Desa Belangian dulunya dikenal sebagai “desa hantu”. Para hantu itu pun pergi entah ke mana ketika warga desa yang terkena proyek PLTA Riam Kanan mengungsi ke kawasan tinggi di Pegunungan Meratus ini. Bahkan desa ini menjadi magnet yang luar biasa dan didatangi turis, tak hanya lokal, tapi juga mancanegara. Status kawasan yang sudah menjadi taman bumi (geopark), dengan nama Meratus Geopark, menjadikannya lebih bermagnet besar.
Laporan MUHAMMAD AMIN, Belangian
KLOTOK-klotok. Begitulah bunyi mesin perahu bermotor khas masyarakat sekitar Danau Riam Kanan, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, ketika mulai dihidupkan. Mereka pun menyebutnya perahu klotok. Bunyi mesin Donfeng itu tak reda kendati perahu telah berlayar. Klotok-klotoknya cukup membisingkan. Sejumlah perahu bergerak dari Dermaga Bukit Batu sekitar pukul 10.00 WIB, Rabu (21/8/2024).
Tujuannya Desa Belangian, Kecamatan Aranio. Salah satu klotok dikemudikan Saifuddin, warga Desa Tiwingan Baru, Kecamatan Aranio. Saifuddin tampak santai kendati rute yang dilalui melewati banyak sekali “rintangan”.
Di kiri kanan jalur yang dilalui perahu, banyak pucuk pohon mati. Beberapa pohon tumbuh di pulau-pulau kecil seluas lapangan voli di tengah Danau Riam Kanan. Ada juga yang seluas lapangan sepakbola. Penampakan pucuk pohon dan beberapa pulau kecil adalah kawasan lama penduduk Desa Kalaan yang dijadikan waduk sejak 1965.
“Sudah biasa. Jadi sudah tahu rutenya,” ujar Saifuddin soal beberapa ”rintangan” itu.
Apalagi aparat Polairud disiagakan dan mengawal. Di lain waktu pun, menurut Saifuddin, ketika tidak dikawal, dia sudah hapal rute Danau Riam Kanan, sehingga perahu tidak perlu kandas karena memasuki jalur dangkal.
Perahu klotok terus melaju ke arah hulu. Setengah jam kemudian, perahu klotok ini mulai memasuki Sungai Riam Kanan yang sebenarnya. Areal yang tenggelam dari Desa Kalaan lama sudah tidak ada. Makin lama, sungai makin menyempit, hanya selebar sekitar 30 meter, hingga sampai ke Dermaga Desa Belangian.
“Sabtu dan Ahad banyak yang menyewa klotok. Kalau hari biasa jarang. Biasanya pengunjung memang ke Lembah Kahung atau sekadar mancing di Danau Riam Kanan,” ujar Saifuddin.
Baca Juga: Baleg DPR Lakukan Pembangkangan Konstitusi, Ini Kata Ketua MKMK I Dewa Gede Palguna
“Desa Hantu” yang Jadi Magnet
Desa Belangian merupakan desa yang relatif tinggi sejak ditenggelamkan pada 1965-1970 dengan proyek pembangunan PLTA Riam Kanan. Sejak jadi desa, mulai pula desa ini dikenal sebagai desa wisata, kendati tidak banyak yang tahu. Hanya beberapa ilmuan dan turis dengan tujuan khusus yang tahu. Desa Belangian menjadi bagian dari dataran tinggi karena posisinya lebih tinggi 65 meter dibandingkan desa lama yang tenggelam.
Kini, desa ini menjadi bagian dari Pegunungan Meratus dengan beberapa puncak. Puncak tertinggi ada di Puncak Kahung Besar dengan ketinggian 1.456 meter dari permukaan laut (MDPL). Rata-rata ketinggian pegunungan ini mencapai 1.000 meter. Desa ini berada di jantung Meratus Geopark.
Herdi Yani, seorang tukang ojek Lembah Kahung, warga Desa Belangian, menyebut, dirinya tidak pernah melihat desa asalnya, Kalaan, yang sudah tenggelam itu. Akan tetapi kedua orang tuanya merupakan penduduk asli Desa Kalaan. Keduanya lahir dan besar di sana.
“Sejak lahir 1992, ulun sudah di Belangian,” ujar Herdi.
Salah seorang warga senior Belangian, H Asnawi (98 tahun) menceritakan bagaimana proses tenggelamnya desa tempatnya tinggal mereka di Kalaan. Prosesnya begitu cepat hingga dia hampir tak bisa menyelamatkan barang. Memang, sebelum desa mereka tenggelam, pemerintah sudah memerintahkan pindah. Akan tetapi ada saja yang lalai.
