Riau menjadi juara umum untuk cabang olahraga senam pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024. Sebanyak 6 emas, 3 perak, dan 2 perunggu berhasil diraih. Dari raihan tersebut, tiga emas dan satu perak dipersembahkan Agung Suci Tantio Akbar. Pesenam kelahiran Pekanbaru 23 Juli 1994 ini merasakan PON kali ini sangat spesial. Mengapa?
Laporan DENNI ANDRIAN, Pekanbaru
YA, PON tahun ini terasa sangat berarti buat Agung. Bukan hanya karena dirinya menjadi bagian dari keberhasilan Riau sebagai juara umum senam, bukan juga karena dirinya meraih 3 emas dan 1 perak, tapi PON ini sangat berarti buat Agung karena dirinya mengakhiri penantian panjang yakni 12 untuk bisa meraih medali emas di nomor spesialisnya yakni kuda-kuda pelana (pommel horse) dan palang sejajar (parallel bars).
‘’Sejak ikut PON, ini medali emas perorangan perdana yang saya dapatkan. Alhamdulillah, langsung di dua alat yang diharapkan yakni kuda-kuda pelana dan palang sejajar. Sebenarnya saya spesialis di tiga alat, satu lagi di palang tunggal. Tapi target utama saya di dua alat ini (kuda-kuda pelana dan palang sejajar),’’ ujarnya saat ditemui Riau Pos, Kamis (12/9).
Pada PON-PON sebelumnya, tepatnya sejak pertama kali ikut PON pada 2012 lalu, atlet yang menggeluti senam sejak sebelum masuk sekolah dasar (SD) ini hanya mendapatkan emas di artistik beregu. Bahkan, saat senam digelar di Hall Senam Sport Center Rumbai, di mana Riau menjadi tuan rumah, Agung belum berhasil meraih medali.
Anak dari pasangan Suprianto dan Sumiati ini baru mendapatkan emas PON pada tahun 2016 saat digelar di Bandung Jawa Barat. Cukup banyak. Namun, hanya perak. Abang dari mantan pesenam Riau Rindu Pratiwi ini meraih empat perak di beregu (time), serbabisa (all round), perorangan palang tunggal, dan kuda-kuda pelana.
Selanjutnya pada PON 2020 di Papua, Agung meraih emas perdana, tapi di nomor beregu. Di alat spesialisnya, Agung hanya dapat perak di palang sejajar. Kerja keras Agung tercapai di PON tahun ini saat senam digelar di Gedung Serbaguna Disporasu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Sebanyak 3 emas dan 1 perak didapatkan.
Tiga emas, masing-masing di artistik beregu putra, artistik perorangan per alat kuda-kuda pelana (pommel horse), dan artistik perorangan per alat palang sejajar (parallel bars). Satu perak diraih di artistik perorangan per alat palang tunggal (horizontal bars). Emas di alat ini diraih rekannya Abiyu Raffi.
Perjuangan untuk mengawinkan emas di alat spesialisnya ini, cukup berliku. Banyak yang dikorbankan. Agung juga harus memutuskan keluar dari perkerjaannya sebagai honorer di Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Riau pada 2021. ‘’Saya ingin fokus ke PON 2024 makanya saya putuskan berhenti dari Dispora Riau,’’ ujarnya.
Agung memang hanya tenaga honorer di Dispora Riau. Namun, karena ditugaskan di bagian humas, dirinya harus menyediakan banyak waktu mendampingi Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Kadispora) Riau saat itu yakni Boby Rachmat. Tak jarang waktu latihannya persiapan untuk menghadapi PON harus tersita.
Setelah keluar dari Dispora Riau, Agung memutuskan menjadi fotografer lepas dan mendirikan Wedding Organizer. ‘’Kalau kerja sendiri saya bisa mengatur waktu. Jadi bisa menyesuaikan dengan jadwal latihan. Alhamdulillah, keputusan saya membuahkan hasil manis,’’ ujarnya.
Namun, Wedding Organizer yang dijalankan Agung tak bertahan lama. Bersama seniornya yang juga atlet senam nasional, Muhammad Tri Saputra, mereka mendirikan pembibitan senam bernama Dark House di Rumbai. Klub ini seperti sekolah senam, mereka membina anak-anak mulai umur 5 tahun hingga 10 tahun. Total sebanyak 30 atlet yang dibina, dan 6 di antaranya mulai berpotensi meraih medali.
