang, marsawa, banio, tonam, dan meranti yang memiliki panjang 25 hingga 27 meter dengan diameter 1 hingga 1,25 meter. Kayu yang dipilih ukuran dan jenisnya sangat berpengaruh pada ketahanan dan usia jalur. Mulai dari panjang, diameter, usia serta jenis kayu. Jalur yang dibuat dari kayu meranti mampu bertahan 4 tahun, jenis marsawa akan bertahan hingga 6 tahun jika jalur dirawat dengan tepat.
Pj Kades Kampung Baru Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Mashuri kepada wartawan beberapa waktu lalu menjelaskan, saat ini jenis kayu kure dan tonam, bahan pembuatan jalur sulit didapat. Oleh karena itu, masyarakat menebang kayu di hutan lindung Kenegerian Sentajo yang memiliki luas 350 hektare merupakan hutan adat.
‘’Untuk menebang kayu bahan jalur ini tidak bisa sembarangan, harus ada izin dari Penghulu Kenegerian Sentajo serta Dinas Kehutanan. Jarak tempuhnya sekitar 7 kilometer dari permukiman warga,’’ kata Mashuri.
Untuk membuat jalur, harus melalui tahapan-tahapan seperti maelo jalur, dilayur dan sebaginya.
Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kuansing, Drs Azhar MM menjelaskan, dulu jalur atau kayu gelondongan ditarik beramai-ramai oleh masyarakat setempat dengan menggunakan rotan yang diikatkan di sebuah kayu bulat jenis kempas. Kegiatan menarik kayu gelondongan dari hutan ke desa ini disebut maelo jalur.
‘’Ini satu dari budaya pacu jalur,’’ ujar Azhar.
Kayu yang dipilih juga bukan kayu sembarangan, harus dicari di tengah hutan melalui prosesi magis oleh sang pawang. Ukuran kayu yang ditebang berdiameter 60-80 cm dengan panjang kayu panjang 30-50 meter. Tujuannya agar nantinya bisa ditumpangi 40 hingga 60 pedayung pacu jalur.
‘’Sebelum kayu jalur ditebang, masyarakat menggelar doa bersama atau syukuran,’’ tutur Azhar.
Hal itu dilakukan agar ketika pohon ditebang bisa terhindar dari roh jahat. Prosesi olah batin yang mengandung unsur magis juga dilakukan oleh pawang atau dukun. Setelah prosesi menarik jalur selesai, selanjutnya kayu bulat itu dibuat jalur (perahu atau sampan). Biaya pembuatan satu jalur bisa mencapai puluhan juta rupiah. Setelah maelo jalur, seluruh warga kampung yang berjumlah ribuan ini makan bersama di lokasi yang tidak jauh dari tempat prosesi. Santapan yang dihidangkan adalah konji borayak (bubur khas Kuansing) yang dibungkus dengan daun pisang.
‘’Dalam prosesi maelo jalur biasanya harus melalui musyawarah desa. Ada beberapa aturan yang harus disepakati untuk menjaga kekompakan. Dulu, aktivitas maelo jalur ini diikuti oleh hampir seluruh penduduk kampung. Mereka bergotong royong menjalin rasa kekompakan dan kebersamaan, sehingga kayu atau jalur bisa sampai ke kampung,’’ sebutnya.
Maelo jalur adalah suatu kebudayaan yang masih dipertahankan. Kegiatan menjadi tradisi oleh masyarakat. Nilai budaya yang terkandung dalam maelo jalur adalah kerja keras, keuletan dan kerja sama.
‘’Sebelum jalur dibuat, masyarakat mengadakan rapat untuk membentuk panitia dan tempat pencarian kayu untuk jalur,’’ imbuhnya.
Dalam mencari kayu yang akan digunakan sebagai bahan dasar perahu atau jalur ada banyak proses yang harus dilalui, jika sudah mendapatkan pohon yang cocok untuk dijadikan jalur, maka harus dilakukan tradisi persembahan untuk meminta izin sebelum dilakukan penebangan pohon.
Pemilihan pohon yang dijadikan jalur juga tidak sembarangan, karena kayu yang digunakan akan sangat mempengaruhi hasil lomba nantinya. Di luar peran dari pawang atau dukun jalur tertentu. Masyarakat pun meyakini kalau pohon yang sudah ditebang kemudian dijadikan jalur tersebut akan tetap hidup secara gaib.
Jenis kayu yang digunakan untuk membuat jalur bukanlah kayu yang sembarangan, melainkan kayu yang memiliki nilai spiritual tinggi atau dalam istilah masyarakat tempatnya harus mempunyai mambang (sejenis makhluk halus).
