Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Air Kehidupan dari Kedalaman Tanah Muara Fajar

Evan Gunanzar • Kamis, 30 Oktober 2025 - 11:59 WIB

Sejumlah warga memanfaatkan air bersih bantuan Pertamina Hulu Rokan, Jumat (3/10/2025). Sebelumnya mendapat bantuan air bersih, warga bisa mendapatkan air dengan membeli air atau mencari kesumber air didalam hutan.
Sejumlah warga memanfaatkan air bersih bantuan Pertamina Hulu Rokan, Jumat (3/10/2025). Sebelumnya mendapat bantuan air bersih, warga bisa mendapatkan air dengan membeli air atau mencari kesumber air didalam hutan.


Matahari menyapa dari singgasananya , suhu di lokasi yang saya datangi ini berkisar 30 derajat celcius dari pantauan cuaca yang saya lihat dari ponsel, cukup menyengat hingga menyebabkan tenggorokan kering, sebotol air mineral jadi pilihan untuk melepas rasa haus yang mengganggu. Layaknya air mineral yang melepas dahaga saya saat itu, tersimpan cerita panjang tentang kelegaan hidup warga di RT 01 RW 07 Kelurahan Muara Fajar Timur, Kecamatan Rumbai Barat yang selama puluhan tahun berhadapan dengan satu hal paling dasar, air bersih.

Laporan EVAN GUNANZAR, Pekanbaru

Dari sudut salah satu rumah, Awaluddin, pria berusia 70 tahun-an, duduk di bangku kayu tuanya. Tatapan matanya jauh menembus masa lalu. Ia bercerita perlahan, seperti sedang membuka lembaran yang sudah lama terlipat dalam ingatannya.

Sambil menikmati secangkir teh, tubuh yang tak lagi tegap itu ikut berbagi kisah kelam masa lalu yang ia rasakan. Betapa tidak, air yang dianggap mudah didapat bagi orang diperkotaan terasa sangat berharga untuk dinikmati masa itu. Bahkan butuh waktu lebih dari 40 tahun agar itu benar-benar tersedia cukup mengalir dalam rumah.

Kepada saya Awaluddin bercerita sudah tinggal sejak tahun 1980an ditempat ini, dimasa mudanya ia bekerja sebagai petani dan menggarap ladang. Diusianya saat ini, tubuhnya masih terlihat sehat, pertanda betapa baik pola hidup yang dijalaninya dulu.

Seorang Warga Awaluddin saat melintas di akses sumber air lama yang menjadi salah satu sumber air yang dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan harian, Jumat (3/10/2025). Sebelum mendapat bantuan sumur bor air bersih dari Pertamina Hulu Rokan warga harus m
Seorang Warga Awaluddin saat melintas di akses sumber air lama yang menjadi salah satu sumber air yang dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan harian, Jumat (3/10/2025). Sebelum mendapat bantuan sumur bor air bersih dari Pertamina Hulu Rokan warga harus m

Tubuhnya bisa sesehat itu bukan hanya terlatih karena kerja yang ia tekuni dulu, tapi juga disebabkan bagaimana dirinya harus berusaha keras untuk bisa memperoleh air yang digunakan untuk kehidupan sehari-harinya dari dalam kebun saat itu.

Dulu, untuk memperoleh sumber air ia harus berjalan hingga kebawah kebun sawit sejauh 150 meter dari rumah.

“Jalannya menurun, banyak semak, hewan berbisapun ada, tapi mau bagaimana lagi, air cuma ada di sana dulu,” katanya saat berbincang kepada Riau Pos, Jumat (3/10/2025).

Asik cerita, Awaluddin mengayunkan tangannya kepada saya sembari berkata, “ ayo saya perlihatkan lokasi kolam buatan yang ada dibawah kebun,” katanya. 

Tanpa pikir panjang, penawaran itu langsung saya “iyain” karena penasaran bagaimana lokasi kolam tempat warga mendapatkan air. 

Senada dengan Awaluddin, Rospida seorang ibu rumah tangga yang telah menetap di Muara Fajar sejak tahun 2000, masih mengingat betapa sulitnya dulu mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

“Sebelum ada bantuan air bersih ini, kami banyak yang beli air tangki,” ujarnya.

