Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Melihat Festival Perang Air 2026 di Kabupaten Meranti; Komitmen Penghijauan Mengiringi Tradisi Kecil Kota Pesisir

Wira Saputra • Rabu, 18 Februari 2026 | 10:58 WIB
Bupati Kepulauan Meranti Asmar didampingi istri menaiki becak motor saat meramaikan Festival Perang Air 2026 di Selatpanjang, Selasa (17/2/2026).
Bupati Kepulauan Meranti Asmar didampingi istri menaiki becak motor saat meramaikan Festival Perang Air 2026 di Selatpanjang, Selasa (17/2/2026).

Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti mendadak berubah menjadi panggung raksasa, Selasa (17/2), tempat ribuan orang merayakan kegembiraan dengan cara paling sederhana, saling membasahi. Inilah Festival Perang Air 2026.

Laporan WIRA SAPUTRA, Selatpanjang

SORE itu, langit Selatpanjang masih menyisakan cahaya keemasan ketika siraman air pertama memercik ke udara. Disusul tawa panjang, teriakan riang, dan bunyi semprotan pistol air yang bersahut-sahutan. Festival Perang Air 2026 resmi dimulai.

Bukan sekadar agenda tahunan, peristiwa ini telah menjelma menjadi denyut nadi budaya masyarakat pesisir

yang menanti momen tersebut setiap tahun dengan antusiasme yang sama. Di sepanjang jalan protokol, manusia berbaur tanpa jarak.

Anak kecil dengan kacamata renang, remaja membawa ember warna-warni, hingga orang tua yang tersenyum sambil memegang gayung, semuanya larut dalam suasana. Plastik berisi air, selang, hingga pistol mainan berubah fungsi menjadi medium tawa. Tak ada sekat usia, tak ada batas etnis. Yang ada hanya percikan air dan kegembiraan kolektif.

Di antara kerumunan itu, tampak pula wajah-wajah asing. Wisatawan mancanegara ikut tersenyum, basah kuyup seperti warga lokal. Festival yang dulu lahir dari spontanitas anak kampung kini telah tercatat dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026, pengakuan bahwa tradisi kecil dari kota pesisir ini memiliki daya tarik nasional.

Festival ini dibuka Bupati Kepulauan Meranti H Asmar didampingi Wakil Bupati Muzamil Baharudin, jajaran Forkopimda, dan tokoh masyarakat. Atraksi barongsai yang lincah dan tari kreasi yang dinamis mengawali seremoni, menegaskan kuatnya akar budaya Tionghoa dalam perayaan Imlek di Selatpanjang.

Dalam sambutannya, Asmar mengingatkan perang air bukan sekadar hiburan musiman. “Festival ini simbol kebersamaan yang telah terjalin lama. Momentum ini memperkuat persaudaraan kita. Mari jaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan selama kegiatan berlangsung,” ujarnya.

Tahun ini, ada pesan tambahan yang mengalir bersama air. Kapolda Riau, Herry Heryawan menyerahkan bibit tanaman secara simbolis kepada tokoh masyarakat dan wisatawan asing. Di tengah kemeriahan, ia memperkenalkan semangat green policing. Satu ajakan agar perayaan budaya berjalan beriringan dengan kepedulian lingkungan.

Pesannya sederhana namun tegas, jangan biarkan kegembiraan meninggalkan jejak sampah. Percikan air boleh membasahi jalanan, tetapi kesadaran menjaga kebersihan harus tetap melekat. Tanda resmi dimulainya festival ditandai ketika Kapolda menyemprotkan air dari senapan mainan ke arah warga.

Sorak sorai pun pecah. Iring-iringan becak motor berhias pita dan kain warna-warni bergerak perlahan menyusuri rute. Di atasnya, peserta mengacungkan ember dan pistol air, sementara warga di tepi jalan membalas dengan guyuran yang sama meriahnya.

Tradisi ini memiliki jejak panjang dalam sejarah Imlek di Selatpanjang. Dahulu, perang air hanyalah permainan sederhana. Anak-anak menyiram satu sama lain tanpa panggung, tanpa panitia. Kini, ia tumbuh menjadi atraksi budaya yang menyedot perhatian nasional dan menghidupkan roda ekonomi daerah.

Di balik tawa yang bergema, para pedagang meraup rezeki. UMKM menjajakan makanan dan minuman, penginapan penuh, jasa transportasi kebanjiran penumpang. Kota kecil ini berubah menjadi ruang pertemuan ekonomi dan budaya dalam waktu bersamaan.


Menariknya, selepas seremoni pembukaan, aparat, panitia, dan masyarakat tak langsung bubar. Mereka menggelar aksi korve (kerja bakti) bersama di sepanjang rute festival. Sapu dan kantong sampah menggantikan pistol air. Pemandangan itu menjadi simbol bahwa tradisi dan tanggung jawab bisa berjalan seiring.

Dengan dukungan pemerintah daerah, aparat keamanan, serta partisipasi aktif warga, Festival Perang Air 2026 diharapkan berlangsung aman hingga akhir rangkaian Imlek. Di kota ini, air bukan hanya medium permainan, tetapi bahasa universal.

Satu Jam, Selatpanjang Kembali Bersih

Tak sampai satu jam setelah Festival Perang Air 2026 mereda, pusat Kota Selatpanjang kembali bersih. Jalan Imam Bonjol dan Jalan Ahmad Yani yang sebelumnya dipadati massa dan percikan air, langsung disulap rapi lewat korve lintas sektoral.

Sekitar pukul 17.00 WIB, apel gabungan digelar di halaman Kantor Lantas, Jalan Merdeka. Kegiatan dipimpin Wakapolres Kepulauan Meranti Kompol Detis Mayer Silitonga mewakili Kapolres. Puluhan personel TNI-Polri, OPD, instansi vertikal, hingga organisasi kemasyarakatan diterjunkan menyisir titik-titik keramaian.

Kompol Detis Mayer Silitonga menegaskan, kebersihan pasca-festival menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian kegiatan. Menurutnya, perayaan budaya harus diiringi tanggung jawab menjaga lingkungan. “Festival ini kebanggaan kita bersama. Tapi setelah acara selesai, kita pastikan kota kembali bersih. Ini bentuk kepedulian sekaligus tanggung jawab kita terhadap lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, korve lintas sektoral tersebut merupakan implementasi arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat. Di jajaran kepolisian, kegiatan itu juga menjadi bagian dari program Green Policing yang diinisiasi Polda Riau sebagai kampanye kesadaran ekologis.

“Kami ingin memastikan setiap event besar di Meranti tidak hanya sukses pelaksanaan, tetapi juga sukses dalam pengelolaan lingkungannya. Ini yang kita dorong sebagai konsep Green Event,” tambahnya.

Korve difokuskan di Jalan Imam Bonjol dan Jalan Ahmad Yani—dua ruas utama yang menjadi pusat kegiatan perang air. Sampah plastik, botol, dan sisa kemasan dikumpulkan dan diangkut secara bersama-sama.

Menjelang petang, wajah Kota Selatpanjang kembali normal. Lalu lintas lancar, badan jalan bersih, dan aktivitas masyarakat kembali seperti biasa. Pesan yang ingin ditegaskan: pesta budaya boleh meriah, tetapi disiplin menjaga kebersihan tidak boleh lengah.(das)

 

 

Editor : Arif Oktafian
#ciancui #perang air di meranti #opd #perang air #selatpanjang #imlek di meranti