Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dari Aktivasi DEB Berbasis Biogas Terbesar di Indonesia, Ubah Potensi Limbah Menjadi Berkah

Soleh Saputra • Rabu, 21 Agustus 2024 | 17:32 WIB
Suramti (53) warga Desa Mukti Sari menyalakan kompor gas berenergi biogas dari pengolahan limbah kotoran sapi baru-baru ini.
Suramti (53) warga Desa Mukti Sari menyalakan kompor gas berenergi biogas dari pengolahan limbah kotoran sapi baru-baru ini.

Kumandang azan Subuh sudah sekitar satu jam berlalu. Butiran embun yang menempel di dedaunan pun mulai menghilang. Sinar matahari tampak menembus celah-celah rimbunnya dedaunan pohon kelapa sawit di Desa Mukti Sari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau.

Laporan SOLEH SAPUTRA, Mukti Sari 


Sama seperti para ibu rumah tangga lainnya, Suramti (53) tampak sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi bagi keluarganya. Jika kesibukan menyiapkan sarapan pagi di dapur dan memasak menggunakan kompor gas, adalah hal biasa yang dilakukan oleh para kaum ibu. Namun ada yang berbeda dengan kondisi dapur milik Suramti. Selang gas pada kompornya tidak tersambung ke tabung gas elpiji, yang biasa menjadi sumber energi kompor. Melainkan tersambung ke pipa yang berada di tembok dinding dapurnya.

Jika ditelusuri, pipa tersebut tersambung ke reaktor berukuran 8x3 meter yang berada di kandang sapi, tepat berada di belakang rumahnya. Reaktor yang ditutup rapat tersebut berisi limbah kotoran sapi. Limbah kotoran sapi inilah yang dimanfaatkan menjadi biogas untuk energi kompor milik Suramti.

Ya, sudah sejak tahun 2022 tahun lalu, Suramti dan suaminya Sudarman (52) tidak lagi menggunakan elpiji untuk keperluan memasak. Hal ini setelah PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), memilih Desa Mukti Sari untuk mendapatkan program Desa Energi Berdikari (DEB) memanfaatkan energi terbarukan yakni biogas yang dihasilkan dari limbah kotoran sapi.

Untuk mengembangkan program DEB tersebut, PHR juga menggandeng Yayasan Rumah Energi (YRE) sebagai mitra pelaksana. Selanjutnya juga dibentuk kelompok yang diberi nama Bina Mukti Sari yang diketuai oleh Sudarman yang kemudian diberikan pelatihan dan pendampingan untuk menjalankan program DEB.

“Semenjak ada program pemanfaatan biogas dari kotoran sapi ini, kami memasak sudah tidak memakai gas elpiji lagi,” kata Sudarman.

Disebutkannya, selain dirinya dan keluarga, program DEB di Desa Mukti Sari saat ini juga sudah dimanfaatkan oleh 20 keluarga lainnya. Untuk pengembangan program tersebut, total sudah ada 21 reaktor biogas yang dibangun di desa yang mayoritas warganya bekerja sebagai petani kelapa sawit tersebut. “Total ada 21 keluarga yang saat ini memanfaatkan,” ujarnya.

Dijelaskan Sudarman, sebelum dimanfaatkan menjadi biogas, limbah kotoran sapi hanya dibuang begitu saja di belakang rumah. Kemudian ada juga yang memanfaatkan sebagai pupuk kompos. Aktivitas ini menurutnya tidak jarang menimbulkan masalah baru, yakni pencemaran udara berupa bau yang cukup mengganggu.

“Sebelum diolah menjadi biogas, kotoran sapi ini hanya dibuang di belakang rumah. Ada juga yang dijadikan kompos,” sebutnya.

Sudarman juga mengatakan, untuk mengolah kotoran sapi menjadi biogas cukup sederhana. Awalnya, ia hanya perlu memasukkan kotoran sapi ke tempat pengadukan. Pada proses ini, kotoran sapi kemudian ditambahkan air. Setelah kotoran sapi dan air tercampur merata, kemudian cairan tersebut dimasukkan ke dalam reaktor.

“Di dalam reaktor inilah kemudian perpaduan antara kotoran sapi dengan air menghasilkan gas. Gas inilah yang kemudian menjadi energi untuk menjadi api kompor gas,” jelasnya.

Dipaparkannya, program DEB ini terbukti membangun kemandirian energi dan ekonomi masyarakat. Karena, saat ini setiap bulannya masyarakat yang sudah menerima manfaat program DEB bisa menghemat pengeluaran hingga Rp60 hingga Rp80 ribu perbulan.

