Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Zero Waste: Bermula dari Sampah Diolah Jadi Berkah

Helfizon • Sabtu, 5 Oktober 2024 | 20:36 WIB

Murid-murid sekolah dasar Al Mubarok menjual sampah yang mereka kumpulkan selama sepekan kepada Bank Sampah di sekolah mereka pada tiap hari Jumat dalam program Jumat bersih
Murid-murid sekolah dasar Al Mubarok menjual sampah yang mereka kumpulkan selama sepekan kepada Bank Sampah di sekolah mereka pada tiap hari Jumat dalam program Jumat bersih
 

Bank Sampah Agrowisata Ibnu Al-Mubarok binaan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) bersama Universitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru Riau meraih prestasi membanggakan dalam ajang lomba Satuan Pendidikan Peduli Lingkungan. Sekolah berbasis pendidikan agama Islam yang mengelola bank sampah tersebut mendapatkan juara 1 dari Kementerian Pendidikan Agama (Kemenag) Kota Pekanbaru. Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau sekolah setingkat SD Ibnu Mubarok ini dinilai berhasil mengatasi persoalan sampah di lingkungan masyarakat, bahkan sampah tersebut dikelola dengan baik sehingga menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Laporan HELFIZON ASSYAFEI, Rumbai Pekanbaru

SEKOLAH itu jaraknya kurang lebih hanya 10 Km dari pusat Kota Pekanbaru.  Bisa ditempuh 30 menit saja bila tidak macet . Tepatnya  di Jl Sri Amanah No 20 RT01/RW03 Kelurahan Agro Wisata Kecamatan Rumbai Barat Kota Pekanbaru-Riau.  Pinggiran Kota Pekanbaru itu masih asri dengan hijaunya pepohonan. Saya berkesempatan berkunjung ke sana tempat yang kini viral tempat orang belajar bagaimana sampah bisa menjadi berkah.

Pagi menjelang siang saat menuju lokasi ketika google map di ponsel saya memerintahkan agar saya belok ke kiri setelah 300 meter masuk ke Jl Sri Amanah Palas Rumbai.  Ada pagar semen setinggi  1,5 meter memanjang menandai batas tanah milik sekolah itu. Di pintu gerbangnya ada plang sederhana terpampang tulisan “Yayasan Ulil Albab  Al Ja’fariyah”.

Di bawah tulisan itu tertera sekolah dibawah asuhannya yakni Raudatul Athfal (RA/TK) Alam Tahfidz. Juga Madrasah Ibtidaiyah (MI/SD) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ibnu Al Mubarok. Yayasan berikut sekolah di bawah naungannya terdaftar di Kementerian Agama Kota Pekanbaru. Sesuai dengan namanya Alam Tahfidz, memasuki halaman sekolah dari pintu gerbang,  mata langsung disambut dengan pemandangan alam yang asri dan hijau ranau . 

Jejeran pohon matoa yang rimbun  seolah jadi penyambut tamu yang setia. Terasa sejuk alami berteduh di bawahnya di tengah cuaca terik Kota Pekanbaru menjelang siang itu. Di lokasi lembaga pendidikan itu berdiri 4 (empat) bangunan permanen.  2 unit gedung kelas dua lantai,  1 gedung  kantor  dan  1 asrama santri. Dari fisik bangunan tampak bangunan itu tidak muda lagi.

Tepat di depan gedung kantor terparkir mobil tamu. Siang itu sekolah mereka kedatangan tamu guru-guru dari SMK Farmasi Pekanbaru yang melakukan studi banding bagaimana mengolah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ini tentu jadi unik karena pengelola SMK belajar ke pengelola Taman Kanak-Kanak dan SD. Ternyata bukan hanya setingkat SMK bahkan sejumlah akademisi perguruan tinggi pun sempat ‘berguru’ di sini. Apa istimewanya?

Kepada saya, Ketua Yayasan Ulil Albab Al Ja’fariyah Rinwiningsih bercerita. Pesantren Ibnu Al Mubarak merupakan salah satu pesantren modern yang berada di Kota Pekanbaru yang berlokasi tidak jauh dari Politeknik Caltex Riau. Pesantren ini selain menanamkan nilai-nilai agama, juga menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap permasalahan lingkungan hidup pada anak didiknya.

Kepedulian terhadap lingkungan hidup tersebut ditanamkan melalui praktik keseharian siswa didik. Pesantren juga membangun aktivitas bernilai ekonomis atau entrepreneurship. Beberapa aktivitas antara lain berupa bank sampah, pembuatan ecobrick untuk meja kursi, pembuatan pupuk lindi, pemanfaatan lahan pesantren untuk tanaman produktif dan lain-lain. Selain itu pesantren juga memiliki beberapa unit usaha yang memberdayakan masyarakat sekitar yaitu usaha menjahit dan kuliner.