Pembakal (Kepala) Desa Belangian Aunul Khoir menyebutkan, proses pembangunan waduk cukup lama, mencapai 15 tahun, yakni antara tahun 1965 hingga 1970. Tentu saja ada proses yang agak bermasalah, seperti barang-barang yang tidak terangkut ke desa baru. Sampai akhirnya desa lama itu benar-benar tenggelam.
“Tahun 1973 waduk itu diresmikan Presiden Soeharto,” ujar Aunul Khoir.
Ada delapan desa yang tenggelam ketika itu, yakni Desa Kalaan, Benua Riang (Rantau Halayung), Minunggul, Tiwingan, Apuai, Rantau Bujur, Rantau Balai, dan Bunglai. Warga desa pindah dan tersebar ke beberapa kawasan yang lebih tinggi. Beberapa di antaranya adalah desa dengan nama yang sama, dengan tambahan baru, misalnya Kalaan Baru dan Tiwingan Baru.
Yang unik adalah Desa Belangian. Nama ini diambil dari nama tempat atau telaga yang menjadi tempat sesajen masyarakat zaman dulu. Sebelum kedatangan masyarakat Kalaan ke desa baru ini, banyak masyarakat pegunungan yang datang mengantarkan sesajen di tempat ini. Menurut cerita yang beredar, tempat ini dulunya banyak roh halus dan tiap tahun dilakukan sesajen agar mereka tidak mengganggu.
Belangian sendiri berasal dari kata “balai” yang berarti rumah atau tempat pertemuan dan “ngian” yang berarti hantu atau makhluk gaib. Telaga inilah yang dijadikan tempat berkumpulnya para jin dan makhluk halus dan selalu diberi sesajen pada bulan September.
Menurut kepercayaan masyarakat lama sebelumnya, jika ada orang meninggal, maka rohnya akan gentayangan. Mereka akan datang melalui sungai dan danau menuju tempat khusus. Salah satu sungainya bernama Sungai Liang Hantu.
“Sungai Liang Hantu di belakang masjid kami sekarang,” tambah Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Belangian, Hasriani.
Di hulu sungai agak naik ke gunung, terdapat beberapa batu besar yang pipih. Di sanalah sesajian itu diletakkan. Mereka adalah “orang-orang gunung” yang sudah tidak ada lagi sekarang.
“Sejak kami datang, tidak ada lagi tampak mereka,” ujar Hasriani.
Pembakal Desa Belangian Aunul menambahkan, awalnya hanya 30 orang yang pindah. Lama-kelamaan, penduduk desa bertambah menjadi 105 kepala keluarga dengan 350 orang saat ini. Kendati relatif tidak sebanyak warga desa-desa di tempat lain, tapi isu hantu dan jin tidak pernah lagi mencuat. Masyarakat Belangian juga tak pernah takut pada cerita hantu. Kendati demikian, nama “tempat kumpul hantu/belangian“ sudah telanjur melekat pada tempat ini.
“Sejak 1982, desa ini diberi nama Belangian. Awalnya dulu hanya dusun atau RT saja,” ujar Aunul Khoir.
Magnet Wisata Baru
Nama unik yang disandang Belangian dan cerita mistis di balik itu menjadi bagian dari promosi wisata di tempat ini. Belangian ditetapkan sebagai desa wisata sejak 2019 oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjar. Sejak 1982, sebenarnya sudah ada wisatawan yang datang, baik dalam bentuk wisata edukasi, pertanian, kehutanan atau bahkan penelitian internasional.
Beberapa peneliti dari Amerika Serikat (AS) tertarik pada hutan dan bentangan alam di sekitar Desa Belangian. Datang juga pecinta alam Kanada, peneliti dari Swedia, dan beberapa negara lainnya. Termasuk ada peneliti Jepang yang datang untuk meneliti bunyi burung uwak-uwak dan bagaimana membedakan yang jantan dan betinanya.
“Sejak itu, makin ramai kunjungan,” ujar Aunul Khoir.
Wisata edukasi pertanian dan edukasi kerajinan juga diminati dari desa ini. Wisata edukasi pertanian dilakukan saat musim tanam (tugal). Sedangkan edukasi kerajinan dilakukan dengan membatik khas Banjar, yakni batik Sasirangan ekoprint.
“Jadi kami padupadankan menjadikan saekoprint,” ujar Aunul Khoir.
Semua bahan untuk ekoprint batik sasirangan ini diambil dari alam Belangian. Pewarnaan misalnya diambil dari akar pohon seperti akar alaban, akar bingkudu, bangar (kunyit), rambutan. Semuanya jadi pewarna alam. Motifnya juga demikian. Motifnya menggunakan daun, rumput dan daun buah-buahan. Daun yang digunakan adalah daun tak banyak airnya dan mau tinggalkan jejak di atas kain.
