PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - BAGI Dian Afri Jayanti (42), Ketua PKK Air Jamban, kehadiran greenhouse ini menjadi jawaban atas keresahan yang telah lama ia rasakan. Sebagai penggerak aktif pemberdayaan perempuan, Dian menyaksikan langsung semangat anggota PKK yang tinggi, namun kerap terhambat oleh keterbatasan pekarangan serta kondisi cuaca yang tidak menentu.
‘’Dulu kami sudah menanam tanaman obat keluarga (TOGA) dan sayuran, tapi masih sangat terbatas. Lahan sempit dan metode konvensional membuat tanaman sering rusak akibat hujan atau panas ekstrem. Hasilnya pun jauh dari optimal,’’ kenangnya.
Sebelum adanya intervensi program, hasil panen kelompok ini hanya berkisar 10-35 ikat sayur per siklus, jumlah yang belum mampu memberikan dampak signifikan, baik untuk konsumsi keluarga maupun nilai ekonomi.
Melalui Program Puteri Proklim Melayu Lestari, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) hadir memberikan dukungan komprehensif berupa 1 paket greenhouse berukuran 8 x 12 meter yang dilengkapi sistem pengairan, bibit tanaman hidroponik, serta 1.000 lubang tanam hidroponik.
Namun, lebih dari sekadar bantuan fisik, transformasi justru terjadi pada pola pikir dan cara kerja kelompok. Dian bersama 30 anggota PKK Air Jamban mulai menerapkan sistem kerja yang terstruktur, membagi peran secara jelas, serta mempelajari teknik hidroponik dari tahap penyemaian hingga perawatan.
‘’Lahan kami memang terbatas, tapi sekarang kami punya harapan yang lebih luas. Greenhouse ini bukan hanya tempat menanam, tapi tempat kami belajar untuk maju bersama,” ujarnya.
Baca Juga: BRILink Agen Buka Peluang Tambah Penghasilan Baru
Lurah Air Jamban, Rifky Ellyaningsih, yang turut hadir dalam peresmian tersebut, memberikan apresiasi atas kolaborasi antara masyarakat dan PHR. Ia menilai inisiatif ini sebagai langkah konkret dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah padat penduduk.
‘’Kami sangat mengapresiasi dukungan dari PHR Zona Rokan yang telah membantu mewujudkan greenhouse Program Puteri Proklim Melayu Lestari ini. Ini bukan hanya tentang pertanian, tetapi juga tentang pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan, dan upaya menjaga lingkungan secara berkelanjutan,’’ ujarnya.
Dampak dari program ini mulai menunjukkan potensi yang menjanjikan. Dengan penerapan metode hidroponik, kapasitas produksi diproyeksikan meningkat signifikan,. Seiring dengan peningkatan tersebut, peluang ekonomi baru pun mulai terbuka, dengan estimasi potensi pendapatan yang dapat mencapai Rp4 juta per bulan.
Baca Juga: Triwulan I, Investasi Riau Capai Rp12,8 Triliun
Ke depan, greenhouse ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat produksi sayur-mayur, tetapi juga berkembang sebagai simbol kemandirian ekonomi berbasis komunitas.
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menyampaikan kebanggaannya atas capaian kelompok tersebut. Menurutnya, program ini bukan sekadar pembangunan fasilitas, melainkan investasi sosial yang mendorong perubahan berkelanjutan.
‘’Melihat ibu-ibu di sini mampu menaklukkan keterbatasan lahan dan beralih ke teknologi greenhouse adalah sebuah kebanggaan. Kami tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga mendorong lahirnya kemandirian dan kepercayaan diri masyarakat,’’ ungkapnya.
Baca Juga: 3.484 JCH Sudah Diterbangkan ke Madinah
Ia menambahkan, keberhasilan pengelolaan 1.000 lubang tanam secara mandiri menjadi bukti nyata transformasi yang terjadi.
‘’Ketika masyarakat mampu mengelola inovasi secara mandiri dan merasakan langsung manfaat ekonominya, di situlah esensi pemberdayaan yang berkelanjutan benar-benar terwujud,’’ sebut Iwan.***
Laporan HENNY ELYATI, Pekanbaru
Editor : Arif Oktafian