“Lahan ini merupakan wakaf dari Bapak Jefry Noer,” ujar Rini-panggilannya.  Jefry Noer adalah mantan Bupati Kampar  Riau 2 (dua) periode 2011 dan 2016. Total lahannya di sana adalah 11 hektare. 5,5 hektare itulah dijadikan untuk lembaga pendidikan.  Di sana sebanyak 25 persen muridnya dari kalangan duafa, yatim-piatu yang belajar di sana tidak dipungut bayaran alias gratis. Semua ditanggung pihak yayasan termasuk makan siang di sekolah.

Ketua Yayasan Ulil Albab Al Ja’fariyah Rinwiningsih foto bersama dengan masyarakat peduli lingkungan yang melakukan penanaman pohon (penghijauan) di lahan sekolah, beberapa waktu lalu.
Ketua Yayasan Ulil Albab Al Ja’fariyah Rinwiningsih foto bersama dengan masyarakat peduli lingkungan yang melakukan penanaman pohon (penghijauan) di lahan sekolah, beberapa waktu lalu.
 

 

25 persen lagi  subsidi silang atau membayar setengah dari uang sumbangan pendidikan (SPP). Sedangkan sisa yang 50 persen siswa mampu membayar penuh. Berapa SPP perbulan? Hanya Rp150.000 saja.  “Prinsip kami sekolah bagus tidak harus mahal,” ujar Rini. 

Sebelum 2021, Pesantren Ibnu Al Mubarak memiliki berbagai permasalahan, baik  dari sisi tata kelola, manajerial maupun keuangan. Kondisi ini menyulitkan pesantren untuk dapat menjalankan kegiatan pendidikan yang layak bagi masyarakat sekitar. Melalui manajemen baru, dilakukan perbaikan-perbaikan yang ditujukan untuk dapat menjadikan pesantren menjadi institusi pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Beberapa poin yang harus dikejar antara lain: 1) peningkatan pendapatan untuk menanggulangi biaya operasional pesantren, dan 2) perbaikan tata kelola dan manejerial.

Waktu memulainya kembali kegiatan sekolah , Rini menghadapi masalah ini;  bekas sekolah itu penuh dengan sampah. Lama ditinggalkan membuat sekolah itu menjadi lahan pembuangan sampah warga sekitar. Jika ia meminta petugas pengambil sampah swasta yang beroperasi di areal itu biayanya Rp300.000 per bulan. Ia tak sanggup. Sekolah baru itu masih perlu banyak dana untuk memulai lagi.

“Bagus dana itu saya belikan untuk beras para santri saja,” ujar Rini. Dan tak ada pilihan, sampah harus  diatasi sendiri bagaimanapun caranya.  “Karena kepepet sampah itu harus kita olah.  Sampah yang organik dijadikan kompos dan Lindi.  Lindi adalah singkatan dari ‘limbah industri dapur ibu’. Sedangkan yang non organik dikumpulkan diolah juga.

Lalu dimulailah dengan membuat pengolahan pupuk kompos. Masih di areal sekolah itu ada 2 tempat pembuatan pupuk kompos ukuran besar dengan kedalaman 2 meter lebih.  Saya dibawa melihat kedua tempat kompos itu didampingi Penanggungjawab Divisi Usaha Sekolah itu. Namanya Syaikhul Hadi Purnomo. Dia guru juga di sana.

“Sampah daun kita kumpulkan di sini dicampur dengan kotoran ayam difermentasi  selama 3 bulan. Setelah itu  kita angkat dan digunakan untuk pupuk alami tanaman. Selanjutnya kita ganti dengan sampah baru untuk buat kompos lagi. Begitulah siklusnya ,” ujar Syaikhul Hadi yang juga guru di sekolah itu. Selain dua tempat kompos itu juga dibuat beberapa tempat kompos langsung dibawah pohon matoa yang rindang di halaman sekolah itu.

Sedangkan untuk penanganan sampah lainnya seperti limbah industri dapur ibu-ibu (Lindi) yang masih kerap dibuang warga sekitar ke sekolah itu juga harus diolah. Direktur Pendidikan Lembaga itu, Sugeng Irianto menjelaskan bahwa mereka tak bisa melarang kebiasaan warga yang sudah terbiasa membuang limbah dapur itu ke areal sekolah karena sekolah tidak dijaga 24 jam.