Oleh karena itu, sebelum mencari kayu ke hutan, sang dukun terlebih dahulu melakukan upacara khusus di rumah kepala desa.
Ada dua upacara yang dilakukan dukun tersebut yakni, babalian yaitu suatu upacara tari-tarian yang dilakukan oleh sang dukun dengan iringan musik rebab (sejenis alat gesek), batonung yaitu suatu upacara yang khusus dilakukan oleh dukun untuk mencari kayu dengan cara menggunakan kekuatan magis dan mantra-mantra.
Dukun dapat mengetahui ciri-ciri atau situasi tempat atau lokasi hutan yang akan dituju sehingga mudah untuk menemukannya pada saat pencarian kayu berlangsung.
Setelah ditemukan kayu yang lingkaran batang pohon (diameter) 1-1,5 meter dengan panjang berkisar antara 25-30 meter yang akan didayung oleh 50-60 anak pacu, selanjutnya akan dilakukan penebangan kayu tersebut.
Manobang (menebang) kayu diawali dengan upacara menyemah yaitu semah (sesajen) kepada mambang yang diyakini menunggu kayu tersebut. Upacara ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti menimbulkan bencana bagi tukang dan orang-orang yang menyaksikan acara penebangan kayu tersebut.Baca Juga: Dari Simulasi Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla: Pentingnya Setiap Individu Mampu Menggunakan Alat Pemadam
Upacara dipimpin oleh seorang dukun dengan beberapa rangkaian kegiatan seperti penyembelihan ayam hitam jamui (putih suci), pembakaran kemenyan, tepung tawar, dan sebagainya.
Selanjutnya malembe, yakni membaca doa atau mantra supaya pekerjaan itu berjalan lancar. Setelah dukun membaca mantra-mantra, para tukang mulai menebang dengan mengayunkan beliung sebanyak tiga kali.
Catukan (kepingan kayu) juga disebut sarok ba-antu yang jatuh dari tebasan pertama diambil dan disimpan oleh dukun untuk dijadikan pedoman dalam melakukan proses selanjutnya dan akan dipergunakan sebagai obat jika ada di antara pekerja pembuat jalur sakit. Menurut keyakinan masyarakat, melalui sarok ba-antu tersebut dukun bisa mengetahui perkembangan jalur yang akan dibuat. Setelah kayu mulai rebah, dukun segera melemparkan telur ayam ke pohon kayu untuk memberikan makanan kepada mambang atau penunggu kayu.
Menurut keyakinan dukun, mambang tersebut akan terus mengikuti kayu itu ke mana kayu dibawa. Oleh karena itu, upacara menyemah ini menjadi titik tolak dari kerja sama antara dukun dengan mambang dengan maksud meminta pertolongan hingga pembuatan jalur selesai, bahkan hingga jalur digunakan.
Setelah kayu ditebang dan dibersihkan, barulah pekerjaan membuat jalur dimulai dengan dipimpin oleh dukun dibantu oleh tukang pangapik sebanyak dua atau tiga orang serta masyarakat lainnya yang mau membantu dan pandai bertukang.
Mengabung berarti memotong kayu pada bagian ujung. Setelah kayu rebah, para tukang segera memperkirakan ukuran panjang kayu yang dibutuhkan untuk sebuah jalur.
Selain pekerjaan mengabung, pada proses ini juga dilakukan kegiatan membersihkan keseluruhan kayu yang akan dibentuk dan membersihkan kayu-kayu yang ada di sekitarnya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan dengan lancar. Setelah dibersihkan, proses selanjutnya dilakukan pengukuran dengan menggunakan benang. Dengan benang ini, para tukang dapat memperkirakan perbandingan ukuran pada tiap-tiap bagian jalur yang akan dibuat. Setiap tukang mempunyai bagian masing- masing. Proses pengukuran ini dipimpin oleh kepala tukang sehingga pekerjaan dapat berjalan menurut ukuran yang telah ditentukan.Baca Juga: Cetak Gol Sensasional, Yamal: Saya hanya Ingin Menang, Menang, dan Menang
Setelah diukur, proses selanjutnya adalah membuat bagian dada jalur. Bagian kayu yang biasa dibuat dada jalur adalah bagian atasnya yang diratakan memanjang dari bagian pangkal sampai ke bagian ujung. Proses ini membutuhkan waktu hingga tiga hari. Oleh karena itu, para pekerja dibekali berbagai macam minuman dan makanan, baik makanan berat maupun makanan ringan yang disediakan oleh swadaya masyarakat dan selama bekerja, para tukang dibuatkan pondok atau dangau yang terbuat dari kayu hutan dan dedaunan sebagai atap pondok tersebut.
