Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Melihat Tradisi Mambasue Nogori IV Koto Lubuk Ambacang, Kuansing; Kepala Kerbau Dijatuhkan ke Kuantan, Doa Dipanjatkan

Desriandi Candra • Selasa, 17 Februari 2026 | 10:49 WIB
Prosesi menjatuhkan kepala kerbau ke Sungai Kuantan dalam helat tradisi Mambasue Nogori masyarakat IV Koto Lubuk Ambacang Kecamatan Hulu Kuantan, Kuantan Singingi, Ahad (15/2/2026) siang.
Prosesi menjatuhkan kepala kerbau ke Sungai Kuantan dalam helat tradisi Mambasue Nogori masyarakat IV Koto Lubuk Ambacang Kecamatan Hulu Kuantan, Kuantan Singingi, Ahad (15/2/2026) siang.

Ranah Kuantan kaya akan tradisi yang diwariskan sejak zaman dahulu. Satu di antaranya adalah tradisi Mambasue Nogori IV Koto Lubuk Ambacang di Kecamatan Hulu Kuantan. 

Laporan Desriandi Candra, Telukkuantan

KATA Mambasue Nogori dalam dialek bahasa Indonesia sama dengan membasuh atau membersihkan negeri. Tradisi ini merupakan tradisi turun temurun yang ada di IV Koto Lubuk Ambacang Kecamatan Hulu Kuantan.

Sudah lama tradisi ini tidak terdengar dan dilakukan oleh masyarakat IV Koto Lubuk Ambacang memiliki empat desa di Kecamatan Hulu Kuantan. Yakni Desa Koto Kombu, Desa Lubuk Ambacang, Desa Sampurago, dan Desa Sungai Alah.

Namun, Ahad (15/2) siang, tradisi ini kembali dilakukan menjelang beberapa hari memasuki bulan suci Ramadan. Itu setelah para ninik mamak, datuk penghulu dari IV Koto Lubuk Ambacang sepakat untuk melaksanakan tradisi ini kembali 

Para ninik mamak, datuk penghulu dan ratusan masyarakat desa dalam IV Koto Lubuk Ambacang hadir bersama-sama di tepian Pulau Rona, Desa Koto Kombu, Kecamatan Hulu Kuantan.

Mereka berkumpul bersama sambil makan bersama daging kerbau yang sengaja disembelih untuk melaksanakan tradisi ini. Kerbau tersebut adalah hasil rantaman (sumbangan, red) dari anak cucu kemenakan di perantauan yang pulang kampung. 

“Daging kerbau itu dimasak dan dimakan bersama nasi, sayur, dan perbekalan lainnya yang dibawa masyarakat IV Koto Lubuk Ambacang,” papar Taslim Idrus Datuk Sirajo, Urang Tuo Sakorek Koto dalam IV Koto Lubuk Ambacang kepada Riau Pos, Senin (16/2). 

Taslim menuturkan, kepala kerbau tersebut dijatuhkan ke Sungai Kuantan oleh Datuk Penghulu sambil memohon doa kepada Yang Maha Kuasa, Allah SWT agar nogori atau kampung halaman dijaga dan dijauhkan dari segala keburukan dan masyarakat tenang dalam menjalankan ibadah Ramadan yang tinggal beberapa hari ke depan.

Tradisi Mambasue Nogori memang sudah lama tidak dilakukan, sekitar 10 tahun. “Dan sekarang dilakukan menyambut bulan suci Ramadan,agar dijauhkan dari segala keburukan dan kita semua khusuk menjalankan ibadah puasa,” ujarnya.

Di sisi lain, tradisi ini dilakukan sebagai momentum untuk saling merajut silaturahmi anak cucu kemenakan, baik yang di kampung halaman maupun yang pulang kampung menyambut Ramadan. 

Ini pun diungkapkan oleh Syaprudin Datuk Songgo. “Ini momentum untuk mengumpulkan seluruh cucu kemanakan untuk saling bertatap muka. Apalagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadan, di sini kita saling bermaaafkan. Ini acara adat,” ujarnya. 

Di pertemuan tradisi itu, Datuk Songgo mengajak cucu kemanakan untuk menjaga budi pekerti, adab dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari. “Tujuanya adalah, dengan adanya acara adat ini, kita semua dijauhkan dari bala bahaya serta musibah,” kata Syafrudin.

Di momentum yang sakral itu, para ninik mamak dan penghulu, mengundang sejumlah pejabat daerah. Beberapa diantaranya yang hadir adalah Ketua DPRD Kuansing H Jufrizal, Kepala Bapenda Kuansing H Masrul Hakim mewakili Bupati H Suhardiman Amby, dan Camat Hulu Kuantan Azisman. 

Ketua DPRD Kuansing H Juprizal menilai tradisi Mambasue Nogori adalah warisan sehingga cucu kemanakan lebih mengetahui bagaimana cara beradat di negeri ini. “Saya apresiasi acara tradisi turun temurun ini,’’ ujarnya.

‘’Semoga dengan duduk bersamanya cucu kemenakan, kenegerian IV Koto Lubuk Ambacang menjadi pertemuan yang bermanfaat demi bersatunya kampung. Tujuanya, supaya nagori kita dilindungi Allah dari hal-hal yang buruk,” kata Jufrizal.

Sementara Kepala Bapenda Kuansing H Masrul Hakim menyebutkan, adat menjadi dasar masyarakat dalam menjalankan kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Makanya kepada generasi muda, Masrul Hakim mengajak untuk terus melestarikan budaya, lestarikan adat supaya hidup terarah.

Tradisi ini juga terlihat dihadiri oleh Staf Ahli Bupati Kuansing Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Ahmad Herry, Kadiskes Kuansing Aswandi, dan Ketua KONI Kuansing Andi Cahyadi.(das)

Editor : Arif Oktafian
#tradisi #Mambasue Nogori IV Koto Lubuk Ambacang #kuansing #kepala kerbau #kuantan