Ada limbah sisa makanan juga sisa potongan sayur yang tak dimanfaatkan menumpuk. “Kami ambil semuanya lalu masukkan ke ember dan kami fermentasi dengan gula 3 sendok saja. Dikasi tiap minggu. sampah bisa ditambah tiap hari. Harus ditutup kedap udara supaya tidak masuk lalat. Nanti semingu saja mencair dan menjadi pupuk. Dicampur 1 banding lima. 1 botol lindi tambah 5 botol air untuk campurannya dan bisa disiramkan langsung ke tanaman,” ujar Sugeng.

Hasilnya tanaman disekolah itu makin subur. Warga sekitar yang juga banyak bertani terkesan dengan apa yang dilakukan sekolah. Mereka lalu belajar dan pihak sekolah terbuka pula mengajarkannya. Sejak itu tak ada lagi yang membuang Lindi ke areal sekolah karena mereka langsung mengolahnya untuk keperluan kebun mereka sendiri.

Sedang untuk sampah non organik seperti plastik dan botol plastik sekolah membuka ‘Bank Sampah’. Tujuannya agar anak-anak didik menyadari sampah itu ada nilai ekonomisnya.  Bahkan di sekolah Al Mubarok tidak ada tong sampah. Hasil edukasi membuat anak-anak sejak dini sudah mengetahui manfaat sampah dan tak akan membuangnya.  Sebab sampah-sampah yang dikumpulkan anak didik ditimbang dan dibayar oleh sekolah dalam program Jumat bersih.

 

Berikut daftar harga sampah di Bank Sampah Agrowisata Ibnu Mubarok

Photo
Photo

 

“Kalau botol Aqua sedang ukuran 600 ml itu bisa memuat  sampah 8 ons baru bisa padat untuk dibuat bangku,” ujar Kepala sekolah MI Yuhendra Putra.  Setiap anak yang menyetorkan sampahnya dibuatkan buku tabungan dan nilai pendapatannya dicatat disana.  Upaya-upaya sekolah ini akhirnya sampai ke Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universtas Lancang Kuning Riau.

LPPM Unilak lalu turun ke sekolah itu dan melakukan MoU untuk membantu mendukung gerakan Bank Sampah. Semua sampah-sampah non organik yang dikumpulkan kini tak lagi setakat dijadikan kursi sederhana. Tumpukan sampah itu lalu dijual ke induk bangk sampah milik LPPM dan LPPM mengolahnya lagi untuk hal-hal yang lebih besar lagi  seperti produk ecobrick yang laku dijual di pasaran.

Kolaborasi inilah akhirnya membuat Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Riau ikut membantu lewat program Tanggungjawab Sosial Lingkungan (TjSL)  memberikan sentuhan pengelolaan Bank Sampah. ''Kami mengucapkan terima kasih kepada LPPM Unilak dan PHR yang telah membantu, sehingga berkembang,” ujarnya, Rabu (18/9/2024).

Di sekolah ini, lanjutnya, ada program pengelolaan lingkungan dan menjaga kebersihan sekolah, namanya Jumat bersih. “Dalam pengelolaan ini kami mendapatkan bantuan pembangunan bank sampah, bantuan mesin serta pelatihan manajemen. Sekolah kami memiliki program unggulan yaitu entrepreneur dan life skill,'' ujarnya,

Ia menjelaskan, PHR dan LPPM Unilak juga melakukan sosialisasi bank sampah kepada masyarakat sekitar pondok pesantren. Masyarakat diberi pemahaman tentang pengelolaan sampah serta menjadikan bank sampah sebagai solusi persoalan sampah di lingkungan sekitar.

Berkat dibina PHR dan Unilak tersebut, keberadaan bank sampah di sekolah selain mampu mengatasi persoalan sampah serta menghasilkan uang, juga membuat pondok pesantren ini menjadi percontohan sekaligus pusat pelatihan pengelolaan sampah.

Bank Sampah merupakan salah satu inovasi yang diterapkan untuk menanggulangi isu sampah di internal pondok pesantren dan masyarakat. Bank sampah menghasilkan berbagai produk turunan yang dapat dimanfaatkan masyarakat, seperti ecobrick, bahan makanan maggot dan lain-lain.

VP Corporate Secretary PHR, Rudi Ariffianto bangga atas pencapaian mitra binaan PHR dalam kategori peduli lingkungan tersebut. ''Kami bersyukur bahwa  pengetahuan dan pendampingan yang kami berikan membawa dampak kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Semoga prestasi ini semakin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pengelolaan sampah dengan baik,'' ungkapnya.