“Yang tak bisa daun yang banyak air dan licin atau tak bisa meninggalkan jejak di daun,” ujarnya.
Ada dua cara pembuatan batik sasirangan khas Banjar ini, yakin ponding dan kukus. Ponding adalah meletakkan daun di atas kain dan dipukul-pukul agar lengket. Cara kedua adalah sistem kukus. Cara kedua ini lebih cepat karena cuma menyusun daun tanpa perlu memukul secara manual.
“Batik sasirangan ini tiada duanya karena daunnya pasti berbeda satu sama lainnya,” ujarnya.
Baca Juga: Jokowi Beri Sinyal Gabung Golkar, Kenakan Kemeja Kuning Hadiri Munas Partai Golkar
Berkah Geopark
Dijadikannya Desa Belangian menjadi bagian dari kawasan Meratus Geopark tentunya menjadi berkah tambahan bagi desa ini. Berbagai infrastruktur desa digesa untuk memadukan aspek geopark, yakni bentangan alam (geologi), biologi (makhluk hidup), dan kebudayaan. Terdapat juga kearifan lokal yang dijaga masyarakat Desa Belangian dalam melestarikan alam di desa ini sehingga magnet ekowisata di tempat ini tidak hilang. Salah satunya adalah cara mereka merawat alam.
Menurut Aunul Khoir, masih banyak kawasan hutan di sini yang benar-benar perawan. Salah satu caranya adalah dengan menjadikan pohon-pohon besar menjadi milik individu masyarakat. Menjadi milik individu bukan berarti mereka bebas menebang, akan tetapi justru wajib menjaga.
“Tanggung jawab individu menjaganya,” ujar Aunul Khoir.
Beberapa pohon memang tampak sangat perkasa di hutan-hutan Desa Belangian. Sebuah pohon binuang jantan, misalnya, memiliki tinggi 60 meter dengan diameter 2 meter. Pohon itu sudah ada “pemiliknya”, dan sang pemilik wajib menjaganya.
“Jadi alam ini memang harus dijaga dan kita selalu harmonis dengan alam,” ujarnya.
The Soul of Borneo
Terpisah, Ketua Unit Pengelola Geosite kawasan Geopark Meratus, Ali Mustofa menyebut, terdapat tiga persyaratan untuk menjadi sebuah UNESCO global geopark. Tiga prasyarat itu sudah dimiliki, bahkan sangat kuat pada Pegunungan Meratus. Syarat pertama adalah keunggulan geologis. Bebatuan di sekitar Pegunungan Meratus adalah batuan yura atau jura, yang seakar dengan kata jurassic atau hewan buas purba, yang dikenal dalam film Jurassic Park. Terjadi pertemuan dua lempeng benua di dasar lautan purba pada 200 juta tahun yang lalu. Batuan itulah yang mengeras sedemikian rupa sehingga beberapa di antaranya menjadi batu terkeras di planet ini, intan.
“Martapura dikenal penghasil intan dan itu merupakan batuan purba,” ujar Ali yang juga Kabid Geologi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Selatan ini.
Keunggulan kedua adalah kekayaan flora dan fauna. Pegunungan Meratus memiliki berbagai fauna yang khas, di antaranya yang paling terkenal adalah bekantan (Nasalis Larvatus). Bekantan merupakan satwa khas Kalimantan dengan bentuk yang juga khas, yakni berhidung panjang.
“Akibat ciri khasnya ini, bekantan sering juga disebut sebagai monyet bule atau monyet Belanda,” ujarnya.
Bekantan hidup di kawasan mangrove (bakau). Selain bekantan, di Pegunungan Meratus juga hidup mamalia lainnya seperti kera abu-abu, kijang pelaihari, rusa sambar, owa-owa, beruang madu, luwak, tupai, dan beberapa jenis kucing hutan. Berbagai jenis katak, kupu-kupu dan ular juga bisa ditemukan di pegunungan ini. Di antaranya yang khas adalah kobra Kalimantan.
Beberapa jenis ikan khas seperti ikan haruan, sepat siam, ikan betok dan ikan tambakan juga bisa ditemukan di kawasan ini. Beberapa jenis ayam hutan juga ada di pegunungan ini. Selain itu, ada juga beberapa jenis burung, di antaranya burung hantu disebut warga sebagai kukulai, burung peragam, burung kuntul, burung buburak, burung punai, burung belibis, burung bubut, burung serindit, dan bantiungan.
