Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Jejak Sejarah Masjid Syahabuddin Kabupaten Siak Dibangun Sultan, Mimbar Berusia 267 Tahun

Monang Lubis • Sabtu, 7 Maret 2026 | 16:37 WIB

Masjid Syahabuddin yang megah berdampingan dengan Makam Sultan Siak di Jalan Datuk Pesisir, Kampung Dalam, Siak. Foto diambil Kamis (5/3/2026).
Masjid Syahabuddin yang megah berdampingan dengan Makam Sultan Siak di Jalan Datuk Pesisir, Kampung Dalam, Siak. Foto diambil Kamis (5/3/2026).

Masjid Syahabuddin Kabupaten Siak merupakan masjid bersejarah. Masjid yang terletak di Jalan Datuk Pesisir, Kampung Dalam, Siak ini menjadi salah satu objek wisata, selain Istana Siak atau Istana Asserayah Hasyimiah. Di dalam masjid ini terdapat mimbar yang berusia ratusan tahun.

DIBANGUN sekitar tahun 1926-1935 oleh Sultan Syarif Kasim II, masjid yang tak jauh dari Istana Siak atau sekitar 300 meter ini melambangkan peran sultan sebagai pemimpin agama dan pemerintahan. Di sekitar masjid ini juga menjadi tempat dimakamkannya sultan terakhir tersebut bersama permaisuri.

Pembangunannya didanai oleh kesultanan dan swadaya masyarakat secara gotong royong. Masjid ini memiliki gaya arsitektur unik dengan atap sirap berbentuk kuncup teratai, tiang bulat silinder dari beton, serta jendela dan pintu melengkung.

Dalam masjid ada mimbar warna hijau toska, terbuat dari kayu yang diukir seperti kelopak dan daun serta bunga, terlihat semakin apik karena warna hijau itu disisip warna putih. Di bagian atas mimbar ada angka 1178 ditulis dengan tulisan Arab. Jika saat ini 1447 Hijriah, berarti usia mimbar itu 267 tahun.

Budayawan Siak, Said Muzani membenarkan jika usia mimbar itu 267 tahun. Menurutnya, sejak dulu mimbar itulah yang menjadi tempat para khatib menyampaikan syiar Islam di Siak. Sejak berdirinya Masjid Syahabuddin ini, mimbar ini tak pernah berganti.

Mimbar itu tidak pernah rusak bahkan tidak ada satu kayupun diganti. “Catnya saja yang diperbarui, itupun dengan warna yang sama. Mimbar dan seisi masjid ini sangat terjaga sebab bagian dari sejarah,” ujarnya.

Masjid Syahabuddin ini menjadi sentral dalam pengembangan ilmu agama, serta menjalankan ibadah bagi umat muslim di masa Kesultanan Siak. Sultan salat 5 waktu di masjid ini jika tidak ada kunjungan atau kegiatan lainnya. Di masa itu belum ada jam khusus, orang mengetahui waktu dari azan di masjid ini.

Tamu dan para petinggi yang datang ke istana akan melaksanakan ibadah salat di masjid ini. Masjid Syahabuddin ini berada di tepi Sungai Jantan, atau Sungai Siak. Pada masa itu, satu satunya transportasi lewat jalur air. 

Para pedagang yang datang dari sejumlah wilayah akan singgah ke masjid tersebut. Sebab masjid itu sejak lama juga sudah menjadi ikon dengan menaranya yang tinggi dan berada tidak jauh dari sungai.

Said Muzani ingat betul, saat Salat Jumat terdapat dua bilal untuk melaksanakan azan. Satu di bagian depan dan satunya di bagian samping ke arah Sungai Jantan.

Untuk pelaksanaan salat, Masjid Syahabuddin memiliki imam khusus yang dipilih secara selektif. Imam dipilih oleh para mufti atau ulama kerajaan. Saat ini, salah satu Imam Masjid Syahabuddin ini adalah Husni Merza yang juga mantan Wakil Bupati Siak.

Husni memang santri dan bacaan salatnya sangat fasih. “Untuk menjadi imam saat itu, bacaan ayatnya diuji, termasuk bacaan Al-Fatihah,” jelas Said Muzani. Ketika itu, menurut Said Muzani, imam tetap di Masjid Syahabuddin adalah Tuan Faqih Abdullah dari Solok, Sumatera Barat. Hanya dia saat itu yang lulus tes mufti kerajaan.


Dalam memajukan Kerajaan Siak, Sultan selalu membuka diri kepada siapapun. Orang-orang alim, religius dan pintar dari luar dibawa. Sementara itu, dari Besilam Langkat,  Sumatera Utara ada Abdullah Mukhtar Harahap sebagai penasihat yang juga ulama di Istana Asserayah Alhasyimiah Siak.

Khatib Salat Jumat adalah Imam Hamzah tinggal di Mempura. “Setiap hari Imam Hamzah menggunakan sampan untuk menjadi khatib di masjid ini dan imamnya Faqih Abdullah,” terang Said Muzani.

Said Muzani menceritakan tentang sosok Sultan Syarif Kasim II. Menurutnya, Sultan merupakan sosok pemimpin yang sangat alim.

“Apa yang diucapkan sultan biasanya terjadi dengan nyata,” jelas Said Muzani.

Ketika itu, jika sultan ke Bagan Siapiapi, orang-orang Tionghoa meminta kaki sultan dicelupkan ke air sungai, lalu ikan ikan muncul ke permukaan. Menurut Said Muzani, sebenarnya penyebabnya bukan karena kaki sultan, tapi lebih pada kekuatan doa sultan.

Bicara sultan, tentu bicara banyak hal termasuk siapa yang mencukur rambut sultan. Menurut Said Muzani, yang mencukur rambut Sultan Syarif Kasim II saja, didatangkan tukang pangkas dari Sumatera Barat dan merupakan orang yang saleh.(das)

Editor : Bayu Saputra
#Masjid Syahabuddin Siak #Sultan Syarif Kasim II #Sejarah Siak