Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ekosistem Hutan Rawa Air Tawar Khas Sumatera di Tengah Kota: ''Oase'' bagi Spesies Langka Asli Sumatera

Henny Elyati • Jumat, 30 Agustus 2024 | 15:20 WIB

 

Salah seorang alumni Fakultas Kehutanan Unilak Reza yang sekaligus pemandu wisata Taman Kehati Arbretum menunjukkan salah satu pohon jangkar yang tumbuh subur di sana, Selasa (27/8/2024).
Salah seorang alumni Fakultas Kehutanan Unilak Reza yang sekaligus pemandu wisata Taman Kehati Arbretum menunjukkan salah satu pohon jangkar yang tumbuh subur di sana, Selasa (27/8/2024).

Universitas Lancang Kuning (Unilak) memiliki Taman Kehati Arboretum dengan luas lebih kurang 14 hektare yang merupakan ekosistem hutan rawa air tawar khas Sumatera (indigenous species) yang berada di tengah kota yang padat permukiman penduduk (remnant forest). Kondisi seperti ini sulit ditemukan di lanskap perkotaan di daerah mana pun.

 

Laporan HENNY ELYATI, Pekanbaru

SAAT memasuki area kampus Unilak, mata sudah dimanjakan dengan danau yang luas dengan berbagai tanaman melati air (echinodorus palaefolius), padi apung, genjer dan tanaman-tanaman lain yang hidup di rawa. Pemandangannya cocok sekali untuk dijadikan sebagai tempat melepas penat di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari.

Kawasan danau ini merupakan ekoriparian yang dibangun PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.

‘’Ekoriparian ini komitmen nyata PHR dalam menjaga kelestarian lingkungan di Provinsi Riau dan bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PHR yang telah berhasil diselesaikan dengan sukses,’’ ujar Analyst Social Performance PHR, Priawansyah kepada wartawan saat mengunjungi ekoriparian Unilak, Selasa (27/8/2024).

Fasilitas ekoriparian ini menjadi langkah nyata PHR dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Ekoriparian merupakan kombinasi restorasi sempadan sungai dengan kegiatan penurunan beban pencemaran khususnya dari limbah domestik dan sampah, dan selanjutnya menjadikannya sebagai pusat edukasi lingkungan dan ekowisata.   

Yang paling menarik adalah saat mengunjungi Taman Kehati Arboretum. Udara segar, sejuk langsung menyentuh kulit dan hidung. Pernapasan sangat lega saat berada dalam kawasan hutan ini.

Taman ini bahkan menjadi oase bagi spesies langka asli Sumatera baik tumbuhan maupun satwa liar. Keberadaannya yang berada di kawasan kampus Unilak sudah ditetapkan sebagai kawasan lindung, membuatnya tetap terpelihara, asri dan lestari. Suasananya nyaman, tenang dan rindang.

Hutan yang tersisa (remnant forest) di tengah kota ini berjarak sekitar 9,1 kilometer dari kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim dan sekitar 22,8 kilometer dari Taman Wisata Alam Buluh Cina. Secara ecoregion, Taman Kehati Arboretum Unilaik ini termasuk dalam ecoregion hutan rawa air tawar Sumatera. Berjarak sekitar 2,6 kilometer dari kesatuan hidrogolis gambut (KHG) Sungai Tapung Kiri-Sungai Kiyap dan 10 kilometer dari HKG Sungai Kiyap-Sungai Kerinci.

Wakil Dekan Fakultas Kehutanan Unilak, Dodi Sukma kepada wartawan menjelaskan, dengan luas 14 hektare, Taman Kehati Arboretum ini menyimpan 173 spesies pohon dan 87 satwa liar.

‘’Beberapa di antaranya merupakan spesies terancam punah, bahkan beberapa pohon juga langka,’’ ujar Dodi.

Dijelaskan Dodi, hasil penelitian yang dilakukan di Taman Kehati Arboretum Unilak ada 173 spesies pohon, 139 di antaranya merupakan spesies asli Sumatera dan 34 spesies merupakan introduksi dari luar Sumatera. 

