Pemandangan di Betuah Laundry, yang berada di Jalan Tanjung Sari, Kelurahan Palas Dumai terbilang cukup unik dan berbeda dari laundry kebanyakan. Sebab, di sini, semua petugasnya laki-laki. Mulai dari yang melayani konsumen, yang mencuci, menyetrika pakaian, semuanya laki-laki alias bapak-bapak. Tapi jangan salah, tangan-tangan kekar mereka juga piawai dan lentur dalam menyulap pakaian kotor menjadi bersih.
Laporan: SITI AZURA, Pekanbaru
TERCEBURNYA 10 laki-laki dalam usaha laundry ini bukan tanpa alasan. Justru alasan di balik itu sangat mulia, yakni ingin menambah pemasukan keluarga. Sebelumnya, seluruh pekerja dan pengelola laundry ini hanya menggantungkan hidup pada 'Ngokang'.
Ngokang sendiri adalah bahasa lokal Dumai untuk profesi nelayan yang menjajakan makanan, buah, atau kebutuhan sehari-hari ke kapal-kapal besar yang sedang menurunkan jangkar di perairan Dumai.
Diceritakan oleh ketua dari Kelompok Barter Jaya yang mengelola Betuah Laundry Risman (40), awalnya mereka turun ngokang setiap hari. Namun, ada keinginan dalam dirinya dan teman-teman untuk mencari tambahan pemasukan lain yang tidak terlalu berisiko.
"Mulanya di RT kami, RT 02 Tanjung Palas mengajukan proposal ke PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) Unit Dumai atau Kilang Pertamina Dumai untuk buat usaha ternak lele. Tapi, waktu kami musyawarah dengan pihak Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina, usaha itu dinilai kurang membantu untuk pemasukan sehari-hari. Karena panennya per empat bulan," ungkap pria perantau asal Sumatera Utara ini kepada Riaupos.co.
Dari musyawarah dan diskusi tersebut, akhirnya disepakati bahwa kelompok Risman mendapatkan CSR laundry. Karena dinilai lebih bernilai ekonomis dan jelas target pasarnya.
Sempat merasa tak yakin, namun pejuang-pejuang rupiah ini pantang menyerah. Meski sebelumnya tak pernah tahu-menahu soal proses laundry, pelan-pelan, mereka yang biasa melaut ini pun bisa larut dalam usaha baru mereka.
"Awalnya lucu juga ya. Orang kita laki-laki semua. Tapi ya dicoba-dicoba terus, lama-lama pandai juga," sambung Risman.
Sebelum usaha dibuka, mereka terlebih dahulu membuka diri dengan keterampilan laundry. Kurang lebih 3 bulan kelompok Risman bertungkus lumus untuk belajar proses laundry. Mulai dari mencuci, menyetrika hingga melayani konsumen.
"Namanya kita laki-laki, pasti awalnya mengalami kesulitan. Tapi karena kita punya keinginan, tak ada yang tak bisa," ujarnya bersemangat.
Meskipun tak selalu mulus, mereka tetap kompak menjalankan usaha rumah tangga ini dengan sistem kerja sif.
"Namanya kelompok, kadang ada yang begini kadang ada yang begitu, biasalah. Tapi kami tetap semangat," sambungnya
Pembagian kerjanya jelas, terukur dan dibuat seadil mungkin. Sehingga pembagian hasilnya pun jelas dan bisa dinikmati merata oleh kesepuluh anggota.
Kini, dengan bantuan CSR Pertamina Kilang Dumai berupa perlatan, sewa tempat, pendampingan hingga pelatihan ditambah kegigihan dari kelompoknya, Betuah Laundry mampu menghasilkan omzet sekitar Rp9 juta per bulan.
Omzet tersebut kemudian dikelola dan dibagi rata, hingga masing-masing anggota mendapatkan pemasukan kurang lebih sekitar Rp700 ribu per bulannya.
Hal tersebut sekaligus membuktikan bahwa kehadiran Betuah Laundry ini mendapat penerimaan yang baik di tengah masyarakat. Banyak konsumen yang mempercayakan baju kotor mereka pada Betuah Laundry. Termasuk perwira Pertamina sendiri. Rata-rata, per dua hari, Betuah Laundry menerima setidaknya 100 kilogram pakaian kotor dari pelanggan mereka.
"Harga kami lebih murah dari yang lain. Sehingga pelanggan pun terbantu," terangnya.
Risman mengaku sangat terbantu dengan hadirnya usaha Betuah Laundry ini. Sesuai namanya, laundry ini membawa tuah atau keuntungan bagi ia dan anggota kelompok yang selama ini hanya menggantungkan hidup dari kerasnya pekerjaan kokang.
"Sangat membantu sekali usaha laundry ini. Kami sangat terbantu. Dengan adanya usaha ini, kami tak perlu setiap hari lagi pergi ke laut (untuk mengokang)," ungkapnya.
Pihaknya berharap, CSR dari Kilang Pertamina Dumai dapat terus dikembangkan ke depannya. Dengan begitu, ekonomi mereka pun bisa makin meningkat dan kebutuhan keluarga pun bisa semakin tercukupi.
Dikatakan Risman, program CSR tersebut dianggarkan selama 5 tahun. Artinya, masih ada 3 tahun lagi tersisa. Ia berharap, selama program masih berjalan, Pertamina bisa terus mendukung dan membimbing usaha mereka ke arah yang lebih baik.
"Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kepedulian Pertamina. Semoga kami tetap diperhatikan, kami bisa terus dibimbing hingga usaha ini semakin besar dan berkembang," harapnya.
Berbasis Green Laundry
Selain pekerjanya yang semuanya laki-laki, keunikan sekaligus nilai plus dari Betuah Laundry ialah, mengusung konsep green laundry. Betuah Laundry menggunakan sabun buatan sendiri yang ramah lingkungan.
Dijelaskan Risman bahwa sabun yang digunakan terbuat dari rumput teki sehingga ramah lingkungan.
"Sabun daru rumput liar ini minim bahan kimia. Busanya sedikit dan mudah dibilas," ungkapnya.
Bukan hanya itu, laundry ini juga tidak lagi menggunakan energi listrik. Melainkan menggunakan energi panel surya dengan 6600 kilowatt per jam. Tentunya hal tersebut juga memberikan dampak yang sangat baik bagi alam dan bumi.
Wujud Solusi dari Pertamina
Suksesnya usaha Betuah Laundry ini tentunya tak lain berkat kepedulian dari PT KPI Unit Dumai. Hal itu diungkap oleh
Area Manager Communication, Relations and CSR PT KPI Unit Dumai, Agustiawan. Menurutnya, keberhasilan program Betuah Laundry merupakan bukti nyata bagaimana program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Perusahaan.
"TJSL perusahaan dirancang untuk menghadirkan solusi jangka panjang, bukan sekadar bantuan sesaat. Betuah Laundry ini membuktikan bahwa nelayan pesisir bisa beradaptasi dan mandiri melalui usaha baru. PT KPI Unit Dumai berkomitmen mendampingi masyarakat dalam menemukan peluang ekonomi alternatif, sehingga mereka tetap berdaya meski tantangan di laut semakin besar,” ungkapnya belum lama ini.
Menurutnya, semangat para nelayan Ngokang dalam mengelola Betuah Laundry layak menjadi inspirasi bagi masyarakat lain. “Keberhasilan ini menunjukkan bahwa dengan kemauan belajar dan pendampingan yang tepat, usaha baru yang berkelanjutan bisa lahir dari kelompok masyarakat manapun,” tutupnya.***
Editor : Edwar Yaman