Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dari Vonis Menjadi Harapan, Cerita Penderita HIV selama 24 Tahun di Riau

Joko Susilo • Rabu, 8 Juli 2026 | 11:30 WIB
Ilustrasi gambar orang dengan HIV/AIDS. (Gemini AI/RADAR LAMONGAN)
Ilustrasi gambar orang dengan HIV/AIDS. (Gemini AI/RADAR LAMONGAN)

 

Pria itu masih mengingat jelas hari ketika dokter menyampaikan hasil pemeriksaan yang mengubah jalan hidupnya. Tahun 2002, di usia muda dan masih melajang, dirinya didiagnosis terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). 

Laporan JOKO SUSILO, Pekanbaru 

SAAT itu, informasi tentang HIV masih sangat terbatas. Di tengah minimnya pemahaman masyarakat, diagnosis tersebut terasa seperti vonis akhir kehidupan. “Dunia seperti sudah selesai dan ini jadi akhir hidup,” kenangnya bercerita pada Riau Pos.

Perasaan takut, cemas, hingga bayangan akan penolakan dari lingkungan bercampur menjadi satu. Bukan hanya harus menghadapi penyakit yang belum banyak dipahami orang, ia juga dibayangi stigma yang melekat pada HIV.

Pria yang kini telah berkeluarga itu mengaku, tantangan terberat setelah mengetahui statusnya bukan hanya soal kondisi kesehatan, tetapi juga minimnya informasi mengenai HIV. Bahkan pada masa itu, pemahaman tenaga kesehatan pun menurutnya masih belum memadai.

Karena itulah, ia berusaha mencari pengetahuan sebanyak mungkin dari berbagai sumber. Baginya, memahami HIV menjadi langkah pertama untuk bisa menerima keadaan dan melanjutkan hidup.

Baca Juga: Wahai Sayangku, Bernyanyilah dan Jangan Menangis, Kekalahan Tak Hentikan Fans Meksiko untuk Tetap Bertepuk Tangan dan Nge-Chant

“Pemahaman yang minim tentang HIV, baik dari diri sendiri maupun tenaga kesehatan, mengharuskan saya mencari informasi sebanyak-banyaknya. Ditambah lagi stigma negatif terhadap HIV/AIDS menambah persoalan lain,” ujarnya.

Setahun setelah didiagnosis, tepatnya pada 2003, ia menikah. Di tengah berbagai kekhawatiran yang muncul, sang istri memilih tetap mendampinginya. Dukungan itu menjadi kekuatan terbesar yang membuatnya mampu melewati masa-masa sulit. “Dukungan orang terdekat sangat penting, apalagi pada masa awal mengetahui status. Beruntung istri menerima dan mendampingi hingga saat ini,” katanya.

Beberapa tahun setelah pernikahan, kakak dan adiknya baru mengetahui kondisi yang dialaminya. Kini, mereka telah dikaruniai dua orang anak. Sementara keluarga dari pihak istri belum mengetahui secara langsung status HIV yang dimilikinya.

Perjalanan pengobatan juga tidak mudah. Ia mulai mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) pada 2003. Saat itu, obat tersebut masih harus dibeli sendiri dan belum tersedia di Indonesia.

Meski demikian, ia merasakan manfaat yang luar biasa dari terapi tersebut. Menurutnya, ARV menjadi titik balik yang mengembalikan harapan hidupnya. “Sangat berpengaruh dalam pemulihan kesehatan, apalagi kalau sempat sampai fase AIDS. ARV sangat membantu memulihkan imunitas,” ungkapnya.

Lebih dari dua dekade hidup berdampingan dengan HIV membuatnya menyaksikan perkembangan layanan kesehatan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Ia mengakui akses layanan kini jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali didiagnosis.

Namun, menurutnya, peningkatan tersebut masih lebih banyak dari sisi jumlah layanan, belum sepenuhnya diikuti peningkatan kualitas edukasi. “Masih ada informasi yang kurang tepat diterima teman-teman ODHA, baik mengenai cara penularan maupun bagaimana menjalani kehidupan setelah dinyatakan HIV,” jelasnya.