‘’Sebanyak 109 spesies merupakan pohon yang tumbuh secara alami, sedangkan 57 spesies merupakan tanaman pengkayaan yang kita lakukan,’’ sebut Dodi.

Taman Kehati Arboertum ini memiliki kekayaan satwa liar yang tinggi. Ditemukan 87 spesies satwa yang terdiri dari 6 spesies mamalia (6,9 persen), 23 spesies reptilia (26,4 persen), 11 spesies amfibia (12,6 persen) dan 47 spesies burung (54 persen).

Dodi menyebutkan, ada 10 hektare lahan dipenuhi pepohonan yang masih alami dan dihiasi kicauan burung dan hewan di alam terbuka tersebut. Sebanyak 200 jenis spesies tanaman endemik dan tanaman lainnya juga tumbuh subur di sana.

Hewan melata seperti ular kobra, piton, cincin kuning dan ular piper juga hidup di Hutan Taman Kehati Arboretum tersebut. Bahkan, Unilak memberikan pendampingan edukasi bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana alam terbuka di hutan alami ini.

Sebagai sarana edukasi, semua pohon di Taman Kehati diberi barcode identitas atau jenis pohon yang dapat diakses menggunakan smartphone masing-masing.

‘’Taman ini didesain sebagai destinasi wisata edukasi berbasis ekologi atau eco-edu wisata,’’ tegasnya.

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya konservasi keanekaragaman hayati, khususnya spesies dan ekosistem. Sehingga tumbuh kesadaran masyarakat untuk mengubah pola pikir dan perilaku cinta Tanah Air dan lingkungan yang bermuara para perilaku hidup sehat dan ramah lingkungan.

Ekosistem hutan rawa air tawar Sumatra merupakan ekosistem lahan basah yang bersifat fragile atau sangat sensitif terhadap gangguan, dan memiliki peran yang penting dalam tata air atau sistem hidrologi suatu wilayah dan penting sebagai penyangga kehidupan. Oleh karena itu, lahan basah ini dikelompokkan ke dalam ekosistem esensial yang harus dilindungi sehingga ditetapkan sebagai kawasan lindung. 

Ekosistem rawa di berbagai daerah menghadapi ancaman kepunahan karena dihilangkan dengan sengaja, misalnya direklamasi atau diurug untuk didirikan bangunan perumahan, perkantoran, industri, pertanian lahan kering dan pembangunan infrastruktur seperti jalan raya dan bandara. 

Ekosistem rawa menjadi incaran untuk dikonversi karena biasanya terletak di daerah datar dan banyak sumber air. Taman Kehati Arboretum Unilak, merupakan sisa (remnant) ekosistem hutan rawa Sumatera yang tersisa di tengah Kota Pekanbaru.

Ada pula contructed wetland atau rawa buatan yang diciptakan dan didesain khusus untuk mengolah air tercemar dengan memanfaatkan proses alami yang terintegrasi. Air limbah dari permukiman masyarakat yang mengarah ke danau atau sungai akan mengalami dekontaminasi melalui proses alami melibatkan vegetasi rawa atau riparian.

Manfaat yang dapat diperoleh dari ekoriparian ini sangat beragam. Di antaranya terbentuknya kelembagaan untuk mengelola fasilitas yang terbangun secara mandiri dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Fasilitas ini akan menjadi tempat wisata edukasi, sebagai sarana olahraga dan ruang terbuka hijau (RTH) bagi masyarakat Riau. Selain itu, berkontribusi dalam menjaga kelestarian sumber mata air di kawasan hutan kampus Unilak serta membantu menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK).

Fasilitas yang ada di kawasan ekoriparian ini meliputi kantin dan area untuk UMKM, outdoor amphitheater, taman baca, jogging track, toilet, biodiversity online information sistem Taman Kehati Arboretum.

‘’Kafe yang ada di Ekoriparian Patra Lancang Kuning mampu menghasilkan pendapatan antara Rp6-7 juta per hari,’’ sebut Dodi.

