Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dari Meranti untuk Ketahanan Pangan Nasional; di Tanah Gambut Sagu Masih Berdaulat

Redaksi • Selasa, 16 Desember 2025 | 13:56 WIB
Wakil Bupati Kepulauan Meranti Muzamil menggolek tual sagu sebagai simbolis ketika Festival Sagu Nusantara di Sungai Tohor, Kepulauan Meranti, Senin (15/12/2025) siang.
Wakil Bupati Kepulauan Meranti Muzamil menggolek tual sagu sebagai simbolis ketika Festival Sagu Nusantara di Sungai Tohor, Kepulauan Meranti, Senin (15/12/2025) siang.

Asap tipis mengepul dari balik tenda bazar. Di atas meja kayu sederhana, lempeng sagu tersusun rapi, masih hangat. Di sebelahnya, kepurun disajikan dalam mangkuk kecil sebagian bahkan dibagikan gratis. 

Laporan WIRA SAPUTRA, Selatpanjang

TAK jauh dari sana, mie sagu kuah mueh mengepul, aromanya mengundang orang berhenti, mencicipi, lalu tersenyum. Inilah wajah Sungai Tohor, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Ahad hingga Senin (14-15/12). 

Selama dua hari penuh, desa penghasil sagu itu menjelma menjadi pusat perayaan lewat Festival Sagu Nusantara 2025 yang menjadi penanda bahwa sagu bukan sekadar pangan lama, tetapi masa depan Kepulauan Meranti.

Festival yang digelar Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) ini dipusatkan di Sanggar Linau Kuning, Desa Sungai Tohor. 

Mengusung tema ‘’Wujudkan Sagu Menjadi Ketahanan Pangan Nasional’’, iven ini menjadi simbol kebangkitan kembali kearifan lokal yang sempat meredup pascapandemi Covid-19.

Dari pantauan wartawan di lapangan, denyut festival terasa sejak pagi. Tujuh stan bazar UMKM sagu berjajar, seluruhnya hasil swadaya masyarakat. 

Adapun nama-nama lapak beragam. Ada Repu, Rumbia, Uyung, Bintit, Pelepah, Sagu, hingga Bemban bukan sekadar penanda, tetapi merepresentasikan kedekatan warga dengan hutan sagu yang selama puluhan tahun menghidupi mereka.

Menariknya, tidak semua lapak berorientasi jualan. Sejumlah pelaku UMKM memilih membagikan produk olahan sagu secara cuma-cuma sebagai menu promosi. ‘’Biar orang tahu dulu rasanya,’’ ujar Narti, seorang ibu penjual sambil menyodorkan potongan lempeng sagu kepada pengunjung.

Festival ini secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin, SM MM. Usai membuka acara, Muzamil bersama istrinya, Sriyana, Ketua I TP PKK Kepulauan Meranti menyusuri satu per satu stan bazar, mencicipi kuliner sagu, dan berbincang dengan warga pengolah.

Turut mendampingi, anggota DPRD Kepulauan Meranti Rosihan Afrizal, Camat Tebingtinggi Timur Marzlin Jamal, Kepala Desa Sungai Tohor Efendi, Koordinator Lapangan Festival Abdul Manan, Ketua HIPMI Meranti Rudi Kurniawan, unsur TNI-Polri, serta tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Muzamil menegaskan, Festival Sagu Nusantara 2025 bukan sekadar pesta rakyat, tetapi momentum strategis untuk menguatkan kembali identitas Meranti sebagai daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia.

‘’Festival ini menjadi titik awal kebangkitan iven unggulan berbasis kearifan lokal. Sagu bukan hanya komoditas pangan, tetapi identitas, budaya, dan kekuatan ekonomi masyarakat Meranti,’’ ujar Muzamil.

Sementara itu, Kepala Disporapar Kepulauan Meranti, Saiful Bahri, menegaskan Festival Sagu Nusantara merupakan bagian dari agenda strategis pariwisata daerah. Targetnya jelas, sagu Meranti harus dikenal hingga tingkat nasional dan internasional.

‘’Sesuai namanya, Festival Sagu Nusantara tidak boleh berhenti sebagai iven lokal. Ini ajang promosi pangan strategis sekaligus wisata berbasis kearifan lokal,’’ tegas Saiful.

Data yang disampaikan Camat Tebingtinggi Timur, Marzlin Jamal, semakin menegaskan posisi Sungai Tohor sebagai jantung sagu Meranti. Produksi sagu di wilayah ini mencapai sekitar 400 ton per bulan, dengan perputaran ekonomi hampir Rp1 miliar setiap bulan.

Anggota DPRD Kepulauan Meranti, Rosihan Afrizal, menyebut festival ini memberi ruang bagi masyarakat untuk kembali mencintai pangan lokal. ‘’Semua kuliner sagu ada di sini. Ini bukan nostalgia, tapi peluang ekonomi,’’ ujarnya.

Koordinator Lapangan Festival, Abdul Manan akrab disapa Cik Manan menyebut Festival Sagu Nusantara sebagai gerakan besar, bukan sekadar iven tahunan. Menurutnya, sagu Meranti memiliki keunggulan ekologis karena tumbuh alami di lahan gambut dan rawa.

‘’Kalau sagu digerakkan secara serius, derajat petani terangkat, harga membaik, UMKM tumbuh. Tapi itu butuh dukungan lintas sektor dan infrastruktur yang memadai,’’ ujarnya.

Selain bazar kuliner, festival ini juga diisi lomba Golek Tual Sagu, diskusi sagu bersama mahasiswa, pameran inovasi produk, serta berbagai pertunjukan budaya. Puncaknya, malam penutupan dimeriahkan hiburan rakyat dengan penampilan artis seperti Wike Yulia, Yolanda Marshal, Joel Anggaran, dan Jas Menggo.***

Editor : Arif Oktafian
#tanah gambut #Berdaulat #meranti #pangan nasional