Setelah diratakan, tahap selanjutnya adalah mengeruk bagian kayu yang telah diratakan. Pekerjaan ini dimaksudkan untuk melubangi kayu secara seimbang dengan ketebalan yang sama di masing-masing bagiannya dengan beliung khusus. Kegiatan mencaruk memerlukan ketelitian dan waktu yang cukup lama yaitu 3-7 hari.
Proses selanjutnya adalah melicinkan bagian luar atau pinggir bakal jalur. Tujuannya untuk membentuk bakal jalur menjadi ramping seperti perahu. Oleh karena itu, pekerjaan ini harus dilakukan dengan ekstra hati-hati dan pelan-pelan.
Setelah jalur dilicinkan, dilakukan penelungkupkan jalur. Pekerjaan ini tergolong berat dan membutuhkan tenaga yang banyak. Oleh karena itu, para tukang meminta bantuan kepada penduduk desa. Atau dilakukan secara gotong royong dengan masyarakat. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada hari libur agar semua masyarakat bisa berpartisipasi.
Pada proses ini tukang tidak hanya menelungkupkan jalur, tetapi juga melepas tali kedua, yaitu mengukur dan meluruskan bentuk jalur. Setelah jalur ditelungkupkan, dibentuklah perut jalur. Pekerjaan ini tergolong rumit dan memerlukan keahlian khusus karena perut jalur harus dibentuk melengkung dari bagian haluan sampai ke kemudi dengan seimbang. Demikian juga kedua sisi atau pinggir jalur harus dibuat secara seimbang. Selain itu, seorang tukang juga harus dapat memperkirakan ukuran tebal pingging jalur secara keseluruhan.
Proses selanjutnya adalah membuat lubang kakok yang dibuat pada jalur dengan menggunakan alat bor. Lubang ini berfungsi sebagai alat kontrol bagi tukang agar tidak meleset pada saat mengukur ketebalan perut jalur. Selain itu lubang kakok juga berfungsi untuk mencegah pecahnya jalur pada saat dipanaskan atau diasap atau dilayur.
Lubang-lubang ini dibuat pada bagian perut jalur secara memanjang dengan jarak 50 cm dan secara melintang dengan jarak 15 cm. Lubang-lubang kakok tersebut nantinya akan ditutup kembali dengan kayu keras yang ukurannya pas dengan lubang tersebut. Kayu penutup itulah yang disebut dengan istilah kakok.
Setelah lubang-lubang dibuat, jalur kemudian ditelentangkan (manggaliak) dan membuat timbuku. Timbuku adalah bendulan-bendulan yang berfungsi sebagai landasan panggar atau tempat duduk.
Timbuku dibuat sejajar di antara kedua sisi perut jalur secara membujur dengan jarak masing-masing timbuku sekitar 60 cm. Pada proses ini para tukang juga sekaligus membersihkan atau menghaluskan perut jalur secara merata dan seimbang.
Proses terakhir adalah membentuk haluan dan kemudi. Pada proses ini bagian yang akan dibuat jalur diukur dengan tepat. Ukuran haluan ini berkisar antara 1-1,5 meter. Setelah itu kemudi dibentuk dengan ukuran kira-kira 2 meter.
‘’Setelah haluan dan kemudi terbentuk, maka sebuah jalur telah dianggap selesai setengah jadi dan siap untuk dibawa pulang ke desa. Pekerjaan ini memerlukan banyak tenaga manusia dan waktu yang cukup lama, yaitu bisa mencapai lima atau enam pekan,’’ terangnya.Baca Juga: Pacu Jalur Satukan Masyarakat Kuansing, 87 Jalur Siap Tempur di Tepian Datuk Bandaro
Jalur setengah jadi tersebut harus ditarik secara beramai-ramai dengan melibatkan seluruh penduduk desa dalam sebuah upacara yang disebut upacara maelo parahu atau jalur.
Pada proses ini dilakukan secara manual dengan menggunakan tenaga manusia menarik jalur dari hutan dan dibawa ke sungai terdekat.
Dalam proses maelo tersebut dilakukan dengan aba-aba. Alat yang digunakan adalah tali pengikat dari rotan yang kuat dan panjang.
Tali tersebut diikatkan pada telinga jalur di bagian depan untuk ditarik oleh orang banyak. Selain ada ikatan di depan, ada juga ikatan tali di belakang untuk pengontrol agar jalur yang dielo bisa lurus.
