Ranah Kuantan, kaya akan tradisi yang ditinggalkan sejak zaman dahulu. Satu diantaranya adalah tradisi "Mambasue Nogori" IV Koto Lubuk Ambacang di Kecamatan Hulu Kuantan.
Laporan Desriandi Candra, Kuansing
KALIMAT "Mambasue Nogori" dalam dialek bahasa Indonesia sama dengan membasuh atau membersihkan negeri.
Tradisi ini merupakan tradisi turun temurun yang ada di IV Koto Lubuk Ambacang Kecamatan Hulu Kuantan.
Lama sudah tradisi ini tidak terdengar dan dilakukan oleh masyarakat IV Koto Lubuk Ambacang yang terdiri dari empat desa yang ada di Kecamatan Hulu Kuantan. Masing-masing Desa Koto Kombu, Desa Lubuk Ambacang, Desa Sampurago dan Desa Sungai Alah.
Namun Ahad (15/2/2026) siang kemaren, kembali dilakukan menjelang beberapa hari bulan suci Ramadhan tiba. Itu setelah para ninik mamak, datuk penghulu dari IV Koto Lubuk Ambacang itu sepakat untuk melaksanakan tradisi itu.
Para ninik mamak, datuk penghulu dan ratusan masyarakat desa dalam IV Koto Lubuk Ambacang hadir bersama-sama di tepian Pulau Rona Desa Koto Kombu, Kecamatan Hulu Kuantan.
Mereka berkumpul bersama sambil makan bersama daging kerbau yang sengaja di potong dalam melaksanakan tradisi ini. Kerbau yang di potong adalah hasil "rantaman" (Sumbangan red) dari anak cucuk kemenakan di perantauan yang pulang kampung.
"Daging kerbau itu dimasak dan dimakan bersama nasi, sayur dan perbekalan lainnya yang dibawa masyarakat IV Koto Lubuk Ambacang," papar Taslim Idrus Datuk Sirajo, Urang Tuo Sakorek Koto dalam IV Koto Lubuk Ambacang pada Riaupos.co, Senin (16/2/2026).
Taslim menuturkan, sementara kepala kerbau di buang ke sungai Kuantan oleh Datuk Penghulu sambil memohon doa pada Yang Maha Kuasa ALLAH SWT, agar Nogori atau kampung halaman dijaga dan dijauhkan dari segala keburukan dan masyarakat tenang dalam menjalankan ibadah Ramadhan yang tinggal beberapa hari kedepan.
Tradisi "Mambasue Nogori" memang sudah lama tidak dilakukan, sekitar 10 tahun. "Dan sekarang dilakukan menyambut bulan suci Ramadhan, agar dijauhkan dari segala keburukan dan kita semua khusuk menjalankan ibadah puasa," ujarnya.
Di sisi lain, tradisi ini dilakukan sebagai momen untuk saling merajut silaturrahmi anak cucuk kemenakan baik yang di kampung halaman maupun yang pulang kampung menyambut Ramadhan.
Ini pun diungkapkan oleh Syaprudin Datuk Songgo. "Ini momentum untuk mengumpulkan seluruh cucu kemanakan untuk saling bertatap muka. Apalagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadan, disini kita saling bermaaafkan. Ini acara adat," ujarnya.
Di pertemuan tradisi itu, Datuk Songgo mengajak cucu kemanakan untuk menjaga budi pekerti, adab dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.
"Tujuanya adalah, dengan adanya acara adat ini, kita semua dijauhkan dari bala bahaya serta musibah," kata Syafrudin.
Di momen yang sakral itu, para ninik mamak dan penghulu, mengundang sejumlah pejabat daerah. Beberapa diantaranya yang hadir adalah Ketua DPRD Kuansing, H Jufrizal SE MSi, Kepala Bapenda Kuansing H Masrul Hakim mewakili Bupati H Suhardiman Amby, Camat Hulu Kuantan Azisman SST.
Ketua DPRD Kuansing H Juprizal menilai kalau tradisi "Mambasue Nogori" adalah warisan. Sehingga cucu kemenakan lebih mengetahui bagaimana cara beradat di negeri ini.
"Saya apresiasi acara tradisi turun temurun ini. Semoga dengan duduk bersamanya cucu kemenakan kenegerian IV Koto Lubuk Ambacang menjadi pertemuan yang bermanfaat demi bersatunya kampung. Tujuanya, supaya nagori kita dilindungi Allah dari hal-hal yang buruk," kata Jufrizal.
Sementara Kepala Bapenda Kuansing H Masrul Hakim menyebutkan, adat menjadi dasar masyarakat dalam menjalankan kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Makanya kepada generasi muda, Masrul Hakim mengajak untuk terus melestarikan budaya, lestarikan adat supaya hidup terarah.
Tradisi ini juga terlihat dihadiri oleh Staf Ahli Bupati Kuansing Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Ahmad Herry SPi MSi, Kadiskes Kuansing Aswandi, Ketua KONI Kuansing Andi Cahyadi.
Editor : M. Erizal