Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Batik Mandau Menumbuhkan Kembali Semangat Yola

Helfizon • Rabu, 30 Oktober 2024 | 20:20 WIB

 

Dua orang pengrajin sedang membatik di gedung batik samping kantor Camat Mandau, Selasa (22/10/2024).
Dua orang pengrajin sedang membatik di gedung batik samping kantor Camat Mandau, Selasa (22/10/2024).

Mandau adalah bagian dari wilayah Kabupaten Bengkalis yang terkenal dengan produksi migasnya. Namun tidak banyak yang tahu bahwa kini Mandau memiliki kerajinan batik yang menawan. Dengan motif khas pompa angguk migas dan nilai-nilai aspek budaya Melayu kini jadi populer. Berawal dari upaya Pemerintah Kecamatan Mandau untuk memberdayakan ekonomi warga dan turun tangannya Pertamina Hulu Rokan (PHR) membantu, membuat makin berkembangnya usaha ini.

Laporan HELFIZON ASSYAFEI, Mandau-Duri

HARI pagi menjelang siang, Selasa (22/10/2024) ketika saya sampai di tempat pembuatan Batik Mandau. Sebuah bangunan sederhana tapi permanen di samping Kantor Camat Mandau Kabupaten Bengkalis. Sejumlah ibu-ibu sedang tekun membatik. Ada yang sedang memberi cap atau batas kain yang akan dibatik. Ada juga yang sedang membatik. Tiap lembar kain batik dikerjakan oleh dua orang pekerja.

Di antara ibu-ibu itu ada seorang gadis muda bernama Yola (19 tahun). Ia juga sedang tekun mengerjakan pekerjaannya. Namun ia bersedia memberi waktu saat saya bertanya. Dan ia pun bercerita.  Dia termasuk pengrajin baru di tempat ini. Baru setahun bergabung. Lalu ia bercerita. Yola terpaksa tak bisa melanjutkan sekolahnya setingkat SMA karena faktor ekonomi.

Anak sulung dari 3 bersaudara itu terpaksa berhenti dulu dari sekolahnya karena benar-benar tak ada biaya. Jangankan untuk sekolah untuk makan saja susah. Yola benar-benar sedih. Tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana menopang ekonomi keluarganya yang dari ke hari makin berat. Ayahnya kerja tidak tetap dengan penghasilan yang tidak mencukupi.

Dalam kegalauan dan ketidakpastian itulah ia mendengar bahwa PKK Kecamatan Mandau membuka kesempatan belajar menjadi pengrajin batik. Gratis pula. Ini kembali memicu semangat belajar Yola. Ia mendaftar dan ikut kegiatan pelatihan. Lalu setelah tuntas ia direkrut menjadi anggota kelompok kerja (Pokja) 2 bidang keterampilan di PKK Bengkalis.

Sejak itu ia mulai memiliki penghasilan sendiri. Sedikit-sedikit dapat membantu ekonomi keluarganya dan ini telah memicu kembali semangat hidupnya yang sempat patah akibat putus sekolah.

Alhamdulillah dengan kegiatan ini banyak manfaat positifnya,” ujar Yola saat diwawancarai.

Menurutnya selain memiliki keterampilan juga memberikan penghasilan berupa upah. Apalagi upah dibayarkan berdasarkan produktivitas. Bila banyak dihasilkan dalam satu hari maka makin bertambah upah kerja.

“Satu kain motif batik dikerjakan oleh 2 orang, jadi kami berupaya menyelesaikannya sebanyak mungkin dengan kualitas yang tetap terjaga,” ujarnya. 

Menurutnya dengan menjadi pengrajin batik khas Melayu ini membuatnya terbantu secara ekonomi dan membuatnya lebih bersemangat menjalani hari-hari. Yola tidak sendiri karena di sana juga ada satu lagi rekannya yang putus sekolah dan menjadi pengrajin batik seperti dirinya.

Penghasilannya juga membantu keluarga dan dua adiknya yang masih bersekolah.

“Program pemerintah kecamatan yang dibantu PHR ini membuat hidup saya bersemangat lagi karena bisa ikut membantu ekonomi keluarga kami,” ujarnya.