Dahulunya, areal ekoriparian ini adalah semak-semak dan lahan sawit, namun setelah berkolaborasi dengan PT PHR, tempat ini disulap menjadi ekoriparian taman bermain yang asri dan alami.

Kawasan sekitar danau menjadi tempat favorit bagi masyarakat menikmati sejuknya udara di Ekoriparian Patra Lancang Kuning. Tempat ini juga menjadi wisata edukasi bagi masyarakat untuk mengenal alam di Taman ke Hati Arboretum.

‘’Jika sore hari atau libur, kawasan ini akan dipenuhi pengunjung. Ada yang joging atau sekadar duduk-duduk menikmati sejuknya udara sambil menikmati pemandangan danau bahkan ada yang datang hanya untuk foto-foto saja,’’ jelas Dodi.

Turunkan Beban Pencemaran Limbah

Ekoriparian merupakan konsep perencanaan riparian yang memiliki upaya untuk menurunkan beban pencemaran dari limbah domestik dan menjadikan daerah pengembangan tersebut menjadi pusat edukasi dan konservasi lingkungan.

Dengan kata lain, ekoriparian adalah memanfaatkan sepadan sungai yang semula menjadi tempat pembuangan sampah dengan membangun fasilitas pengendalian pencemaran sesuai dengan sumber pencemar yang ada, serta fasilitas lingkungan lainnya yang tidak menganggu ekosistem yang ada, dan menjadi tempat wisata yang dikelola oleh masyarakat sehingga meningkatkan ekonomi masyarakat.

Penggunaan konsep ekoriparian diyakini juga dapat memecahkan permasalahan-permasalahan lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berada di lingkungan tersebut.

Meski demikian manfaat lain dari pengembangan ekoriparian adalah sebagai media penyediaan ruang terbuka hijau, sebagai kawasan rumah pangan keluarga, pemanfaataan air limbah olahan, sebagai ruang edukasi pendidikan lingkungan hidup, serta ruang pemberdayaan masyarakat.

Dekan FMIPA Umri Prasetya menjelaskan, ekoriparian Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) merupakan kombinasi antara sistem ekonomi, lingkungan, pendidikan dan energi terbarukan.

Ekoriparian Umri dibangun di atas lahan 800 meter persegi yang memiliki beberapa fungsi yakni memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang menangkap aliran air limbah Umri dan aliran air limbah masyarakat di depan Umri, kemudian diolah agar lebih aman bagi lingkungan dan tidak menambah beban pencemaran sungai Siak sebagai muara akhir aliran air.

Proses IPALyang dilakukan di Umri melalui beberapa tahap yakni air limbah dari drainase masuk ke dalam bak pengumpul yang berfungsi menampung atau mengendapkan air limbah rumah tangga yang akan masuk ke IPAL. Dari bak pengumpul ini air limbah dimasukkan ke dalam bak intake yang berisi arang dan zeolit berfungsi menyaring awal air limbah yang mengandung polutan lemak/pedatan yang masuk ke IPAL.

Dari bak ini, air limbah kemudian dialirkan ke bak mol (mikro organismelokal) dan aerasi. Bak ini berisi media biocord/aerator yang berfungsi memproses pengolahan air limbah secara biologi-aerb dengan menggunakan media biocord. Berfungsi untuk mengurangi polutan dengan bakteri aerobsehingga ir limbah menjadi jernih dan tidak berbau. Proses terakhir adalah air limbah yang telah diolah dimasukkan ke dalam kolam wetland yang berisi tanaman air. Kolam ini berfungsi mengolah air limbah akhir dengan memanfaatkan tanaman air untuk meningkatkan kualitas air limbah sebelum dimanfaatkan untuk berbagai keperluan atau dibuang ke saluran air berikutnya.

Ekoriparian Umri juga memiliki sistem biogas, dimana sampah organik kantin, cafe dan pusat UMKM yang ada di ekoriparian dikumpulkan dalam sistem biodigester yang difermentasi sehingga menghasilkan gas untuk kompor yang digunakan di UMKM maupun cafe di sekitar ekoriparian. Gas tersebut dapat digunakan 3-5 jam dam sehari.