Di sisi lain, program TJSL PHR berfokus pada bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat, pendidikan, lingkungan hidup, kesehatan, dan bantuan pascabencana. Program TJSL tersebut juga telah berkembang, berawal dengan 10 program di tahun 2021, PHR di tahun 2022 telah melaksanakan 30 program TJSL yang dilaksanakan oleh berbagai mitra pelaksana yang jumlahnya juga meningkat dari 10 ke 21 mitra. Apalagi pada tahun 2024 ini.

Dari segi dampak ke masyarakat, terdapat peningkatan 4 kali lipat jumlah penerima manfaat, dari 5.000 menjadi 21.000 orang penerima manfaat di Provinsi Riau untuk seluruh program CSR di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Seluruh program itu tercakup ke dalam 12 dari 17 target atau goals dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Membangun Usaha Kecil Menengah Mikro Sekolah

Ketua Yayasan Rinwingsih menceritakan bahwa ia harus berfikir bagaimana sekolah ini bisa bertahan karena mengandalkan dana donatur selama ini tidak cukup. Dari ide bank sampah yang telah dieksekusi lalu munculah ide berikutnya membangun usaha kecil menengah sekolah karena harus membiayai sendiri operasional dan gaji guru. Seorang guru bernama Syaikhul Hadi Purnomo lalu diminta membuat divisi usaha sekolah dengan melibatkan warga sekitar.

Terbentuklah 3 unit divisi usaha UMKM sekolah yang melibatkan warga sekitar yakni pertama, divisi  Fashion and Craft (yang mengelola sampah seperti kain perca dan sisa kain tak terpakai yang bisa dimanfaatkan jadi tas, baju dan topi). Ketuanya Nurul staf di yayasan yang punya keahlian desain fashion. Kedua, divisi peternakan. Ketuanya  Ketua RW setempat. Ketiga divisi kuliner, ketuanya pihak guru sekolah.  Semuanya dibawah kordinator Syaikhul Hadi Purnomo.

Ketiga lembaga ini punya target menghasilkan pendapatan sendiri  untuk menopang keperluan dana operasional sekolah dan gaji guru. UMKM Fashion and Craft merekrut penjahit warga sekitar termasuk para disabilitas memanfaatkan bahan-bahan bekas seperti goni untuk dijadikan tas iconic.  Termasuk produk-produk ekoprint  alami yang berharga mahal.

Hasil produksinya dijual ke pasar lokal hingga kini merambah ke luar daerah seperti Batam. UMKM ini sudah memiliki sejumlah reseller aktif yang selalu memesan dan membayar tunai untuk dijual kembali. Omzetnya kini sudah mencapai puluhan juta rupiah.

Sementara UMKM peternakan memulai kiprahnya dari 3 ekor ayam. Caranya dengan beternak ayam. Makanan ayam adalah maggot dicampur rumput azula. Makanan alami bergizi yang bikin ayam cepat tumbuh dan berkembang biak.  Magot adalah semacam ulat kecil yang diternakkan dari telur lalat BSF. Peternak meletakkan buah-buahan yang terbuka dan lalat BSF bertelur di sana.

Setelah itu telur tersebut lalu ditapis dengan saringan dan diberi pellet yang dilembabkan dengan air. Hasilnya bayi-bayi maggot pun bermunculan. Magot semacam belatung kecil yang bisa tumbuh sebesar ulat pisang. Kegunaan maggot adalah berfungsi sebagai pemakan sisa-sisa makanan. Sehingga sampah organik seperti sisa makanan tak ada lagi yang terbuang. “Sampai kami sempat kesulitan cari sampah sisa makanan untuk ternak maggot kami,” ujar Rini. 

Sejak maggot diternakkan di area itu sekolah menajdi zero wide (nol sampah). Bahkan divisi ternak sempat kesulitan mencari sampah sisa makanan untuk makanan maggot.  Akibatnya banyak maggot yang mati karena tak dapat makanan ketika itu. Seperti sebuah rantai makanan hal ini juga berdampak pada ternak ayam mereka sampai kelaparan.  Akhirnya sekolah membuka diri dengan pihak luar dan melakukan kerjasama dengan PT Go Nusa perusahaan pemasok makanan ke retail-retail supermarket untuk dijual.

“Sampai 5 tahun ke depan produk-produk yang sudah expired roti susu dari retail mereka diantar kemari. Itulah pakan maggot kita. Sejak itu kita tak pernah lagi kehabisan pakan maggot. Dan bahkan kita buatkan gudang untuk menumpuk produk expired itu,” ujar Rini.  Manfaat kerja sama itu bagi UMKM dapat makanan maggot sedangkan bagi PT Go Nusa ada tempat pembuangan barang expired tanpa harus membayar. Manfaat lain maggot adalah jadi makanan alami bergizi bagi ayam dan ikan.