Apalagi dengan bergabung menjadi pengrajin di PKK Kecamatan Mandau ini menurut Yola membuat pengalamannya bertambah. Selain soal batik juga dirinya diikutkan dalam berbagai pelatihan meningkatkan keterampilan yang dilakukan oleh PHR.

Seorang pengunjung  melihat-lihat produk UKM di Gallery Brand Mandau, Selasa (22/10/2024)
Seorang pengunjung melihat-lihat produk UKM di Gallery Brand Mandau, Selasa (22/10/2024)

Bagaimana awal dimulainya usaha Batik Mandau ini? Kepada Riau Pos Ketua Pokja 2 PKK Mandau, Juana bercerita. Ketika itu akhir tahun 2019. Wabah Covid-19 sedang melanda. Ada banyak orang-orang kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Tak terkecuali di Mandau. Perusahaan suplier migas, usaha kuliner, usaha kecil menengah lainnya banyak yang tersendat. Kesulitan ekonomi merata.

Hal Ini, lanjutnya, menjadi beban pikiran bagi Ketua Penggerak Pemberdayaan Keluarga (PKK) Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis. Dewi Asdinar Ssos Msi.  Ia berpikir keras bagaimana caranya bisa membantu ibu-ibu untuk menambah penghasilan keluarga. Lalu terlintas ide membuat batik khas Mandau. Mendapat restu dari suaminya yang juga Camat Mandau, Dewi mengajak tiga orang dari anggota PKK Kecamatan termasuk Juana mengikuti pelatihan batik ke Jogjakarta.

Di bawah PKK Kecamatan Mandau ada 4 kelompok kerja (pokja). Bidang batik membatik masuk pokja 2 yakni keterampilan (batik, menjahit, menenun) yang diketuai oleh Juana. Pulang dari pelatihan itu keempat orang ini jadi penggerak utama memulai usaha batik Mandau. Mulai melakukan sosialiasi dan pelatihan membatik ke semua anggota PKK Kecamatan Mandau sampai dengan akhir 2020.

Pada tahun 2021 usaha batik ini dimulai. Awalnya hanya 5 orang saja dari sekian lama pelatihan yang tertarik bergabung.

“Pengadaan bahan awalnya kami, lalu dibantu PHR termasuk cap-cap (canting) batik. Bahan kain didatangkan dari Jogja, lilin, pewarna, waterglass,” ujar Ketua Pokja 2 Juana saat ditemui di tempat pembuatan batik di areal kantor Camat Mandau, Selasa (22/10/2024).

“Kami pelatihan ke Jawa awalnya 3 orang,” ujar Juana.

Pada waktu itu, lanjutnya, zaman covid banyak yang tak ada kerja.

“Ibu-ibu ini kemudian diajak oleh Bu Camat. Sekecamatan Mandau produksi home indsutri per kelurahan dijual di Galeri Brand Mandau di kantor camat ini. Yang mau mengisi Brand Mandau disilakan jual di galeri. Punya ibu-ibu yang di desa bisa dijual di sini,” ujarnya lagi.

Usaha Batik Mandau ini terus berkembang. Orderan mulai berdatangan. Selain dari lingkungan Pemkab Bengkalis juga dari umum. Apalagi Batik Mandau ini khas dengan motif-motif uniknya seperti pompa minyak bumi, ada motif nanas, pucuk rebung, daun duri dan lainnya. Nama Batik Mandau makin bersinar ketika Ustaz Abdul Somad pernah memakainya saat melakukan tablig akbar.

Ketua Pokja 2, Juana mengatakan bahwa pesanan mereka terus meningkat sehingga diperlukan para pengrajin baru untuk menambah produksi. Saat ini dengan 10 pengrajin di sana mereka mampu menghasilkan 10 lembar kain batik. Artinya dengan harga Rp300.000 saja per lembar, maka jika terjual omzet mereka sudah Rp3.000.000 per hari.

Saat ini pesanan mereka untuk dua bulan ke depan (Oktober-November 2024) sudah full.

