Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Inovasi Hulu Migas Tak Hanya Teknologi, Juga Daya Juang SDM di Baliknya

Henny Elyati • Rabu, 20 Mei 2026 | 12:33 WIB
Rig pengeboran milik PT PHR beroperasi nonstop di Blok Rokan, Riau. Proyek new waterflood atau injeksi air baru yang perdana diimplementasikan pascaalih kelola berhasil menyumbang tambahan produksi lebih dari 1.000 barel minyak per hari (BOPD), menegaskan komitmen PHR dalam menjaga ketahanan energi nasional. (Istimewa)
Rig pengeboran milik PT PHR beroperasi nonstop di Blok Rokan, Riau. Proyek new waterflood atau injeksi air baru yang perdana diimplementasikan pascaalih kelola berhasil menyumbang tambahan produksi lebih dari 1.000 barel minyak per hari (BOPD), menegaskan komitmen PHR dalam menjaga ketahanan energi nasional. (Istimewa)

 

Ketidakpastian geopolitik akibat perang Iran yang terjadi belakangan ini memberikan dampak yang cukup besar bagi industri minyak bumi dan gas (migas). Tidak hanya memicu krisis energi dan ganguan rantai pasokan migas yang menyebabkan ancaman terhadap ketahanan energi domestik tetapi juga menyebabkan inflasi akibat lonjakan biaya energi secara drastis.

Laporan HENNY ELYATI, Pekanbaru

BERBICARA krisis energi, awal tahun ini Indonesia khususnya Riau pernah mengalaminya saat pasokan gas dari PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) terhenti, sumber energi untuk pembangkit listrik fasilitas produksi pun anjlok.

Baca Juga: JCH Bengkalis yang Tergabung di Tiga Kloter Dalam Kondisi Sehat dan Siap Hadapi Puncak Haji

Di Riau, perusahaan migas terbesar dengan wilayah kerja seluas 6.200 kilometer persegi yakni PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) juga mengalami krisis energi untuk pembangkit listriknya. Dimana beban listrik normal yang dibutuhkan untuk mengoperasikan Blok Rokan sebesar 435 megawatt. 

Karena adanya gangguan pasokan gas terhenti maka daya yang dimiliki turun drastis ke level survival yakni 100 megawatt (MW). Artinya ada defisit sekitar 335 MW. Bisa dibayangkan kekurangan daya ini bisa membuat produksi terhenti total, peralatan rusak dan target negara pun melayang.

Namun para perwira PHR berjuang keras bagaimana agar produksi tetap jalan dan tidak mengganggu target nasional. Dimana PHR memiliki sistem manajemen beban yang ditinjau secara ketat setidaknya setiap tiga tahun sekali. Sistem ini memiliki 10 level pemadaman (load shedding).

Baca Juga: Riau Berpotensi Hujan Intensitas Ringan hingga Sedang 

''Ketika sistem terdeteksi power shortage (kekurangan daya), sistem secara otomatis memutus beban berdasarkan prioritas,'' ujar Senior Manager Power Generation & Transmission (PGT) Winarto, baru-baru ini.

Dijelaskannya, dimulai dari level 1 (beban non-esensial) hingga bertahap ke level 10 (beban paling kritis). Level tertinggi (level 10) adalah benteng terakhir yakni Gathering Station (GS) dan sumur-sumur dengan produksi tertinggi.

''Secara sistem, prioritas pemadaman otomatis ini bekerja hingga ke lever jaringan. Sistem langsung memilah mana jaringan dengan produktivitas terendah yang harus dilepas lebih dahulu demi menyelamatkan jaringan vital. Inilah pertimbangan safety dan ekonomi yang berjalan dalam hitungan detik,'' sebut Winarto.

