Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Merdeka Sinyal di Mentawai Pintu Samudra Hindia: Jelajah Dunia dalam Satu Genggaman

Henny Elyati • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 23:59 WIB
Salah satu petugas memeriksa kehandalan jaringan 4G di salah satu Base Transceiver Station (BTS) di Kepulauan Mentawai, baru
Salah satu petugas memeriksa kehandalan jaringan 4G di salah satu Base Transceiver Station (BTS) di Kepulauan Mentawai, baru


Berselancar di dunia maya, menjelajahi dunia dalam satu genggaman kini bisa dirasakan masyarakat Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat. Daerah yang berada di pintu Samudra Hindia ini tidak lagi merasa "dianak tirikan".

Laporan HENNY ELYATI Pekanbaru

KINI masyarakat daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terbelakang ini sudah merasakan merdeka sinyal sama seperti daerah-daerah perkotaan lainnya di Indonesia.

"Di sini hanya ada sinyal Telkomsel dan kami sudah menikmati jaringan 4G," ujar Wiwin Kurniawan, warga Kecamatan Sipora Selatan kepada Riaupos.co, Sabtu (30/8/2025).

Janda tiga anak ini mengaku seluruh kecamatan di Mentawai sudah bisa menikmati jaringan 4G Telkomsel tanpa kendala.

"Kami sudah merdeka sinyal yang belum itu listrik yang padam tiap sebentar. Listrik kami belum merdeka," katanya.

Baca Juga: Newcastle Rekrut Striker Jerman Nick Woltemade dari Stuttgart, Gantikan Alexander Isak?

Riaupos.co pun mencoba kehandalan sinyal 4G di sana melalaui video call dengan Wiwin. Saat itu jaringan internet sangat lancar. Gambar di layar jernih dan suara bening. Delay voice masih terasa sesekali namun tidak mengganggu pembicaraaan kami saat itu.

Wanita yang berprofesi pedagang roti bakar ini sesekali mengarahkan kamera handphonenya untuk memberikan gambaran secara jelas bagaimana kondisi daerah tersebut.

"Di sini masih sepi seperti kampung, kendaraan satu dua yang lewat padahal saya jualan di ibukota kabupaten dan berada di jalan protokol," jelasnya.

Awal dirinya membuka usaha lumayan banyak omzet terjual apalagi Wiwin sering melakukan promosi lewat media sosial yang membutuhkan jaringan internet yang cepat dan tidak lelet.

"Sekarang sepi pembeli seiring dengan kondisi ekonomi Indonesia yang semuanya serba dipangkas," imbuhnya.
Wanita berambut pendek ini baru beberapa bulan menjadi pedagang roti bakar. Dia terpaksa banting stir dari pekerjaan sebelumnya yang tidak memungkinkan lagi bertahan dengan derasnya arus pemotongan anggaran.

"Sementara vakum dulu, fokus usaha ini. Sekarang sudah buka cabang di dekat pelabuhan dengan menu bertambah selain roti bakar ada mie ayam juga," katanya.

Kerja keras harus dilakukannya untuk menyekolahkan ketiga anaknya.

"Yang tua kuliah di Padang, yang tengah kelas XII dan sibungsu kelas X. Butuh biaya yang besar untuk mereka," katanya.

Diakui Wiwin, Kepulauan Mentawai masih sulit keluar dari daerah 3T karena akses menuju Kepulauan Mentawai ini bisa ditempuh melalui jalur udara dan air yang memerlukan biaya yang besar dan waktu tempuh yang cukup lama.

"Kepulauan Mentawai ini terdiri dari tiga pulau dan jarak satu pulau dengan pulau lainnya cukup jauh apalagi ke Sumbar," katanya.

Selain jarak tempuh naik speedboad memakan waktu 3-4 jam, fasilitas pendidikan, kesehatan dan sarana lainnya masih sangat minim.

"Di sini tak ada supermarket apalagi mall yang ada warung. Objek wisatanya pantai dan air terjun," terangnya.

