Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Napak Tilas Puluhan Warga Belanda ke Desa Koto Kombu dan Pekanbaru, “Di Sini Keluarga Kami Pernah Dipaksa Kerja oleh Jepang”

M Ali Nurman • Minggu, 17 Mei 2026 | 15:11 WIB
Rombongan warga Belanda melihat rel kereta api yang menjadi bagian dari kerja paksa romusha Jepang di Desa Koto Kombu, Kecamatan Hulu Kuantan, Sabtu (16/5/2026). Desriandi candra/riau pos
Rombongan warga Belanda melihat rel kereta api yang menjadi bagian dari kerja paksa romusha Jepang di Desa Koto Kombu, Kecamatan Hulu Kuantan, Sabtu (16/5/2026). Desriandi candra/riau pos

 

Sebanyak 29 orang warga Belanda tiba-tiba ramai datang ke Desa Koto Kombu, Kecamatan Hulu Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi, Sabtu (16/5). Bukan untuk wisata, tapi untuk menelusuri jejak leluhur mereka yang pernah jadi romusha di zaman penjajahan Jepang di Indonesia. Tak hanya di Kuansing, mereka juga berkunjung ke Pekanbaru untuk tujuan yang sama. Jumlahnya lebih banyak, 32 orang.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - KECAMATAN Hulu Kuantan, tepatnya di Desa Koto Kombu memiliki kisah sejarah bangsa. Terutama ketika terjadi peralihan zaman penjajahan Belanda ke penjajahan Jepang. Orang-orang tempatan ketika itu maupun orang-orang Belanda yang tertinggal, melakukan kerja paksa. Salah satunya adalah membangun rel kereta api. 

Kisah itu pulalah yang membuat kehadiran warga Belanda ini jauh-jauh datang ke Kuansing. Mereka ternyata ingin melihat daerah yang dulunya pernah ditempati keluarganya saat peralihan penjajahan dari Belanda ke Jepang.

Itu diungkapkan oleh Ketua Tim Belanda Eric Sininghe ketika melakukan napak tilas kisah sejarah itu. Eric menyampaikan, kehadiran mereka merupakan napak tilas dan mengenang sejarah para keluarga yang dulunya pernah menetap khususnya di Kuantan Singingi dan juga Provinsi Riau secara umum.

“Kami mengunjungi daerah-daerah di mana keluarga kami dulu pernah dipekerjakan paksa oleh Jepang saat peralihan penjajahan dari Belanda ke Jepang. Nah, sekarang kami sudah sampai di sini. Kami sangat terharu,” kata Eric Sinighe.

Baca Juga: Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Bocah 6 Tahun di Siak Meninggal Dunia, Tak Mau Makan Siang, Dipukul Pakai Batu Bata hingga Kejang-Kejang

Eric Sinighe merasa bangga dan takjub kepada masyarakat Koto Kombu dengan masih tersisanya beberapa peninggalan sisa penjajahan dulu. Salah satu yang dikunjungi puluhan warga Belanda itu adalah sisa rel kereta api yang masih tergeletak di beberapa tempat di Desa Koto Kombu.


Ketika ditanya terkait adanya nama jalur Desa Koto Kombu Sang Ratu Helmina yang menjadi ikon Desa tersebut, Eric Sinighe menyebut masyarakat Koto Kombu peduli dengan sejarah.

Baca Juga: Ribuan Anak Semarakkan Gebyar TK Se-Pekanbaru, Penting Pendidikan Karakter Sejak Dini

“Iya. Kami juga pernah melihat di media sosial adanya pacu jalur. Kami juga takjub. Kok ada nama ratu kami di perahu panjang di Indonesia. Meski tertulis di situ Ratu Helmina, tapi kami tahu maksudnya Ratu Wilhelmina. Mungkin penyebutan di sini yang disesuaikan dengan nama jalur. Terima kasih masyarakat Koto Kombu. Lain kali kami ke sini lagi,” sebut Eric Sinighe.

Sementara, Osvian Putra sebagai pemandu tour menyebutkan puluhan warga Belanda tersebut merasa terkesan dengan keramahan masyarakat Koto Kombu. Mereka sangat senang dengan pelayanan dari pemerintah Kecamatan Hulu Kuantan khususnya Desa Koto Kombu. Masyarakat berbaur dengan tamu yang datang. Namun, kata Osvian Putra, pihaknya berharap, dengan kedatangan para turis dari luar kota dan mancanegara, masyarakat harus menangkap peluang-peluang ekonomi.

“Apalagi daerah Hulu Kuantan ini masuk dalam daerah yang banyak objek wisata. Nah, ini harus dimanfaatkan masyarakat untuk berjualan baju kaos, miniatur jalur dan suvenir lainnya,” kata Osvian.

Usai ke Desa Koto Kombu Kecamatan Hulu Kuantan, mereka pun berencana melanjutkan perjalanan ke Sijunjung, Sumatera Barat. 

Puluhan warga itu disambut oleh Sekcam Hulu Kuantan, Eka Handayani, Pj Kades Koto Kombu Syafni Delita, Ketua BPD Rafius, Sekdes Rabdes Kurniawan, Kades Lubuk Ambacang Iid Siswandi, Ketua Lembaga Adat Nagori Hulu Kuantan dan Taslim Idrus.