“Khusus untuk pesanan baju batik dalam jumlah besar untuk dua bulan ini sudah full, kalau pemesanan baru, baru bisa kami kerjakan di bulan Desember 2024,” ujarnya.

Juana menjelaskan produksi batik ditempat mereka itu ada batik motif cetak dan motif tulis tangan. Batik motif tulis tangan lebih mahal karena tingkat kesulitannya lebih tinggi. Satu lembar kain berukuran 2,3 meter untuk batik motif tulis tangan harganya berkisar Rp350.000 hingga Rp500.000 perlembarnya. Sedangkan kain yang sama dengan motif cetak per lembarnya Rp300.000.

Bukan hanya produksi kain batik tetapi di Pokja 2 juga mereka punya tenaga penjahit yang bisa membuatkannya jadi baju batik. Baju batik inilah yang banyak mendapat pesanan dari Pemda maupun umum. Pokja 2 bisa menghasilkan baju batik dalam satu pekan mencapai 30 sampai dengan 50 pcs. Jadi selain menghasilkan kain batik mereka juga menerima pesanan pembuatan baju batik dalam jumlah besar.

”Makin banyak motif batik dalam satu kain makin mahal harganya. Ada motifnya Sibori (metode kain diikat dicelupkan). Ada juga batik Ekoprint. Ini juga spesial dan semua produk kami dijual di Galery Mandau yang juga berada di area Kantor Camat Mandau,” ujarnya.

Kepada Riau Pos, Juana menjelaskan sekilas tentan proses Batik Mandau.

“Prosesnya sama dengan mengerjakan batik lainnya yakni setelah pengecapan,  pewarnaan dilakukan penguncian warna. 1 hari setelah penguncian warna baru dilakukan teknik melorot yakni direbus untuk menghilangkan garis atau motif lain yang ada di kain itu. Kemudian dianginkan sebentar dan disetrika dan packing,” ujarnya.

Menurutnya dalam 1 hari bisa dihasilkan 10 helai kain batik tergantung motif. Yang rumit cuma 2. Kalau motif namanya cap canting, pompa ada, nanas, pucuk rebung, bermasa tergantung permintaan. Pengecapan dan warna 1 hari. Jadi untuk menghasilkan 1 kain batik minimal diperlukan 3 hari.

Menanggapi soal sistem pengupahan untuk pengrajin, Juana menjelaskan bahwa mereka menerapkan manajemen terbuka saja kepada karyawan.

“Kalau harga selembar kain batik itu Rp300.000 maka sebanyak 130.000 nya untuk modal beli kain sama pewarna. Sedangkan yang 20.000 ribu upah untuk yang melorot kain setelah diberi motif. Jadi yang 150.000 itulah untuk pengrajin,” ujarnya.

Jadi, lanjutnya, semakin banyak kain yang bisa dihasilkan sesuai standar Batik Mandau oleh pengrajin makin banyak pula upah yang akan diterimanya.

“Artinya upah berdasarkan produktivitas. Hal ini kadang membuat mereka (pengrajin) bersemangat untuk lembur untuk menghasilkan lebih banyak lagi batik yang berpengaruh pada upah mereka,” ujarnya.

Saat ditanya bagaimana teknik pemasarannya, Juana mengatakan mereka menggunakan medsos seperti IG, facebook dan lainnya. Ternyata efektif dan orderan berdatangan. Apalagi dengan adanya Gallery Brand Mandau penjualan juga dilakukan untuk masyarakat umum.

“Sama dengan jam kantor kami buka gallery dari jam 08.00-17.00 WIB.

“Masyarakat umum juga bisa datang dan membeli di sini,” ujarnya.

Tempat pennjualan produk UKM warag di Gallery Brand Mandau, Selasa (22/10/2024).
Tempat pennjualan produk UKM warag di Gallery Brand Mandau, Selasa (22/10/2024).

Sementara itu Pj Bupati Bengkalis, Drs Akhmad Sudirman Tavipiyono MM MA pada kesempatan itu mengatakan bahwa ia sangat mendukung program PKK Kecamatan Mandau ini.