“Sekarang masyarakat kami bisa hemat mulai Rp60 hingga Rp80 ribu per bulan. Karena tidak perlu lagi membeli gas elpiji,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, limbah kotoran sapi di Desa Mukti Sari tidak hanya dimanfaatkan untuk biogas saja. Namun saat ini, limbah padat dan cair sisa endapan di dalam reaktor biogas atau bioslurry juga dimanfaatkan sebagai pupuk yang lebih ramah lingkungan. Pupuk bioslurry yang diolah tersebut dibagi menjadi dua, yakni Pupuk Organik Cair (POC) dan Pupuk Organik Padat (POP) atau pupuk kompos.

“Untuk bioslurry dari pemanfaatan biogas itu saat ini juga kami olah menjadi pupuk. Pupuk dari bioslurry ini kami jual dengan harga Rp30 ribu per liter untuk POC bioslurry dan Rp3 ribu per Kg untuk pupuk kompos,” sebutnya.

Berkat bantuan dari PHR, pemasaran produk POC bioslurry mereka juga sudah menjangkau ke luar Pulau Sumatera. “Untuk pemasaran POC bioslurry selain ke luar Kabupaten Kampar, juga sudah kami kirim ke Jawa Barat,” katanya.

Dijelaskan Sudarman, hasil penjualan POC bioslurry kemudian dimasukkan kedalam kas kelompok. Dengan tujuan akan digunakan untuk pengembangan usaha agar lebih maju kedepannya.“Saat ini, dari hasil penjualan POC bioslurry sudah terkumpul Rp15 juta di kas kelompok. Itu untuk hasil penjualan selama enam bulan. Jadi selain bisa menghemat pengeluaran pembelian gas elpiji, melalui program DEB PHR ini kami juga mendapat berkah berupa pemasukan tambahan dari menjual bioslurry,” jelasnya.

Kepala Desa Mukti Sari Waryono mengatakan, program pembinaan yang dilakukan PT PHR dalam memanfaatkan limbah kotoran sapi menjadi biogas telah menjadi sumber pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dari program ini, ada 21 reaktor biogas yang dibangun oleh PHR di desanya. “Banyak manfaat yang kami rasakan, seperti ibu-ibu tidak perlu repot membeli gas lagi. Dan tidak takut ada kelangkaan gas, karena sebelum adanya pemanfaatan biogas ini, warga Desa Mukti Sari pernah mengalami kelangkaan gas elpiji,” sebutnya.

Ubah Limbah Menjadi Berkah

Baca Juga: Pengusaha Abai DPPLH, Meranti Terancam Limbah Sagu

 Program Manager Biogas Rumah Yayasan Rumah Energi (YRE) Krisna Wijaya mengatakan, YRE adalah lembaga yang konsen pada bidang energi terbarukan, isu-isu lingkungan, perubahan iklim dan termasuk juga pengembangan kewirausahaan sosial. Untuk di Desa Mukti Sari, pihaknya bekerjasama dengan PHR untuk mengembangkan DEB, tidak hanya pengembangan energi terbarukan saja tetapi bagaimana pengembangan ekonominya.

“Karena itu kami di Desa Mukti Sari ini memanfaatkan limbah-limbah peternakan, dalam hal ini kotoran sapi untuk sumber energi  yang diolah menjadi biogas dan bisa digunakan untuk memasak para ibu rumah tangga,” katanya.

Dijelaskan Krisna, melihat potensi limbah peternakan yang ada, dimana awalnya hanya dibuang ke sungai depan rumah, kemudian dibuang ke halaman. Pihaknya bersama PHR kemudian berpikir untuk bagaimana bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi.

“Jadi awalnya kami berpikir untuk bagaimana memanfaatkan potensi limbah yang dulunya menjadi musibah menjadi berkah,” katanya.

Selain mendatangkan berkah bagi masyarakat, dengan dilakukan pengolahan kotoran sapi juga bisa menjaga lingkungan. Yang mana, kotoran sapi mengandung bakteri patogen, Escherichia coli dan lainnya. Dan jika dibuang ke sembarang tempat akan mencemari lingkungan sekitar.

“Dengan dimanfaatkan menjadi biogas, bakteri-bakteri yang ada di kotoran sapi akan mati. Sehingga akan sangat aman sekali digunakan sebagai pupuk. Dengan kata lain, emisi yang dihasilkan dari kotoran sapi, dengan diolah menjadi biogas tidak jadi mencemari lingkungan. Jadi kita bisa mereduksi emisi yang timbul dari kotoran sapi,” jelasnya.