Peraih medali emas Popnas ini menjelaskan, keputusan mereka mendirikan klub senam ini karena prihatin dengan kondisi senam ke depannya. ‘’Sudah ada beberapa murid kami dan kami ingin ada penerus Riau ke depannya melalui jalur klub karena senam bukan cabang olahraga yang familiar seperti sepakbola dan lainnya. Apalagi saat ini kita kurang penerus senam Riau untuk ke depannya,’’ ujarnya.
‘’Apalagi Pusat Pendidikan dan Latihan Senam (PPLP) di Riau sudah dihapus. Jadi, jadi lewat mana lagi penerus kami harus dilakukan? Makanya kami harus memikirkan generasi penerus kami,’’ tambah peraih emas palang tunggal Kejurnas Senior 2025 dan Pra PON Bandung ini.
Disebutkan Agung, pembibitan senam ini juga tak terlepas dari peran pelatih senam Riau Ahmad Markos. ‘’Pak Markos mendukung kami dan beliau sangat berperan terhadap pembinaan senam di Riau, termasuk prestasi kami di Popnas, Kejurnas, PON, maupun di SEA Games. Kami banyak belajar dari beliau makanya kami membentuk pembibitan senam ini,’’ ujarnya.
Selain itu, Agung juga berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau kembali mendirikan PPLP senam, atau bisa menyusulkan agar PPLP senam yang sempat ada di Riau melalui dana APBN kembali diusulkan ke pusat, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). ‘’Harapan saya, PPLP dibangun kembali dan fasilitas senam di Hall Senam Sport Center Rumbai dilengkapi,’’ ujarnya.
Dipaparkan Agung, mereka sempat merasakan perbedaan saat tampil di PON Aceh-Sumut 2024. Pasalnya, semua peralatan dan fasilitas yang dipergunakan semuanya versi terbaru, beda dengan fasilitas latihan mereka di Hall Senam Sport Center Rumbai. Ya, peralatan di Hall Senam Sport Center Rumbai didatangkan sejak 2012, kala Riau tuan rumah PON.
‘’Sejak itu tak ada penambahan yang baru. Bahkan, lantai saja sudah banyak yang rusak dan kami inisatif untuk memperbaiki sendiri. Saat tampil di PON XXI, kami agak canggung memakai beberapa alat. Akhirnya kami sesame atlet Riau saling mengingatkan, kalau pakai alat ini harus seperti ini, dan lainnya karena beda dengan yang biasa kami pakai saat latihan di Riau,’’ jelasnya.
Selain memikirkan generasi penerus dan fasilitas senam, Agung juga punya target lebih besar lagi yakni masuk skuad senam Indonesia di SEA Games 2025 di Thailand dan World Champions 2025 di Jakarta. ‘’Saya belum pernah ikut SEA Games (SEAG). Justru Asian Games sudah yakni di Jakarta tahun 2018. Target saya dipanggil pelatnas,’’ ujarnya.
Sudah terpikir untuk pensiun seperti M Tri Saputra? ‘’Kalau untuk berhenti jadi atlet senam saya belum memikirkan ke sana (pensiun). Tapi, dengan bertambahnya usia maka jalan ke sana (pensiun) itu pasti akan tiba. Tapi tidak tahu kapan saya putuskan. Semakin bertambah usia kadang kita blank saat latihan dan tanding. Itu yang berbahaya,’’ ujarnya.
Sementara itu, pelatih senam Riau Ahmad Markos ditemui di tempat terpisah mengaku perlu pembinaan berkelanjutan untuk mempertahankan prestasi senam yang saat ini atau bahkan meningkatkan ke depannya. ‘’Tentu kami perlu fasilitas latihan yang memadai untuk membina atlet. Perlu ada penyegaran peralatan di Hall Senam Rumbai,’’ ujarnya.
‘’Selain itu, PPLP senam perlu didirikan lagi di Riau. Kalau pun tidak dibina lewat APBD, usulkan lagi PPLP senam Kemenpora seperti dulu. Kami minta Dispora Riau mengusulkan ke Kemenpora. Saat ini di Riau juga dibina beberapa cabang PPLP dari Kemenpora. Ini harus diperjuangkan, apalagi dari dulu senam cukup diandalkan baik di Popnas maupun PON,’’ tambah Markos.***
Editor : Rindra Yasin