Agar jalur dapat ditarik dengan mudah pada bagian bawah jalur diberi kayu galangan (kayu bulat) yang berfungsi sebagai landasan yang akan dilalui jalur tersebut. Jalur ditarik sampai ke desa yang dituju. Setelah sampai di desa yang dituju maka pekerjaanpun berlanjut dengan proses menghaluskan.
Proses terakhir adalah malayui parahu pacu (melayur). Melayui parahu pacu adalah istilah yang digunakan pada pekerjaan melayur atau mengasapi jalur. Setelah dianggap cukup pekerjaan membuat dasar jalur, maka pada proses selanjutnya adalah melayur jalur yakni proses pembakaran atau pengasapan jalur.
Proses ini dimulai dari menaikkan jalur ke atas rampaian (tempat pengasapan) setinggi 1,20 meter. Setelah berada di atas rampaian dalam posisi tertelungkup, jalur kemudian diasap dengan membakar kayu di bawahnya. Proses pengasapan ini berlangsung lebih kurang 5 jam, yang dimulai dari pukul 08.00 WIB. Setelah itu jalur ditelentangkan dan sekaligus nyala api dikurangi selama 3 jam. Setelah jalur mulai dingin, tukang naik ke atas jalur untuk memasang panggar yang terbuat dari kayu keras dan berkualitas bagus.
Pemasangan panggar ini memakan waktu 2 jam atau lebih. Setelah pemasangan panggar selesai, jalur segera diturunkan dari rampaian dan diletakkan di tanah yang bersih dan tidak basah atau dengan istilah ke tikar kering. Selanjutnya ular-ular atau tempat duduk anak pacu dari batang pinang yang dibelah-belah selebar 10 cm segera dipasang.
Agar kelihatan lebih indah dan gagah, jalur yang telah siap ini dihias. Sebagai hasil karya seni, jalur dilengkapi dengan hiasan, terutama pada bagian selembayung jalur.
Selain berfungsi sebagai tempat berpegang tukang onjei (menggoyang jalur), selembayung merupakan satu kesatuan bentuk sebuah jalur yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, selembayung harus diberi hiasan yang berukiran untuk memberikan keindahan pada jalur.
Motif-motif ukiran yang dibuat pada selembayung biasanya ada hubungannya dengan nama jalur itu. Misalnya, jika sebuah jalur bernama Naga Sakti, maka motif ukiran pada selembayungnya bermotif naga sakti dan sebagainya. Nama jalur dibuat sesuai kesepakatan masyarakat desa.
Secara terpisah, Pj Kepala Desa Sungai Alah, Hasben kepada Riaupos.co menyebutkan, setiap jalur yang akan diturunkan ke Sungai Kuantan selalu mencari waktu yang mereka anggap punya keberuntungan.
‘’Ini bagian dari tradisi kami. Mencari hari dan jam yang pas untuk menurunkan jalur ke sungai. Selain itu, ada juga yang menyiapkan berbagai benda seperti beras kuning, ayam, buah kelapa, daun-daunan yang dianggap masyarakat Kuansing mempunyai nilai mistik yang juga biasa digunakan masyarakat sebagai obat tradisional,’’ kata Hasben, Senin (17/6).
Hasben membeberkan, terkait orang tua jalur, tidak ada sang pawang yang bisa membuat jalur menjadi laju. Keberadaan orang tua jalur adalah untuk menentukan hari baik ketika akan menuju gelanggang serta menjaga anak pacu dari hal-hal gaib.
‘’Tadi kami menurunkan jalur baru Desa Sungai Alah. Jika melihat kekompakan masyarakat, saya yakin jalur baru ini akan berprestasi seperti yang sudah-sudah. Terima kasih kepada masyarakat dan pemacu dan pengurus jalur. Semoga jalur baru ini semakin berprestasi,’’ kata Hasben.
Camat Hulu Kuantan, Azisman yang juga hadir dalam acara itu meminta kepada masyarakat untuk tetap kompak.
‘’Kuncinya adalah rajin latihan. Jaga marwah desa dan nama baik kecamatan,’’ harap Azisman.
Dalam acara tersebut, masyarakat juga menyiapkan makanan khas Kuansing yaitu konji barayak untuk masyarakat.
Kembali ke kebiasaan masyarakat Kuansing dan Indragiri Hulu dalam prosesi penurunan jalur. Banyak syarat-syarat yang harus dilewati ketika jalur akan keluar dari kandangnya menuju Sungai Kuantan.