Dengan tersedianya pakan ternak  membuat divisi ternak makin giat bekerja. Setiap dua minggu sekali mesin penetas telor milik UMKM terus berproduksi. Dari indukan ayam yang ada bisa menghasilkan telur dan selanjutnay ditetaskan lewat mesin penetas sebanyak 150-200 ekor.  Sebulan sudah 400 ekor.  Divisi ternak memiliki  10 mesin penetas. Bisa mencukupi kebutuhan sekolah. 

Budidaya maggot yang makanannya adalah sampah organik dan maggot berguna untuk pakan ternak alami bagi ayam dan ikan milik UMKM sekolah yang dikelola UKM Peternakan sekolah.
Budidaya maggot yang makanannya adalah sampah organik dan maggot berguna untuk pakan ternak alami bagi ayam dan ikan milik UMKM sekolah yang dikelola UKM Peternakan sekolah.

Lewat divisi ternak kini dari mulanya 3 ekor ayam kini telah berkembang menjadi 600 ekor ayam kampung.  Selain ayam-ayam ini dijual keluar  juga untuk memenuhi keperluan UMKM kuliner sekolah seperti keperluan daging bakso dan soto yang dijual di lingkungan sekolah.  Berawal dari sampah organic kemudian menjadi siklus produktif.  Sampah sisa makanan jadi makanan maggot. Magot jadi makanan ayam dan ikan. Ayam dan ikan dikonsumsi dan dijual juga ke luar.

 “Orang berpikir sampah adalah sesuatu yang kotor, bau dan tidak berguna.  Sekarang ini divisi fashion and craft dari bahan sampah itu penghasilannya bisa mencapai 70 an juta per bulan,” ujar Ketua Yayasan Rinwingsih. Bukan itu saja. Divisi ternak juga mengelola kebun yang mereka sebut sebagai tabungan hidup. Dengan pupuk buatan sendiri kini mereka telah punya tabungan hidup mulai ari kelengkeng, matoa, terong hingga cabai. Untuk cabai saat ini sudah ada 500 batang.

Berikut hasil rata-rata perbulan ke 3 divisi itu.

Photo
Photo

“Kami anggap tumbuhan matoa jadi tabungan hidup. Satu bulan dapat panen  5 batang saja dapat 20 kg sudah dapat 100 kg kali Rp45.000 per kilo sudah bisa menggaji guru saya,” ujar Rinwingsih. Strategi Ketua Yayasan kini membuahkan hasil. Hasil dari ketiga divisi itu bahkan lebih dari cukup untuk biaya operasional sekolah dan menggaji 17 guru RA dan MI yang ada di sana. Ke depan mereka akan mulai membuka MTs (sekolah setingkat SMP).

Usai dibawa mengelilingi areal sekolah saya pamit. Saya menyempatkan diri mewawancarai warga setempat. “Wah kami merasakan manfaat banyak dari hadirnya lembaga pendidikan Al Mubarok di kampung ini,” ujar Rahmat (40 tahun) warga setempat. Menurutnya mulai dari adanya lapangan kerja baru bagi ibu-ibu seperti menjahit, kuliner, sampah jadi ada nilanya dan bisa dijual ke sekolah hingga berbagai pengetahuan tentang membuat pupuk alami.

Seorang wali murid bernama Rina yang sempat bertemu di sekitar lokasi sekolah yang kebetulan menjemput anaknya juga menceritakan pengalaman positifnya tentang sekolah tersebut. “Meski tidak mahal tetapi bagus program dan cara belajarnya yang dekat dengan alam,” ujarnya.

Bahkan ia sempat kaget ketika tahu asisten rumah tangganya punya dua anak yang juga bersekolah di tempat anaknya bersekolah. Bedanya si asisten termasuk kelompok duafa dan oleh sekolah tidak dipungut bayaran alias gratis. “Kehadiran sekolah itu selain jadi solusi sampah bagi sekolah sendiri maupun warga sekitar juga membantu pendidikan kaum duafa,” ujar Rina lagi.

Tak terasa siang semakin terik. Lalu Azan pun bergema dari menara masjid tak jauh dari sekolah. Pertanda masuknya waktu sholat Zuhur.  Sayapun bergerak perlahan meninggalkan sekolah yang telah berhasil mandiri menghadapi masalah dan jadi tempat belajar bagi berbagai pihak. Bagaimana sampah diolah lalu jadi berkah bagi sekolah dan juga bagi warga sekitar.***

 

Editor : RP Edwar Yaman
#Sampah diolah jadi energi #maggot #PHR #zero waste #Pertamina Hulu Rokan