Sekcam Eka Handayani menyampaikan terima kasih atas kunjungan warga Belanda ke Desa Koto Kombu. Kunjungan tersebut tentunya akan membawa berkah bagi daerah. Ini juga disampaikan Pj Kepala Desa Koto Kombu Syafni Delita. Menurutnya, kehadiran warga Belanda tersebut secara tidak langsung memberi nilai plus terhadap desa.

“Kami merasa terharu dengan kehadiran warga Belanda yang mengkhususkan datang ke Desa Koto Kombu. Mereka juga terharu dengan adanya nama jalur Sang Ratu Helmina. Ya, minimal, nama Desa Koto Kombu akan disebut-sebut di Belanda nantinya,” kata Syafni Delita. 

Datangi Tugu Romusha Pekanbaru

Selain ke Koto Kombu, Kuansing, rombongan ini juga telah lebih dahulu datang ke Tugu Romusha Pahlawan Kerja dan Lokomotif Esslingen di Jalan Kharuddin Nasution, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Kamis (14/5) lalu.

Rombongan yang berjumlah 32 orang itu datang dengan satu tujuan, yakni menelusuri jejak sejarah dan mengenang anggota keluarga mereka yang menjadi korban kerja paksa romusha pada masa Perang Dunia II. Mereka terdiri dari anak, cucu hingga keluarga para tahanan perang dan korban kerja paksa yang pernah dilibatkan dalam pembangunan jalur Kereta Api Pakanbaroe pada tahun 1943 hingga 1945. Kedatangan mereka membawa cerita keluarga, memori yang diwariskan lintas generasi, sekaligus penghormatan bagi ribuan korban yang kehilangan nyawa di tanah Riau.

Suasana haru menyelimuti kawasan monumen saat lagu kebangsaan Indonesia dan Belanda dikumandangkan berdampingan. Di bawah monumen yang menjadi simbol penderitaan ribuan pekerja paksa pembangunan jalur Pakanbaroe Railway itu, para tamu asal Belanda tampak berdiri hening.

Sebagian dari mereka menundukkan kepala sambil memejamkan mata dan memanjatkan doa, seolah menyampaikan penghormatan terakhir kepada para korban yang tidak pernah mereka temui secara langsung.

Tragedi Romusha pembangunan rel kereta api Muara Sijunjung-Pekanbaru terjadi pada masa pendudukan Jepang, tepatnya tahun 1943 hingga 1945. Jalur sepanjang sekitar 220 kilometer tersebut dibangun dengan kerja paksa dan menelan korban jiwa dalam jumlah sangat besar.

Diperkirakan sekitar 285 ribu orang meninggal dunia selama proses pembangunan rel tersebut. Jumlah korban bahkan disebut hampir setara dengan jumlah bantalan rel yang dipasang di sepanjang jalur kereta api itu. Artinya, setiap satu kilometer pembangunan rel diperkirakan memakan korban sekitar 1.270 jiwa.

Kini, jalur kereta api Muara Sijunjung-Pekanbaru sudah tidak lagi berbekas. Yang tersisa hanyalah monumen dan bongkahan batu yang diabadikan sebagai pengingat tragedi kemanusiaan tersebut di Kota Pekanbaru.

Meski demikian, tragedi Romusha tetap menjadi catatan penting sejarah dunia sebagai bukti kejahatan perang tentara Jepang. Selain karena besarnya jumlah korban jiwa, jalur kereta api Pakanbaroe juga tercatat sebagai salah satu proyek rel kereta api dengan usia penggunaan yang sangat singkat.

Atase Militer Belanda untuk Indonesia, Johannes Moerkens mengatakan, tujuan kedatangan rombongan tersebut adalah untuk memastikan sejarah kelam itu tidak hilang ditelan waktu, terutama bagi generasi muda.

“Menurut saya peringatan ini penting sekali karena ada banyak korban Romusha, tetapi banyak orang sekarang tidak tahu bagaimana situasi waktu itu. Ada yang sudah lupa. Jadi acara seperti ini penting terutama untuk generasi muda,” katanya.

Menurut Johannes, bagi keluarga korban, perjalanan ke Pekanbaru menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan tentang luka sejarah yang pernah dialami keluarga mereka. Ia menjelaskan, pembangunan rel kereta api Pakanbaru bukan hanya melibatkan tahanan perang dari luar negeri, tetapi juga ratusan ribu masyarakat Indonesia yang dipaksa bekerja dan didatangkan dari berbagai daerah.

“Ada banyak orang dari Jawa dan Sumatra yang dipindahkan ke pedalaman untuk bekerja di sana. Mungkin jumlahnya sampai ratusan ribu. Orang muda harus belajar dari tragedi ini supaya tidak terjadi lagi perang seperti Perang Dunia,” terangnya.

Bagi keluarga korban, lanjut Johannes, Pekanbaru bukan sekadar kota di Pulau Sumatra. Kota ini menjadi ruang kenangan, tempat ayah, kakek dan leluhur mereka pernah bertahan hidup di tengah kerasnya perang dan kerja paksa. Ia berharap situs sejarah seperti Tugu Romusha dapat terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi muda sebagai ruang pembelajaran sejarah kemanusiaan.

“Mungkin satu atau dua tahun lagi ada upacara lagi di sini. Saya berharap tempat seperti ini bisa menjadi tempat belajar tentang situasi masa lalu,” lanjutnya.

Johannes juga menilai hubungan sejarah antara Indonesia dan Belanda hari ini tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang kedua negara di masa lalu.*** 

Editor : Bayu Saputra
#feature riau pos #desa koto bambu #belanda #napak tilas