Baca Juga: Diskusi Publik: Dinamika Media, Homeless Media, dan Masa Depan Industri Pers Nasional

Hanya saja, mesin ini hanya bisa bekerja sesuai jadwalnya. Ketika krisis terjadi berkepanjangan dan variabel lapangan berubah dinamis, maka langkah cepat harus dilakukan guna menyelamatkan produksi tetap berjalan.

Senior Manager Desy Kurniawan menjelaskan, keberhasilan mengelola operasi adalah hasil kolaborasi tanpa sekat fungsi vital yakni Productions & Operations (PO), Power Generation & Transmission (PGT) yang mengelola transmisi listrik, dan Hydrocarbon Transportation (HCT) yang mengelola aliran minyak di pipa pengiriman.

Minyak di Blok Rokan memiliki karakteristik unik yang mudah membeku (congeal) jika suhu turun. Jika aliran berhenti total, minyak di pipa akan mengeras seperti lilin. Selain itu, jika daya di Stasiun Pengumpul (Gathering Station) mati, risiko overflow (meluapnya fluida produksi) mengintai, yang bisa berakibat fatal bagi lingkungan dan keselamatan.

Baca Juga: Perdana, Empat Putra Daerah Dilantik Jadi Kadis di Lapangan Tugu Depan Istana Siak Lewat Penerapan Manajemen Talenta 

''Di sinilah penyusunan strategi ramp-up. Mereka melakukan kalkulasi perkiraan produksi berdasarkan ketersediaan gas yang ada. Ini seperti mengatur lalu lintas udara yang sangat padat dengan bahan bakar terbatas," jelas Desy.

Dalam situasi tersebut, aliran listrik ke fasilitas pendukung dan sumur-sumur marginal (berproduksi rendah) harus "diistirahatkan" sementara. Energinya dialihkan sepenuhnya untuk menjaga denyut nadi sumur-sumur prioritas. Meski kehilangan daya setara satu kota kecil, PHR berhasil menjaga lebih dari 7.000 sumur prioritas tetap beroperasi tanpa henti.

''Kami kehilangan sebagian potensi produksi, namun strategi ini berhasil mencegah kerugian yang jauh lebih masif. Kami berupaya menyelamatkan aset vital negara dari kerusakan permanen,'' kata Desy.

Baca Juga: Ruas Jalan Pasar Modern Telukkuantan Rusak, PUPR Diminta Segera Lakukan Perbaikan

Bagi orang awam, grafik produksi mungkin terlihat sekadar angka. Namun bagi para insinyur di WK Rokan, angka 7.265 sumur yang tetap hidup itu adalah bukti kemenangan strategi. Sebuah dedikasi senyap untuk memastikan bahwa dalam kondisi terburuk sekalipun, kontribusi Rokan untuk APBN tetap terjaga seoptimal mungkin.

''Apa yang terjadi di Blok Rokan membuktikan ketahanan energi tidak hanya dibagun di atas mesin-mesin canggih tetapi juga di atas kompetensi sumber daya manusianya,'' ujar Incident Commander (IC) IMT, Endah Rumbiyanti.

Dijelaskan Rumbi, kemampuan para insinyur PHR dalam melakukan manuver beban (load shedding) berbasis data, dan bergelut dengan dinamika kondisi pasokan gas serta memastikan tetap memberikan lifting membuktikan bahwa Rokan dikelola oleh tangan-tangan yang paham betul apa yang mereka pertaruhkan.

Baca Juga: Pansel Capim BRK Syariah Buka Asesmen untuk Enam Jabatan 

Terapkan Beragam Teknologi

Tidak bisa dipungkiri, hampir sebagaian besar lapangan minyak di Indonesia merupakan lapangan mature (tua) yang beroperasi sejak awal kemerdekaan seperti wilayah kerja (WK) Rokan, khususnya lapangan Minas yang sejak 1952 konsisten memproduksi minyak dan menopang pasokan energi nasional.