Selain untuk keperluan rumah tangga, biogas yang tersedia saat ini juga sedang diinisiasi untuk dikembangkan menjadi bisnis mendukung UMKM skala kecil yang ada di desa. “Jadi nantinya para ibu-ibu pengelola UMKM yang membuat makanan ringan memasaknya juga akan menggunakan biogas,” sebutnya.

Manager Corporate Social Responsibility (CSR) PHR WK Rokan Pinto Budi Bowo Laksono mengatakan, PHR sebagai salah satu pilar penyangga energi nasional, turut berupaya untuk mendukung kemandirian masyarakat melalui program-program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Seperti yang dilaksanakan di desa Mukti Sari dengan membuat program DEB.

“Desa Energi Berdikari ini merupakan program TJSL pada pilar lingkungan dan ekonomi dari PT Pertamina (Persero) dan Pertamina Hulu Energi yang merupakan sub holding upstream yang turut diadopsi oleh PHR,” katanya.

Pada program DEB ini, masyarakat diberikan akses untuk penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan memanfaatkan biogas. Dimana, sejak tahun 2022, PHR sudah melakukan program DEB di dua lokasi yakni di Desa Mukti Sari dan Kelurahan Maharani di Kecamatan Rumbai Barat, Pekanbaru.

 “Kami berharap dengan memberikan program DEB berbasis biogas ini, PHR turut memberikan andil memberikan akses energi terjangkau dan juga meningkatkan kualitas hidup dari masyarakat, dengan manfaat ekonomi yang didapat dari tambahan yang diterima. Dan ini juga turut membantu mengurangi pencemaran udara serta polusi lingkungan. Kami sangat senang karena manfaatnya betul-betul dirasakan masyarakat,” ujarnya.

DEB di Desa Mukti Sari ini merupakan satu dari 28 DEB yang ada di Indonesia. Dan DEB Mukti Sari merupakan yang terbesar di Indonesia dibidang biogas dari 28 DEB yang ada tersebut. Dengan total kapasitas reaktor 165 meter kubik dengan total 21 sambungan biogas yang digunakan untuk memasak.

“DEB dibidang biogas menggunakan kotoran sapi di Desa Mukti Sari ini secara resmi sudah dilakukan aktivasi Juni 2024 lalu. Dan DEB ini juga merupakan yang terbesar di Indonesia dari 28 DEB dibawah binaan Pertamina untuk bidang biogas, dimana sudah menjangkau 21 rumah, termasuk pondok pesantren. Sehingga total penerima manfaat sebanyak 170 orang. Kami percaya kedepan ini akan bisa bertambah. Tentunya dengan support dan dukungan dari semua pihak,” ujarnya.

Sejalan dengan Program Pemerintah

Pj Bupati Kampar Hambali juga mengatakan, pihaknya mengucapkan terimakasih kepada PT PHR yang sudah memberikan pembinaan kepada warga Desa Mukti Sari. Pihaknya berharap program pembinaan ini tidak hanya dilakukan di Desa Mukti Sari saja, karena di Kabupaten Kampar terdapat banyak desa.

“Terimakasih kami ucapkan kepada PT PHR yang sudah membina warga Desa Mukti Sari dalam memanfaatkan biogas dengan potensi yang ada. Kami harapkan program ini tidak hanya di Mukti Sari saja, namun juga ke daerah lainnya di Kampar karena sudah terbukti sukses dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” katanya.

Sekretaris Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Riau Sakinah mengatakan, di Dinas ESDM Riau juga memiliki bidang yang menangani EBT. Bidang ini fokus untuk memanfaatkan potensi EBT yang ada di Riau untuk menjaga ketersediaan energi. Sama seperti yang dilakukan oleh PHR.

“Karena itu kami juga mengucapkan terimakasih kepada PT PHR yang telah membina warga Mukti Sari dalam pengelolaan biogas dari limbah kotoran sapi menjadi EBT. Kami berharap untuk kegiatan yang berdampak positif juga bisa dilaksanakan di wilayah lain. Karena dengan memanfaatkan EBT ini, juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Dan pastinya juga sejalan dengan  program pemerintah dan hal menjaga ketersediaan energi yang ramah lingkungan,” sebutnya.(***)

Editor : Rindra Yasin
#DEB #Selang gas #kompor gas #pipa