Supervisor Corporate Communications Telkomsel Sumbagteng Dwipanca Adi Nugraha yang dihubungi Riaupos.co secara terpisah menjelaskan, seluruh kecamatan di Kepulauan Mentawai sudah tercover 4G. Ini menunjukkan komitmen Telkomsel memerdekakan sinyal di seluruh Indonesia termasuk daerah 3T.

Adapun 10 kecamatan yang sudah dicover 4G yakni Kecamatan Siberut Utara, Siberut Tengah, Siberut Selatan, Siberut Barat, Siberut Barat Daya, Sipora Utara, Sipora Selatan, Sikakap, ⁠Pagai Utara dan Pagai Selatan.

Untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI serta guna memastikan pemerataan akses layanan telekomunikasi berkualitas di seluruh Indonesia, Telkomsel mengoperasikan Base Transceiver Station (BTS) yang berlokasi di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) termasuk di wilayah perbatasan negara.

"Layanan broadband yang merata juga memungkinkan masyarakat yang berada di daerah pelosok menikmati internet dan layanan digital dengan kualitas yang setara dengan masyarakat di kota besar. Semangat ini sejalan dengan upaya pemerintah mewujudkan program Indonesia Merdeka Sinyal, yang diharapkan akan mendorong penguatan ekosistem digital sebagai pendorong perekonomian bangsa. Seperti Kepulauan Mentawai yang sudah tercover 4G," sebut Dwipanca Adi yang akrab dipanggil Adi ini.

Berebut Sinyal di Daerah 3T Gajah Bertalut

Jika di Kepulauan Mentawai akses jaringan internet sangat lancar, berbeda dengan yang dialami warga Desa Gajah Bertalut.

Sebagai daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) Desa Gajah Bertalut, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar ini merupakan desa yang masuk dalam kawasan Suaka Marga Satwa Rimbang Baling. Desa ini hanya bisa dikunjungi melalui jalur sungai. Walaupun masuk daerah 3T, masyarakat di sana sudah bisa berkomunikasi melalui jaringan seluler dan menikmati internet, hanya saja warga harus berebut sinyal.

Untuk bisa sampai di desa yang dihuni 145 KK ini dengan menyusuri Sungai Subayang. Dari Lipat Kain menuju Desa Gema berjarak sekitar 26-30 kilometer. Dari dermaga Desa Gema menuju Desa Gajah Bertalut ini ditempuh sekitar 2-3 jam melawan arus sungai.

Beberapa waktu lalu, Riaupos.co berkunjung ke Desa Gajah Bertalut didampingi program keluarga harapan (PKH) Desa Gajah Bertalut Nuriani dan Korcam PKH Kampar Kiri Hulu Mardiana. Sungai Subayang merupakan jalur transportasi satu-satunya untuk sepuluh desa di dalamnya. Sungai Subayang merupakan sub DAS Sungai Kampar Kiri, Kabupaten Kampar yang berada di kawasan SM Rimbang Baling.

Sungai ini mengaliri beberapa desa dengan panjang hingga 90 kilometer dan lebar kurang lebih 25 meter serta kedalaman 1-5 meter. Sungai ini merupakan tempat berbagai aktivitas masyarakat di desa-desa tersebut seperti aktivitas MCK, pertanian, perkebunan, dan jalur utama transportasi antar desa.

‘’Kita naik Johnson ya ke Desa Gajah Bertalut. Mobil tinggal di sini saja,’’ ujar Korcam PKH Kampar Kiri Hulu Mardiana.

Johnson yang dimaksud adalah sampan bermotor yang disebut piyau. Ada dua jenis piyau yang bisa dipilih yaitu Johnson atau Robin. Yang membedakan adalah jenis mesinnya. Piyau dengan mesin Johnson ini ukurannya lebih besar dengan kapasitas 6 orang (jika sungai banjir) dan 10 orang saat air dangkal, sedangkan Robin kapasitasnya 4 orang (saat banjir) dan 6 orang saat air dangkal, namun Robin memiliki mesin yang lebih gesit.