Lapangan ini diprediksi memiliki cadangan minyak mencapai 8,7 miliar barel. Guna mempertahankan produksi, berbagai teknologi diterapkan di sini. Mulai dari injeksi air peripheral yang diterapkan sejak tahap awal pengembangan, dilanjutkan dengan metode waterflood atau injeksi air pada tahun 1995. Ini memperlihatkan lapangan Minas terus melakukan inovasi.

Baca Juga: Pejabat Eselon III dan IV Pemprov Riau Dilantik 26 Mei

Beragam teknologi perolehan minyak tingkat lanjut (tertiary recovery) pun diujicobakan. Salah satunya melalui penerapan chemical enhanced oil recovery (CEOR) atau injeksi bahan kimia. Inovasi ini telah dilakukan sejak masa operator sebelumnya melalui sejumlah ujicoba lapangan.

PT Pertamina Hulu Rokan pun melanjutkan pengembangan CEOR ini di lapangan Minas. Pertamina mengerahkan perwira-perwira terbaiknya melalui sinergi antara tim di WK Rokan, Technology Innovation and Implementation (TI&I) Persero, serta dukungan anak perusahaan terkait untuk menemukan formulasi CEOR yang optimal dan memproduksinya di dalam negeri. 

Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pemasok bahan sebelum alih kelola sekaligus memperkuat kemandirian energi masional.

Baca Juga: BRK Syariah Perkuat Operasional Sistem Pembayaran dan Mitigasi Risiko bagi Teller dan CS

Injeksi bahan kimia yang dikembangkan berupa surfaktan. Pengembangan ini membutuhkan waktu dua tahun sampai tim peneliti PHR menemukan formulasi yang mampu bekerja optimal sesuai karakter reservoir di WK Rokan.

Setelah melalui uji coba lapangan pada Juli 2025 melalui Proyek Surfactant Extended Stimulation (SES) di Lapangan Balam South, Kabupaten Rokan Hilir pada Selasa (23/12/2025) menjadi tonggak penting bagi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). 

Pada hari yang sama, proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) resmi diluncurkan di lapangan Minas Area A, Zona Rokan. 

Baca Juga: Arsenal Raih Gelar Juara Liga Inggris 2025/2026, Perjuangan 22 Tahun

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak Bumi dan Gas (SKK Migas) Djoko Siswanto menegaskan, lapangan Minas merupakan salah satu aset paling penting dalam sejarah industri hulu migas Indonesia, yang selama puluhan tahun telah berkontribusi nyata terhadap pemenuhan kebutuhan energi nasional.

"Namun kita juga menyadari bahwa Minas adalah lapangan yang sudah mature (tua). Keberlanjutan produksinya hanya dapat dijaga melalui inovasi dan penerapan teknologi yang tepat. Oleh karena itu, kita bersyukur bisa menerapkan Chemical EOR tahap I di area A Lapangan Minas," ujar Djoko, baru-baru ini.

Senada, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menilai keberhasilan CEOR, khususnya pada lapangan mature, membuktikan bahwa inovasi teknologi mampu memperpanjang umur lapangan, meningkatkan recovery factor, serta memperkuat ketahanan energi nasional. 

Baca Juga: Dosen Pascasarjana Unilak Edukasi Guru dan Siswa SD Santa Maria Pekanbaru Olah Sampah Jadi Pupuk Organik

"Yang patut kita banggakan bersama, surfaktan sebagai komponen utama dalam teknologi CEOR ini merupakan hasil inovasi perwira Pertamina. Efektivitasnya telah melalui serangkaian pengujian baik di laboratorium maupun di lapangan, sehingga memastikan keandalan dan kesiapan teknologi ini untuk diterapkan secara komersial,"  ungkap Oki.
 
Surfaktan utama yang digunakan diformulasikan secara khusus agar dapat bekerja optimal di lapangan-lapangan Pertamina. Proses pengembangannya melibatkan sinergi dengan sejumlah anak usaha, antara lain PT Pertamina Lubricants (PTPL) dan Elnusa Petrofin, mulai dari pengadaan bahan baku, proses blending, quality assurance/quality control (QA/QC), hingga distribusi ke lokasi proyek. Seluruh tahapan tersebut telah melalui serangkaian uji laboratorium dan uji lapangan.