“Pengaruhnya sangat terasa bagi ibu-ibu yang dapat penghasilan dari hal ini,” ujarnya.

Selain usaha kecil menengah berkembang juga produk ibu-ibu di seluruh wilayah Mandau ada tempat penjualan yang representative seperti Gallery Brand Mandau.

“Ke depan akan terus kembangkan integarsikan dengan yang lain-lain. Dikaitkan dengan pariwisata. Destinasi wisata ke bengkalis tidak hanya satu titik. Bisa juga ke Mandau. Kami minta PHR bantu UKM Batin. Motif pompa minyak. Khas Bengkalis ada banyak sumur migas. Pekerjaan itu untuk kesejahteraan masyarakat. Kita berharap lebih besar lagi pasarannya dari lokal regional nasional hingga luar negeri,” ujarnya.

Camat Mandau, Riki Rihardi S.STP Msi juga mendukung penuh usaha batik tersebut. Bahkan untuk hasil produksi ke 4 poja PKK itu Riki membangun tempat penjualan hasil kerajinan seluruh masyarakat diseluruh wilayahnya. Namanya Gallery Brand Mandau. Juga di area Kantor Camat Mandau yang luas itu. Jadi selain produksi di areal itu penjualannya juga.

Menurut Riki program ini mulai berjalan di awal masa jabatannya.

“Saya sama prihatinnya dengan istri ketika wabah Covid bagaimana caranya masyarakat tetap bisa ada penghasilan ditengah banyak aturan pembatasan itu,” ujarnya.

Makanya ia menyambut ide istrinya yang ketua PKK Kecamatan Mandau mengikuti pelatihan membatik ke Yogyakarta. “Intinya saya ingin masyarakat ada keterampilan yang  bisa menopang ekonomi keluarga,” ujarnya lagi. Menurutnya sambal bercanda yang penting ‘waspada’. Maksudnya walaupun sedikit tapi ada penghasilan setiap bulannya. Ia tak lupa memberi apresiasi kepada PHR yang telah banyak membantu maju dan berkembangnya usaha Batik Mandau ini.

“Kita harapkan ke depan kerja sama produktif ini tetap berlanjut. Sebab tanpa bantuan mitra seperti PHR tentunya anggaran kecamatan terbatas. PKK merasa sangat terbantu sekali dengan adanya pembelian alat-alata, bahan-bahan yang diperlukan oleh sebuah usah batik yang dilakukan PHR,” ujarnya lagi.

Sementara itu Dosen Politeknik Negeri Bengkalis selaku mitra pelaksana PHR di lapangan, M. Afridon ST MT mengatakan bahwa PHR tidak saja membantu dalam bentuk fisik tetapi juga pendampingan.

“Kami turut mendampingi mereka dalam hal teknis membatik dan juga bagaimana mengelola keuangan dengan sistem standar keuangan perusahaan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu ia juga mengatakan bahwa PHR akan bantu lagi untuk pelatihan akhir tahun 2024. Dalam program pemantapan warna dan bagi pemula batik.

“Pesanan banyak pembatiknya sedikit, jadi kita perlu rekrut dan latih lagi agar memiliki keterampilan membatik yang sesuai standar,” ujar Afridon.

Menurut Afridon dengan pelatihan dan pendampingan selama ini berpengaruh positif bagi usaha Batik Mandau. Untuk omzet per bulan Batik Mandau mencapai Rp20.000.000 per bulan.

“Kalau omzet galeri bisa mencapai Rp30.000.000 hingga-40.000.000 per bulan  karena ada produk kuliner juga,” ujarnya.

Hari pun semakin siang dan terik matahari semakin menyengat. Kami berpamitan pulang untuk Kembali menuju Pekanbaru tempat awal kami berangkat menuju Duri dan Kecamatan Mandau. Kini di sana pompa minyak tidak hanya terlihat di berbagai tempat di Mandau tetapi juga telah melekat di Batik Mandau yang khas itu.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : RP Edwar Yaman
#semangat #PHR #Pertamina Hulu Rokan #kecamatan mandau #batik mandau