Pemanasan global disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca di udara, yang memerangkap panas Matahari dalam atmosfer Bumi. Salah satu gas penyumbang emisi GRK adalah CO2, yang kerap dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Dengan meningkatnya jumlah panas Matahari yang terperangkap di atmosfer Bumi, Bumi kini menjadi lebih hangat dan berdampak pada perubahan pola cuaca dalam skala global.
Laporan HENNY ELYATI,Pekanbaru
BANYAK cara untuk mengatasi pemanasan global, salah satunya dengan memaksimalkan penggunaan panel surya tersebut. PLTS merupakan bentuk pemanfaatan salah satu sumber energi alternatif yang ramah lingkungan (energi terbarukan). Indonesia sebagai negara yang terletak di kawasan khatulistiwa memiliki potensi energi surya yang melimpah. Dengan matahari yang bersinar sepanjang tahun, LAPAN mencatat radiasi harian rata-rata energi surya adalah 4.8 KWh/m2.
Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, energi surya menjadi salah satu alternatif energi terbaik. Dengan potensinya yang sangat besar tersebut, energi surya dapat menjadi sumber energi utama di masa depan.
PHR berpartisipasi mendukung pemerintah melalui grand strategi energi nasional mempercepat transisi energi dan target bauran energi dari Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen di 2025. Bahkan mencapai net-zero emissions tahun 2060 dengan jangka menengah 29-41 persen di tahun 2030.
Berkolaborasi dengan PT Pertamina Power Indonesia selaku Subholding Pertamina, PHR menghadirkan 64.000 unit panel surya yang tersebar di Rumbai, Duri dan Dumai. Lokasi dan kondisi geografis WK Rokan memberikan potensi output daya fotovoltaik tinggi untuk instalasi PLTS, yang merupakan sumber energi penghasil listrik ramah lingkungan.
Transisi energi ini bukan merupakan ancaman melainkan sebagai upaya untuk menekan risiko pemanasan global yang berpotensi mengancam kehidupan yang layak di masa mendatang. Transisi energi merupakan jalan menuju transformasi sektor energi global menjadi nol karbon atau dekarbonisasi.
Kapasitas produksi yang akan dihasilkan PLTS sebesar 25 Megawatt-peak (MWp) dengan potensi efisiensi sebesar 4,3 juta Dolar AS per tahun. PLTS juga menghasilkan energi sebesar 32,42 Gigawatt-hour (GWh) per tahun.
"Tidak hanya mengurangi emisi karbon sebanyak 23.000 ton per tahun, namun juga mengurangi pemakaian bahan bakar gas sebesar 32 Million Standard Cubic Feet (MMSCF) per tahun. Keberadaan PLTS tentunya sangat membantu dalam mengurangi pemanasan global yang dapat mengakibatkan perubahan iklim,'' ujar Manager PGT Operation PHR Winarto kepada wartawan saat berkunjung ke PLTS PHR di Duri, Kamis (24/10/2024).
PLTS dibangun untuk mengurangi emisi karbon dan mempercepat transisi energi dan target bauran energi dari energi baru terbarukan (EBT). Melalui pembangunan PLTS ini, WK Rokan memperoleh efisiensi sebesar US$ 5 juta. Untuk menghasilkan 1 mega dibutuhkan lahan seluas 1 hektare. Kebutuhan listrik PHR per bulan sekitar 150 miliar, dengan adanya PLTS ini bisa membantu 10 persen biaya listik. Jika tidak ada PLTS, maka PHR harus menambah 2 pembangkit listrik. Saat ini ada 19 turbin di 3 area yang dioperasikan.
PLTS PHR WK Rokan mampu memberikan banyak manfaat untuk Indonesia dan dunia. Antara lain berguna untuk pengurangan konsumsi bahan bakar gas sekitar 352 MMSCF/tahun, potensi efisiensi 8 persen Active Power (MW), 4 persen dari Reactive Power (MWAR), pengurangan emisi CO2 sekitar 23 ribu ton/tahun dan pengurangan pemakaian bahan bakar gas sebesar 352 jutaan metrik standar kaki kubik (MMSCF) per tahun.