“Berbagai upaya dilakukan selain riset internal, secara paralel, kita mendapatkan dukungan dari banyak pihak, termasuk pihak ketiga penyedia teknologi , akademisi, dan para expert baik dari dalam maupun luar negeri" ujar Manager EOR Petroleum Engineering PHR Regional 1-Sumatera Agus Masduki.

Baca Juga: Lemak Trans Jika Berlebihan Dapat Sebabkan Serangan Jantung, Kenali Lewat Kebiasaan Ini 

Uji Ratusan Sampel dan Ujicoba Lapangan

Salah satu tantangan terbesar dalam perburuan surfaktan adalah menemukan kombinasi surfaktan yang memberikan hasil paling optimal dengan biaya yang terjangkau. Produk jadi yang tersedia di pasar global hanya perlu dipastikan cocok dan optimal, sehingga diperlukan percobaan ratusan formula untuk memenuhi kriteria teknis secara spesifik.

"Yang paling berat justru menemukan bahan main surfaktannya," sebut Agus.

Baca Juga: 10 Manfaat Buah Kesemek bagi Tubuh, Jaga Kesehatan Mata, Cegah Sembelit hingga Kurangi Risiko Penyakit Jantung

Lamanya proses pencarian yang berlangsung hampir dua tahun ini melibatkan lebih dari 80 kali percobaan laboratorium. Dari puluhan formula yang diuji, hanya sebagian kecil yang menunjukkan performa mendekati kriteria teknis yang ditetapkan.

Senior Analyst Laboratory PHR, Ester Tio Minar E. Silalahi, menjadi salah satu sosok kunci dalam proses tersebut. Dengan pengalaman panjang di bidang formulasi surfaktan, Ester memimpin pengujian dan analisis laboratorium secara intensif. Dengan tim berjumlah 9 orang, mereka berjibaku mencari formula yang paling sesuai.

"Kami menerima ratusan sampel surfaktan. Tantangan terbesarnya adalah menemukan kombinasi yang cocok dan optimal," kata Ester.

Baca Juga: Dua Oknum Polisi Terlibat Narkoba Divonis Hakim PN Bengkalis dengan Hukuman Berbeda

Dijelaskan Ester, tidak semua surfaktan dapat bekerja stabil pada kondisi kimia dan karakter reservoir Rokan. Oleh karena itu, tim melakukan pendekatan ilmiah mendetail, mulai dari membaca literatur, diskusi rutin, hingga pengujian berulang dengan berbagai kombinasi bahan.

"Ratusan tes dilakukan dan hasilnya kami tinjau terus-menerus. Kalau ada kendala, langsung kami diskusikan secara intens bersama tim," papar Ester.

Di luar laboratorium, upaya pencarian juga dilakukan secara paralel. Selain mengembangkan formula secara internal yang melibatkan tim laboratorium, EOR, dan fungsi-fungsi sinergis di tingkat Pertamina (Persero), tim juga bergerilya mencari manufaktur bahan kimia, baik di dalam maupun luar negeri, termasuk produsen yang belum pernah memiliki riwayat kerja sama sebelumnya.

Baca Juga: Terancam Pemecatan dan Penjara Belasan Tahun, Sidang Tuntutan Prajurit TNI Pelaku Pembunuhan Kacab Bank BUMN

Melalui ketekunan, kolaborasi, dan pendekatan ilmiah yang konsisten, tim laboratorium PHR membuktikan bahwa inovasi di sektor hulu migas bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang daya juang manusia di baliknya.

Editor : M. Erizal
#industri migas #PT Transportasi Gas Indonesia #PT Pertamina Hulu Rokan (PHR)