Di sebuah kawasan yang dikelilingi pepohonan rimbun di Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan setiap pagi hari selalu dimulai dengan suara khas yang tidak biasa. Ada derap langkah berat di atas tanah lembap, disusul suara air yang disiramkan ke tubuh raksasa berkulit abu-abu. Di bawah bangunan shelter beratap seng yang luas, beberapa gajah berdiri tenang. Di dekatnya, para pria berseragam hijau tua sibuk memegang sikat, ember, dan tali pengaman.
Laporan M ALI NURMAN, Ukui
MEREKA adalah para mahout, pawang gajah yang setiap hari mengabdikan hidupnya untuk merawat satwa raksasa itu. Sementara tempat mereka bekerja dikenal sebagai Unit Konservasi Gajah (UKG), sebuah fasilitas konservasi yang dibina oleh PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), bagian dari APRIL Group bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.
Unit Konservasi Gajah (UKG) Estate Ukui merupakan fasilitas konservasi gajah Sumatera yang dikelola PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau untuk mendukung perlindungan satwa liar serta mitigasi konflik antara manusia dan gajah di wilayah Riau.
Unit konservasi ini menjadi salah satu benteng penting bagi keberlangsungan hidup Gajah Sumatera, satwa yang kini statusnya semakin terancam akibat hilangnya habitat dan konflik dengan manusia.
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu subspesies gajah Asia yang kini berstatus Critically Endangered atau terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Namun bagi para mahout di Ukui, gajah-gajah itu bukan sekadar satwa liar yang harus dijaga. Mereka adalah sahabat, bahkan keluarga.
Environmental Officer RAPP Joko Prasetyo menuturkan, keberadaan Unit Konservasi Gajah di Ukui tidak muncul begitu saja. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang upaya konservasi yang dimulai sejak puluhan tahun lalu. Pada awalnya, program ini dikenal sebagai Elephant Flying Squad, unit yang dibentuk untuk membantu mengatasi konflik antara manusia dan gajah liar di wilayah Riau.
Elephant Flying Squad merupakan tim patroli konservasi yang menggunakan gajah terlatih untuk menggiring gajah liar kembali ke habitatnya serta mengurangi konflik antara gajah dan manusia di sekitar kawasan hutan. Program tersebut dimulai ketika pemerintah menyerahkan empat ekor gajah kepada perusahaan pada tahun 1994.
“Awalnya ada empat gajah yang diberikan pemerintah. Waktu itu ditempatkan di Estate Langgam,” kata Joko saat ditemui di lokasi konservasi pekan lalu. Empat gajah tersebut memiliki nama yang masih diingat hingga sekarang: Ade yang lahir pada 1977, Mira dan Meri yang lahir pada 1979, serta Ika yang lahir pada 1978.
Pada 2005, program ini mulai memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk BBKSDA dan pengelola Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), salah satu habitat penting gajah di Riau. Setahun kemudian, pada 2006, seluruh kegiatan konservasi dipindahkan ke Estate Ukui di Kabupaten Pelalawan.
Sejak saat itu, kawasan ini berkembang menjadi Unit Konservasi Gajah yang tidak hanya menangani konflik satwa liar, tetapi juga merawat dan melestarikan gajah-gajah yang berada di bawah perlindungan manusia.
Seiring waktu, jumlah gajah di Unit Konservasi Gajah Ukui bertambah. Beberapa di antaranya lahir di kawasan ini sendiri. Saat ini, total terdapat tujuh ekor gajah yang dirawat.
Selain empat gajah awal, ada Carmen yang lahir pada 2009, Raja Arman yang lahir pada 2011, serta seekor anak gajah bernama April yang lahir pada 2023. Menariknya, beberapa kelahiran tersebut merupakan hasil perkawinan dengan gajah liar yang datang dari hutan.
Fenomena ini menandakan bahwa kawasan sekitar Ukui masih menjadi jalur perlintasan alami gajah. “Beberapa gajah kita ini hasil perkawinan dengan gajah liar. Itu terjadi karena gajah liar datang ke sini, terutama saat musim kawin,” jelas Joko.
Provinsi Riau sendiri merupakan salah satu wilayah penting bagi populasi gajah Sumatera di Pulau Sumatra, namun kawasan ini juga menghadapi tantangan berupa fragmentasi habitat serta potensi konflik antara satwa liar dan aktivitas manusia.
Musim kawin gajah biasanya terjadi antara September hingga November. Pada periode itu, gajah liar jantan kerap mendekati kawasan konservasi untuk mencari pasangan. Kedatangan mereka kadang menimbulkan ketegangan, tetapi sejauh ini tidak pernah menimbulkan konflik serius.
Pagi hari adalah waktu paling sibuk di Unit Konservasi Gajah Ukui. Sejak matahari baru naik, para mahout sudah mulai bekerja. Aktivitas pertama adalah memandikan gajah. Dengan ember dan selang air, tubuh besar gajah disiram dan disikat hingga bersih.
Setelah itu, mahout memeriksa kondisi fisik mereka memastikan tidak ada luka, infeksi, atau tanda-tanda penyakit. Jika semua dalam kondisi baik, gajah kemudian diajak berjalan menuju kawasan hutan untuk mencari makan. Aktivitas ini dikenal dengan istilah mengangon, yaitu menggembalakan gajah agar mereka tetap aktif bergerak dan mendapatkan makanan alami.
Seekor gajah dewasa membutuhkan makanan sekitar 20 persen dari berat tubuhnya setiap hari. Karena itu, tim konservasi harus memastikan bahwa area penggembalaan memiliki cukup pakan. Jenis makanan favorit gajah cukup beragam. “Yang paling disukai itu krisan dan paku-pakuan. Kalau yang manis seperti tebu juga mereka suka,” kata Joko.
Kadang-kadang gajah juga diberi makanan tambahan seperti gula merah sebagai suplemen energi. Area penggembalaan tidak pernah sama setiap hari. Jika pakan di satu titik mulai berkurang, mahout akan membawa gajah berpindah ke lokasi lain yang masih memiliki banyak vegetasi.
Cara ini memastikan gajah tetap beraktivitas seperti di habitat alaminya. Selain makan dan berjalan, gajah-gajah di UKG Ukui juga dilatih untuk mengikuti aba-aba dari mahout. Latihan ini penting agar gajah bisa berinteraksi dengan manusia tanpa menimbulkan bahaya.
Askep Forest Protection RAPP Ukui, Angga Devila Yoelanda, mengatakan pelatihan tersebut meliputi perintah dasar seperti duduk, berjalan maju, mundur, atau berhenti. “Mahout melatih gajah supaya bisa merespons aba-aba. Jadi ada komunikasi antara manusia dan gajah,” jelasnya.
Namun pelatihan itu tidak dilakukan dengan kekerasan. Sebaliknya, hubungan antara gajah dan mahout dibangun melalui pendekatan emosional. Gajah dikenal sebagai hewan yang memiliki ingatan kuat dan perasaan yang sensitif. “Karena itu, kepercayaan antara gajah dan mahout menjadi kunci utama dalam perawatan mereka,” ujarnya.(das)
Editor : Arif Oktafian