Untuk satu tangki air bersih berisi 1000 liter harganya bisa sampai lima puluh ribu rupiah, bahkan enam puluh ribu kalau pas musim kemarau. Rospida mengaku satu bulan bisa menghabiskan lima tangki. Itu pun dipakai hemat sekali seperti untuk mandi sekali sehari, mencuci pun harus ditakar.

Sambil bercerita sesekali Rospida tertawa kecil, tapi wajahnya menyimpan kelegaan yang dalam. Bagaimana tidak, untuk menghemat pengeluaran membeli air warga terpaksa menimba air dari kolam di kebun sebagai salah satu alternatif selain membeli air, seperti yang dilakukan Awaluddin. Yang mana jalannya curam dan berisiko, terutama bagi perempuan dan anak-anak.

“Pernah ada yang terpeleset,sampai putus selopnya, tumpah air yang sudah diambil tu, terpaksa balek lagi turun,” katanya.

Seorang warga Sunarti mengontrol distribusi air bersih dari sumur ke rumah-rumah warga, Jumat (3/10/2025). Sebanyak 30 Kepala Keluara (KK) merasakan manfaat bantuan sumur bor air bersih bantuan Pertamina Hulu Rokan.
Seorang warga Sunarti mengontrol distribusi air bersih dari sumur ke rumah-rumah warga, Jumat (3/10/2025). Sebanyak 30 Kepala Keluara (KK) merasakan manfaat bantuan sumur bor air bersih bantuan Pertamina Hulu Rokan.

Namun semua berubah sejak 2023. Tahun itu, di tanah Muara Fajar, suara mesin bor mulai terdengar. Perlahan tapi pasti, dari kedalaman tanah sejauh 214 meter, air bersih akhirnya keluar. Air yang jernih, tidak berbau, dan bisa langsung digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

“Sekarang kami tidak perlu beli air lagi,” kata Rospida sambil melihat ke arah menara air setinggi empat meter yang berdiri kokoh di ditengah pemukiman warga.

Warga dapat menikmati air bersih ini dari pagi sampai malam, airnya ngalir terus ke rumah-rumah, tidak dibatasi. Dari awalnya hanya mengaliri 26 rumah, saat ini sekitar 30 rumah bisa menikmati air bersih ini.

Iuran bulanan sebesar dua puluh ribu rupiah per rumah disepakati warga untuk menutupi biaya listrik pompa. Jumlah yang sangat ringan dibandingkan dulu ketika mereka harus menghabiskan ratusan ribu hanya untuk membeli air.

“Dulu beli air bisa habis lebih dari dua ratus ribu sebulan, sekarang dua puluh ribu sudah cukup, Airnya bersih pula, mau masak, mau mandi, mau nyuci, semua lancar,” kata Rospida.

Air yang Menyatukan Warga

Di balik lancarnya air yang mengalir ke rumah-rumah, ada sosok yang setiap hari memastikan segalanya berjalan dengan baik. Sosok itu ialah Sunarti, pengontrol air di lingkungan itu. Setiap pagi, pukul 05.30, ia sudah terjaga untuk menghidupkan mesin air.

“Kalau mesinnya tidak dihidupkan tepat waktu, distribusi air kerumah warga akan terganggu,apalagi di pagi hari aktivitas warga sangat padat,” ujarnya sambil tersenyum.

Seorang warga Sunarti memeriksa kondisi sumur bor air bersih dari Pertamina Hulu Rokan, Jumat (3/10/2025). Untuk memastikan fasilitas air bersih ini terus terjaga warga sepakat untuk membentuk pengurus pengelolaan air.
Seorang warga Sunarti memeriksa kondisi sumur bor air bersih dari Pertamina Hulu Rokan, Jumat (3/10/2025). Untuk memastikan fasilitas air bersih ini terus terjaga warga sepakat untuk membentuk pengurus pengelolaan air.

Saat awal adanya sumur ini mesinnya otomatis hidup mati, namun seiring berjalan waktu, otomatis mesinnya rusak sehingga harus dikontrol secara manual oleh Sunarti.

“Biasanya saya hidupkan sampai jam enam sore, lalu mesin dimatikan dan keran induk ditutup. Itu untuk mengisi tangki cadangan buat besok pagi, jadi warga sudah menyetok air di tangki rumah mereka masing-masing untuk persediaan hingga pagi,” Jelasnya.