PT Pertamina memasang Solar PV di sembilan tempat di komplek perumahan PHR WK Rokan. Masing-masing lima lokasi di Duri Camp Bengkalis, tiga lokasi di Rumbai Camp Kota Pekanbaru dan satu lokasi di Dumai Camp Kota Dumai. Total luas lahan pembangunan solar panel sekitar 28,16 hektar yang diproyeksi menghasilkan listrik 25 MWp atau energi yang dihasilkan sekitar 32,42 GWh/tahun.
''Duri itu sekitas 17 megawatt peak, kemudian di Rumbai ini lima megawatt peak, dan di Dumai itu dua megawatt peak,'' kata Analyst Energy Solution & Business Support PHR Ari Nursah Emran.
Listrik 25 megawatt peak itu kira-kira lima persen dari kebutuhan listrik PHR WK Rokan yang saat ini sekitar 500 megawatt.
Sistem pembangkit tenaga surya menggunakan teknologi PV untuk menyerap sinar matahari dan mengubahnya menjadi listrik yang dapat digunakan. Susunan sistem tenaga photovoltaic atau sistem PV mampu menghasilkan daya arus searah (DC) yang berfluktuasi sesuai intensitas sinar matahari.
Dijelaskan Team Manager Power System Operations PHR Ivran Amriadi, PLTS dibangun di area operasi migas PHR yang meliputi Rumbai, Duri dan Dumai. PLTS tersebut dibangun di atas tanah (ground mounted) dan pemasangan panel surya di atas atap (rooftop). Energi yang ditangkap pada penel surya tersebut kemudian diubah melalui inverter sehingga energi listriknya dapat dimanfaatkan di WK Rokan.
PLTS yang berada di Gate 1-1. Kapasitas PLTS di sini mencapai 4,28 MegaWatt peak dengan inverter 200 KVa. Inverter adalah teknologi yang mengubah arus listrik searah (DC) menjadi arus bolak-balik (AC). Kemudian untuk Modul fotovoltaik (PV) mencapai 390 Wp. PV Module sendiri merupakan perangkat yang mengubah sinar matahari menjadi listrik.
Disebutkan Ivran, di Duri Area, PLTS ini berdiri di atas lahan 17,2 hektare (Ha). Selain PLTS Gate 1-1, PLTS serupa juga berada di empat lokasi lainnya yang semuanya berada dalam lingkungan PHR Duri, masing-masing PLTS Gate 1-2 dengan kapasitas 4,79 MWp, inverter 200 kVA (15 pcs) serta PV Module 390 WP (9.480 pcs).
Kemudian ada PLTS Duri Sinabung dengan kapasitas 3,96 MWp dengan inverter 200 kVA (16 pcs), PV Module 390 WP (10.140 pcs). Selanjutnya ada PLTS Duri Singgalang 1 dengan kapasitas 3,16 MWp, inverter 200 kVA (13 pcs), PV Module 390 WP (8.100 pcs) dan terakhir PLTS Singgalang 2 dengan kapasitas 2,20 MWp, inverter 200 kVA (9 pcs), PV Module 390 Wp (5.640 pcs).
''Di Duri Area ini merupakan kawasan terluas berdirinya PLTS di wilayah operasional PHR. Untuk Rumbai Area PLTS berdiri di atas lahan seluas 8 hektare, masing-masing PLTS Rumbai Groundmounted dengan kapasitas 4,82 MWp, inverter 200 kVA (23 pcs), PV Module 390 Wp (14.700 pcs) dan ada juga PLTS Rumbai Rooftop (0,70 MWp), inverter 200 kVA (7 pcs) dan PV Module 390 WP (1.885 pcs),” sebut Analyst Energy Solution & Business Support PHR Ari Nursah Emran.
PLTS milik PHR juga ada di Dumai Area yang berdiri di atas lahan 2,2 hektare. Kapasitas PLTS di Dumai Area ini 1,99 MWp, dengan inverter 200 kVA (8 pcs) dengan PV Module 390 Wp (5.100 pcs.