‘’Bayar sewanya Rp1 juta per sampan,’’ ingatnya lagi.

Saat itu, arus Sungai Subayang sangat deras dan bergelombang, mengingat Desa Gajah Bertalut yang kami kunjungi berada di hilir, kami harus melawan arus. Sampan yang kami naiki dinahkodai Andri (37) begitu piawai mengendalikan perahu menyusuri sungai. Ia sudah biasa melakukan perjalanan dari desa terdekat hingga desa terjauh yang harus menempuh waktu hingga lebih dari enam jam.

Tentu membutuhkan teknik khusus untuk membuat perahunya tetap seimbang. Andri harus mengurangi kecepatan setiap kali bertemu perahu dari arah berlawanan, juga ketika akan berbelok, karena arus akan semakin deras. Bukan hanya menaklukkan derasnya arus ketika pasang, ia juga harus jeli memilih sisi yang tidak terlalu dangkal agar mesin di perahunya tidak kandas lalu macet.

Biar safety, kami memakai baju pelampung selama 3 jam di atas piyau dengan matahari yang menyengat, kami berhasil menempuh perjalanan jalur sungai ini. Selama menempuh perjalanan, kami tidak bisa melakukan komunikasi alias hilang sinyal.

Untuk bisa sampai di Desa Bertalut harus melintasi sejumlah desa dengan menyusuri Sungai Subayang. Hanya itu satu-satunya akses menuju ke sana.
Dari Lipat Kain menuju Desa Gema berjarak sekitar 26-30 km.

Perjalanan dari dermaga Desa Gema menuju Desa Gajah  Bertalut memakan waktu satu setengah sampai dua jam melawan arus sungai. Jika nasib baik akan sampai dengan tubuh kering, karena hujan akan selalu turun di sepanjang perjalanan. Makanya siapa pun harus menyiapkan mantel dan pelampung atau jaket keselamatan. Hindari menggunakan sepatu dan celana yang relatif tebal. Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, akan lebih mudah berenang dan menyelamatkan diri.

Tiba di dermaga Desa Gajah Bertalut, Riaupos.co melihat Vsat BRI berdiri di sana yang ditopang panel solar cell. Riaupos pun mengaktifkan wifi dan bisa berkomunikasi, namun hanya sesaat karena sinyal lagi-lagi hilang dan kembali. Demikian berulang kali, sinyal hanya bisa dipakai untuk voice (menelepon) dan sesekali bisa internetan.

"Sinyal suka hilang apalagi kalau masyarakat serentak menggunakan jaringan seluler," aku Mardiana yang sudah 10 tahun jadi pelanggan Telkomsel.

Diakui Mardiana, desa ini memang masuk IDT, tak ada listrik menyala 24 jam sehingga mempengaruhi jaringan seluler.

"Karena keterbatasan kemampuan desa dalam memasok listrik, warga harus berebut sinyal. Semakin banyak warga menggunakan HP di waktu bersamaan semakin
sulit sinyal yang kami dapatkan. Maklum, kami tak mampu menyediakan listrik 24 jam sehari,’’ terangnya.

Jika listrik padam, maka sinyal di desa itu juga ikutan hilang.
Untuk bisa berkomunikasi dengan dunia luar, desa menyediakan wifi. Wifi aktif mulai pukul 20.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB, atau hanya dua jam. Selama dua jam itu, warga yang perlu dan ingin berinteraksi dengan anak, saudara, adik, dan yang ada di luar sana akan berkumpul di halaman kantor desa. Meski tidak lancar jaringan internetnya, namun warga tetap bersemangat.***



Editor : Edwar Yaman
#merdeka sinyal #Pintu Samudra Hindia #mentawai #Desa Gajah Bertalut #telkomsel #jelajah dunia