Untuk memastikan manajemen sistem IPAL dan biodigester berjalan dengan baik, maka ada pusat UMKM serta cafe di wilayah ekoriparian. Dari hasil penjualan di cafe, sebagian akan dimanfaatkan untuk perawatan sistem IPAL dan biodigester ekoriparian.

‘’Tiang hijau yang tinggi itu kita beri nama PAH atau penampungan air hujan. Air yang ditampung melalui PAH itu nanti akan tersimpan dalam sebuah tank, yang selanjutnya akan dimanfaatkan untuk menyiram dan menghijaukan tumbuhan yang ada di area ekoriparian,’’ sebut Prasetya.

Sementara itu, Wakil Rektor III Umri Dr Jufrizal Syahri MSi berharap agar kolaborasi program antara PHR, KLH dan Umri yang sarat manfaat seperti ini bisa lebih ditingkatkan, terlebih karena banyaknya manfaat yang bisa dirasakan Umri dan masyarakat luas dari program ini.

Menurutnya, upaya penyelamatan lingkungan menjadi bagian penting untuk menjaga keseimbangan alam di masa depan.

‘’Terima kasih kami ucapkan kepada PHR dan LHK karena telah memilih Umri untuk menjadi lokasi ekoriparian,’’ ujar Jufrizal.

Dia berharap, dengan banyaknya sistem ramah lingkungan di ekoriparian ini, tentu kami berharap ekoriparian bisa menjadi role model baik bagi masyarakat maupun mahasiswa dalam pengolahan limbah harian.

Ketua LPPM Umri Dr Aidil Haris SSos MSi menjelaskan, cafe yang berada di ekoriparian berhasil menjadi icon di Kota Pekanbaru yang mengundang banyak orang datang dan masuk ke lingkungan Umri.

‘’Cafe ini terbuka untuk umum bukan hanya mahasiswa Umri, kami berharap dengan kehadiran banyak orang di cafe dan pusat UMKM ini masyarakat juga bisa menikmati Umri dalam jarak dekat,’’ sebutnya.

Sementara, Analyst Social Performance PHR, Priawansyah menjelaskan, ekoriparian merupakan program tanggungjawab sosial PHR yang mengusung konsep kolaborasi pentaheliks dimana Umri menjadi bagian dalam program ini.

‘’Pogram ini adalah syarat yang diminta oleh KLHK untuk kami laksanakan dalam rangka pertanggungjawaban kami tidak hanya terhadap limbah PHR namun juga limbah masyarakat. Ini merupakan program kedua setelah Ekoriparian Unilak. Kami harap Ekoriparian Umri ini bisa menjadi pusat edukasi lingkungan, wisata sekaligus menggerakan ekonomi masyarakat Riau,” ujarnya.

 

Kepala Departemen Formalitas dan Humas SKK Migas Sumbagut Yanin Kholison menyampaikan dukungannya kepada PHR untuk terus mengawal setiap kegiatan hulu migas baik yang bersifat teknis maupun non teknis.

‘’SKK Migas terus mendorong peningkatan efek berganda (multiplier effects) industri hulu migas pada perekonomian nasional dan daerah khususnya Riau, baik secara langsung maupun tidak langsung,’’ kata Yanin.

Pembangunan ekoriparian juga merupakan bagian dari upaya PHR dalam berkontribusi untuk mencapai sustainable development goals (SDG’s) nomor 11, yaitu menyediakan ruang terbuka hijau yang mudah dijangkau oleh semua kalangan, termasuk difabel, serta SDG's nomor 15, yaitu melestarikan dan memanfaatkan ekosistem daratan secara berkelanjutan serta melindungi spesies yang terancam punah.***

 

Silakan simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu dengan mengakses Riau Pos WhatsApp Channel

 

 

Editor : RP Edwar Yaman
#Ekosistem Hutan #PHR #air tawar