Baca Juga: Menelisik Keabadian Tenun Melayu di Kampung Bandar, Merajut Jejak Zaman di Tepian Siak (bagian 1)

Menariknya, selama ini ia mengaku belum pernah mengalami diskriminasi secara langsung. Hal itu karena ia memilih menyampaikan status HIV hanya kepada orang-orang yang memang perlu mengetahuinya. “Alhamdulillah belum pernah, karena status HIV disampaikan kepada yang memang perlu dan sangat penting,” tuturnya.

Baginya, tantangan terbesar yang masih dihadapi bukan hanya persoalan pengobatan, tetapi juga cara pandang masyarakat terhadap HIV. Ia berharap masyarakat memahami bahwa HIV adalah virus seperti penyakit lainnya yang memiliki jalur penularan tertentu, sehingga tidak semua ODHA tertular akibat perilaku yang selama ini dilekatkan dengan stigma negatif.

“HIV adalah virus yang sama dengan virus lain, punya cara masuk ke dalam tubuh seseorang. Penularannya tidak hanya dari seks bebas atau perilaku buruk saja,” katanya.

Ia mencontohkan, saat ini banyak ibu rumah tangga yang tertular dari pasangan yang sah secara agama maupun negara. Bahkan, dalam kondisi tertentu, penularan juga dapat terjadi melalui kejadian yang sama sekali tidak disangka.

“Banyak sekarang ibu rumah tangga tertular dari pasangan sah. Bahkan bisa juga dari hal yang tidak disangka dan justru karena niat baik, misalnya membantu orang kecelakaan yang darahnya tanpa sengaja tersentuh,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta masyarakat berhenti memberikan stigma kepada ODHA. Menurutnya, mereka tetap manusia yang memiliki hak yang sama untuk hidup, bekerja, dan berkontribusi bagi lingkungan. “ODHA juga manusia sama seperti manusia lain, punya hak yang sama dalam kehidupan di dunia ini,” tegasnya.

Kepada pemerintah, ia berharap dukungan terhadap ODHA terus diperkuat. Tidak hanya melalui pengobatan, tetapi juga edukasi yang benar kepada masyarakat serta upaya pencegahan yang lebih komprehensif.

“Berikan hak yang sama dengan masyarakat lain, apalagi sekarang meningkat kasus pada anak, padahal tidak ada anak yang meminta dirinya lahir dengan HIV,” katanya.

Ia menilai informasi mengenai HIV harus disampaikan secara benar dan tidak terus-menerus dikaitkan dengan stigma sebagai penyakit akibat perilaku tertentu.

Baca Juga: Dihadiri 5.000 Orang, Wako Bagikan Sembako dan Alat Bantu Dengar, Dari Kegiatan Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK di Lapangan Bukit, Senapelan

“Upaya komprehensif harus dilakukan, baik pencegahan maupun pengobatan lanjutan. Informasi yang benar harus disampaikan. Jangan HIV selalu dikaitkan dengan penyakit perilaku walaupun memang ada kelompok tertentu yang berisiko,” ujarnya.

Di akhir wawancara, ia menyampaikan pesan kepada masyarakat yang masih takut menjalani tes HIV maupun mereka yang baru menerima hasil diagnosis positif. Menurutnya, mengetahui status HIV sejak dini justru membuka peluang lebih besar untuk memperoleh pengobatan dan merencanakan masa depan.

“Bagi yang takut melakukan tes, kalau memang pernah melakukan hal yang berisiko, itu adalah bagian dari pemeriksaan kesehatan yang sebaiknya dilakukan. Misalnya sebelum menikah, akan lebih baik jika masing-masing pasangan mengetahui kondisi kesehatannya. Mengetahui status HIV lebih dini akan membantu mencari jalan terbaik untuk melangkah dan menata hidup ke depan,” katanya.

Sementara bagi mereka yang baru mengetahui status HIV, ia meminta agar tidak menyerah. “Jangan takut dan khawatir karena itu bukan akhir hidup. Justru dari sini kita bisa menata hidup lebih baik dan lebih sehat. Sejak pengobatan ditemukan, harapan hidup ODHA menjadi jauh lebih besar, sekaligus menjadi cara pencegahan bagi pasangan,” tuturnya.***

 

Editor : Arif Oktafian
#hiv #aids #odha #pekanbaru