Dulu, pembagian air dilakukan bergiliran, dimana pagi sekitar jam 05.30 – 12.00 untuk wilayah depan, sedangkan siang jam 12.00 – 18.00 untuk wilayah belakang. Namun sekarang alirannya sudah menyatu, semua warga bisa menikmati air bersih secara merata.

Bersama beberapa warga lainnya, Sunarti menjadi bagian dari tim pengurus pengelolaan air bersih yang dibentuk secara swadaya. Mereka memastikan menjaga agar mesin tidak rusak, mengatur iuran, dan memastikan suplai air tetap stabil.

“Kami ini sudah seperti keluarga,” katanya.

“Air ini bukan cuma soal kebutuhan, tapi juga tentang kebersamaan. Kami belajar mengatur, menjaga, dan menghargai sesuatu yang dulu sangat langka,”Kata Sunarti.

Seorang Warga Sunarti mencuci pakaian menggunakan air yang berasal dari sumur bor air bersih bantuan Pertamina Hulu Rokan, Senin (6/10/2025). Selama lebih dari 40 tahun warga mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih.
Seorang Warga Sunarti mencuci pakaian menggunakan air yang berasal dari sumur bor air bersih bantuan Pertamina Hulu Rokan, Senin (6/10/2025). Selama lebih dari 40 tahun warga mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih.

Air, Harapan, dan Kehidupan Baru

Bagi masyarakat Muara Fajar, air bersih bukan hanya soal kemudahan, tetapi juga merupakan simbol perubahan. Kini, suara jerigen yang diseret ke kebun sudah tidak terdengar. Ibu-ibu tak lagi menunggu hujan untuk mandi maupun hanya untuk membasuh tangan.

“Air ini berkah besar buat kami,” kata Awaluddin dengan mata berkaca.

“Saya tak sangka bisa merasakan air jernih mengalir di rumah saya sendiri. Dulu, jangankan mengalir, air bersih saja kami anggap seperti emas,” ucapnya.

Officer CID Zona Rokan South Lidia Sari menjelaskan , Program air bersih ini awalnya lahir dari aspirasi masyarakat yang kemudian ditindaklanjuti dengan asesmen lapangan.

“ Setelah dipastikan bahwa kebutuhan air benar-benar mendesak, pembangunan pun dilakukan dengan melibatkan warga dalam setiap tahapnya mulai dari perencanaan, pengerjaan, hingga pengelolaan,” ungkap Lidia.

Lokasi pembangunan sumur bor pun tidak sembarangan, pihak Pertamina Hulu Rokan (PHR) memastikan terlebih dahulu kebersediaan pemilik tanah untuk dilakukan pembangunan diatas tanah miliknya, setelah semua disepakati barulah pengerjaan bisa dilakukan.

Warga memperlihatkan kondisi air bantuan dari Pertamina Hulu Rokan yang terlihat bersih, Jumat (3/10/2025).
Warga memperlihatkan kondisi air bantuan dari Pertamina Hulu Rokan yang terlihat bersih, Jumat (3/10/2025).

Pertamina Hulu Rokan sendiri sudah membangun air bersih disejumlah titik seperti Lembah Damai, Minas Barat, Rantau Kopar, Trengganau, Teluk Berembun, Menggala Sakti dan direncanakakan akan terus dilakukan disejumlah lokasi lain.

Kini, kehidupan warga di RT 01 RW 07 Kelurahan Muara Fajar Timur berubah. Di antara rumah-rumah sederhana, berdiri menara air setinggi empat meter yang menjadi saksi dari kerja sama, harapan, dan keteguhan hati warga.

Ketika sore tiba, Anak-anak berlari sambil tertawa,bermain gundu, tanpa takut kotor untuk kembangkan kreativitas alami mereka, tidak harus khawatir kehabisan air untuk mandi.

Muara Fajar kini bukan lagi cerita tentang kesulitan dan penderitaan. Ia adalah kisah tentang air yang menghidupkan kembali harapan, air yang muncul dari kedalaman tanah, tapi mengalir hingga ke dalam hati setiap warganya. (van)

Editor : Arif Oktafian
#warga rumbai #air bersih #PHR #rumbai #pekanbaru