''PLTS WK Rokan sendiri beroperasi pada 3 Juli 2023 sampai dengan 22 Oktober 2024 dan sudah membangkitkan 39.670 MWh (MegaWatt Hour). Selain produksi daya aktif, PLTS WK Rokan juga menyuplai daya reaktif ke sistem kelistrikan PHR yang dapat membantu kestabilan sistem,'' tambah Ari.
Analis Power System Operation PHR Fidel Rizki Fajri menambahkan, benefit yang diperoleh dari PLTS ini potensi penurunan emisi karbon sebesar 28,444 ton per tahun atau setara dengan 5.200 emisi mobil. “Ini setara juga dengan penanaman 3,2 juta pohon dan penghematan biaya operasi sebesar Rp8,4 miliar per tahun,” ungkap Fidel di ruang SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition atau Sistem Pengawasan dan Akuisisi Data).
Beroperasinya PLTS ini, tambah Fidel, menjadi salah satu kontributor dalam peningkatan rating Environmental, Social, and Governance (ESG) Pertamina Group tahun 2023 yang mendapatkan peringkat satu dunia dalam sub Industri Integrated Oil end Gas.
Ditambahkannya, energi yang dihasilkan PLTS ini digunakan dalam semua bidang kegiatan yang ada di PHR. Artinya, energi yang dihasilkan dari PLTS ini dikoneksikan dengan pembangkit listrik milik PHR.
“Jadi energi dari PLTS digunakan pada semua kegiatan operasional PHR. Tidak ada dibedakan, karena dia terkoneksi dengan pembangkit listrik milik PHR dan dengan sendirinya dia berkontribusi pada perumahan karyawan, operasional pipa pengeboran dan sebagainya. Walau sumbangnya baru sekitar 7 persen dari energi yang dihasilkan, namun ini sudah mampu menghemat biaya Rp8,4 miliar per tahun,” ungkapnya.
Sementara itu, Corporate Secretary PHR Rudi Arifianto mengatakan, lokasi dan kondisi geografis WK Rokan memberikan potensi output daya fotovoltaik yang tinggi untuk instalasi PLTS yang merupakan sumber energi penghasil listrik yang ramah lingkungan.
“Dengan melimpahnya sumber tenaga surya di Blok Rokan, makanya PHR membangun PLTS sebagai bentuk komitmen penggunaan energi ramah lingkungan,” kata Rudi kepada wartawan baru-baru ini.
Rudi menambahkan, PLTS tersebut dibangun di lahan dengan total luas 28,2 hektare dengan jumlah panel sebanyak 64.000 panel yang tersebar di tiga titik WK Rokan, yakni di kompleks perumahan pekerja di Rumbai, Duri dan Dumai. Metode yang digunakan yakni energi surya yang ada di WK Rokan dikumpulkan PLTS yang dibangun dengan tipe ground mounted dan rooftop.
Selanjutnya, energi yang ditangkap kemudian diubah melalui inverter sehingga energi listriknya dapat dimanfaatkan di WK Rokan.
“Kami telah melakukan studi terkait implementasi PLTS di WK Rokan termasuk studi pemilihan lokasi dan studi terkait dampak penetrasi PLTS terhadap kestabilan sistem kelistrikan WK Rokan serta benefit analysis yang telah dilakukan dan disimpulkan tidak mengganggu sistem kelistrikan di WK Rokan,” jelas Rudi.
Rudi mengatakan, kapasitas produksi yang akan dihasilkan PLTS tersebut yakni 25 MWp dengan potensi efisiensi sebesar 4,3 juta dolar per tahun.
“PLTS yang kita bangun ini juga berdampak pada pengurangan emisi CO2 sebanyak 23.000 ton per tahun dan pengurangan pajak karbon sebesar 48,261 dolar AS per tahun yang tentu ini berdampak pada dunia,” kata Rudi.
Sebagaimana diketahui, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer dan gas rumah kaca jangka panjang lainnya seperti metana meningkatkan penyerapan dan emisi radiasi inframerah oleh atmosfer. Hal ini menyebabkan peningkatan suhu global rata-rata dan pengasaman laut .
Efek langsung lainnya adalah efek pemupukan CO2. Peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer menyebabkan berbagai efek lebih lanjut dari perubahan iklim pada lingkungan dan kondisi kehidupan manusia.***
Editor : RP Edwar Yaman