Selain mencari hari yang baik, orang tua jalur juga memperhitungkan dan mencari jam yang sesuai dan dianggap memberi rezeki serta keselamatan bagi anak jalur dan masyarakat.
Sepuluh menit sebelum waktu turun ke Sungai Kuantan, doa-doa dengan nada memohon keselamatan dan diberikan rezeki dipanjatkan kepada sang pencipta Tuhan Yang Maha Esa (TYME). Doa selesai, orang tua jalur memberi aba-aba kepada ratusan masyarakat untuk bersiap memegang jalur.
Setelah itu, dengan satu komando, sambil membacakan salawat nabi Muhammad, jalur diangkat bersama menuju Sungai Kuantan. Prosesi sakral ini menjadi tradisi bagi masyarakat yang tinggal di Kabupaten Kuantan Singingi, juga Indragiri Hulu.
Sebagian masyarakat juga meyakini kalau ‘’langkah’’ awal jalur turun ke Sungai Kuantan merupakan hal yang penting. Sebab, ketika jalur keluar dari rumahnya, di situ perhitungan orang tua jalur saat mencari hari dan jam yang tepat membawa keberuntungan.
Menurut salah seorang orang tua jalur bernama Isal saat bercerita dengan Riaupos.co, setiap kayu besar dengan usia ratusan tahun punya ‘’penunggu’’.
‘’Memang dalam pacu jalur, banyak kita temukan mistik yang tidak terjangkau oleh pikiran manusia. Mulai dari memohon minta izin kepada sang penunggu saat penebangan kayu jalur, sampai ada semacam hewan ternak yang dilepaskan di hutan sebagai ganti pohon kayu yang ditebang. Apalagi kalau dulu, banyak sesembahan yang ditinggal di pangkal kayu jalur. Kalau sekarang sudah mulai hilang,’’ kata Isal.
Pada awalnya, pacu jalur diselenggarakan di kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam. Namun, seiring perkembangan zaman, akhirnya pacu jalur diadakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu pacu jalur diadakan sekitar bulan Agustus. Dapat digambarkan saat hari berlangsungnya pacu jalur, Kota Jalur bagaikan lautan manusia. Terjadi kemacetan lalu lintas di mana-mana, dan masyarakat yang ada di perantauan akan terlihat lagi, mereka akan kembali hanya untuk menyaksikan acara ini. Biasanya jalur yang mengikuti perlombaan, bisa mencapai lebih dari 100. Perlombaan yang konon sudah ada sejak tahun 1903 ini menjadi agenda tetap Pemerintah Provinsi Riau untuk menarik wisatawan nusantara maupun mancanegara untuk berkunjung ke Riau, khususnya di Kabupaten Kuantan Singingi.
Bupati Kuansing Suhardiman Amby Dt Panglimo Dalam mengatakan, tradisi pacu jalur ini telah dikenal dunia lewat berbagai eskpose yang dilakukan wartawan maupun pemerintah. Sekarang, tradisi yang sudah berusia seratus tahun lebih itu, sudah masuk menjadi kalender pariwisata nasional.
Pacu Jalur Kuantan Singingi sudah masuk tujuh besar Karisma Event Nusantara (KEN) Pariwisata Indonesia. ''Pemkab berharap, pacu jalur terus menggema, dan bisa tahun ini masuk tiga besar KEN Pariwisata Indonesia," ujar Bupati kepada wartawan.
Bupati menjelaskan, pada pacu jalur hari pertama tahun 2023 lalu terdata jumlah penonton di Tepian Narosa Telukkuantan berkisar 600-700 orang. Sedangkan per harinya menjelang puncak final pacu jalur jumlah penonton tercatat berkisar 400-500 orang setiap harinya.
‘’Data BPS menyebutkan perputaran uang selama kegiatan itu berlangsung mencapai Rp97 miliar,’’ ujar Bupati.
Bupati memberikan contoh sederhana bahwa dalam event yang belangsung lima hari itu terdata total jumlah penonton mencapai 1 juta orang.Baca Juga: Dibuka 8 September, Progres Kesiapan Venue PON Aceh-Sumut Masih Banyak yang Belum Selesai
Pada tahun ini, Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, kembali akan menggelar event nasional pacu jalur, yang telah menjadi kalender kepariwisataan nasional di Tepian Narosa Telukkuantan, pada tanggal 21-25 Agustus mendatang.
‘’Saya berharap event ini akan mampu menyedot jutaan pengunjung (penonton) baik wisatawan lokal, regional maupun mancanegara untuk menyaksikan event nasional pacu jalur tersebut,’’ harap Bupati.***
Editor : RP Edwar Yaman