Adapun flora yang paling mentereng di Pegunungan Meratus adalah anggrek. Bahkan beberapa di antaranya adalah anggrek yang dilindungi, misalnya anggrek tebu (Grammatophyllum Speciosum) dan anggrek sendok (Spathoglottis Urea). Beberapa anggrek lainnya adalah Acantheppium, Arundia, Bulbophylum, Cymbodium, Calanthe, Ceologyne, Dendrobium, Eria, Grammothphylum, Phapiopedilum, Spathoglottis, dan Vanda.
Adapun pohon yang paling dikenal dari Meratus adalah pohon ulin atau kayu besi (Eusideroxylon Zwageri). Kayu ulin bahkan jadi bagian kehidupan di Kalsel karena kekuatannya. Selain kayu ulin, ada juga meranti, wangun, halaban, tarap, binuang, putat, aneka bambu dan durian hutan.
Keunggulan ketiga adalah budaya. Di antaranya adalah adanya budaya batik sasirangan yang bahan bakunya berasal dari dedaunan di bentangan alam Meratus.
“Bahkan kini sedang dipopulerkan istilah ‘Ungkapkan dengan Sasirangan’. Artinya sering-seringlah berbagi dengan sasirangan,” ujar Ali.
Dia juga menyebutkan bahwa dua suku besar di Kalimantan Selatan, yakni Banjar dan Dayak dipersatukan berkat bentangan alam. Orang Dayak umumnya tinggal di hutan dan dataran tinggi. Sedangkan orang Banjar tinggal di dataran rendah, yakni di pantai dan sungai-sungai. Keduanya dipertemukan di sungai dalam transaksi dagang antara komoditas gunung dan komoditas laut atau sungai.
“Makanya ada pasar terapung dan itu merefleksikan perpaduan budaya dari dua suku. Pegunungan Meratus salah satu yang menyatukan itu. Makanya kerap juga disebut Meratus itu sebagai jiwanya Borneo. The soul of Borneo,” ujar Ali.
Ketua Harian Badan Pengelola Geopark Meratus, Hanifah Dwi Nirwana menambahkan, tiga keunikan Geopark Meratus, dari segi geologi, biologi, dan budaya, ini akan terus disosialisasikan kepada masyarakat. Ketiganya merupakan perpaduan harmonis untuk meningkatkan pariwisata dan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat sekitar. Di antara yang menarik adalah berbagai geoproduk, misalnya batik sasirangan khas Kalimantan Selatan. Produk sasirangan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari Meratus, baik sisi budaya, biologi, maupun geologi. Hal yang sama juga berlaku pada geoproduk lainnya, seperti tenunan purun.
“Kita perlu membangun rasa bangga terhadap produk lokal sekaligus menjaga alam dan budaya,” ujar Hanifah.
Ketua Jaringan Geopark Indonesia, M Farid Zaini, mengatakan, Meratus Geopark merupakan satu dari dua puluh geopark yang ada di Tanah Air. Sepuluh di antaranya sudah menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark (UGG), sebuah tingkatan geopark yang lebih tinggi dan diakui dunia. Di dunia, terdapat 500 geopark dan 213 di antaranya sudah menjadi global geopark, termasuk sepuluh dari Indonesia. Sementara sepuluh lagi masih berstatus geopark nasional, termasuk di antaranya Meratus Geopark. Tapi Meratus Geopark bersama tiga lainnya sedang diajukan ke UNESCO dan tahun depan sudah ada hasilnya.
“Mudah-mudahan tahun depan kita memiliki tambahan empat global geopark lagi, termasuk Meratus Geopark,” ujar Farid.
Sepuluh global geopark di Indonesia yang sudah diakui UNESCO adalah Batur Geopark, Gunung Sewu Geopark, Gunung Rinjani Geopark, Ciletuh Geopark, Belitung Geopark, Kaldera Danau Toba Geopark, Ijen Geopark, Maros Pangkep Geopark, Merangin Jambi Geopark, dan Raja Ampat Geopark. Menurut Farid, peluang Meratus Geopark jadi global geopark sangat terbuka mengingat persyaratan geologis, budaya, serta flora dan fauna Meratus Geopark sangat kuat. Batuannya yang sudah berumur 200 juta tahun, fauna khasnya bekantan, dan perpaduan budaya antara Banjar dan Dayak menjadi tiga hal yang penting bagi status global geopark bisa terpenuhi.
“Kalau jadi 14 global geopark, maka Indonesia menjadi peringkat ketiga negara dengan jumlah global geopark terbanyak di dunia,” ujar Farid.***
Editor : RP Edwar Yaman