Berbagi Ilmu, Ajak Anak Muda Bertani, Chaidir Saleh, Petani Melon Golden Alisha Binaan Pertamina EP Field Rantau

Henny Elyati • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 11:26 WIB
Perwakilan manajemen Pertamina EP Rantau Field bersama anggota Kelompok Tani Melon Mutiara menanam bibit melon di polybag Kebun Kelon, Tanjung Seumantoh, Karang Baru, Aceh Tamiang, Selasa (21/7/2026). (Pertamina EP Field Rantau untuk Riau Pos)
Perwakilan manajemen Pertamina EP Rantau Field bersama anggota Kelompok Tani Melon Mutiara menanam bibit melon di polybag Kebun Kelon, Tanjung Seumantoh, Karang Baru, Aceh Tamiang, Selasa (21/7/2026). (Pertamina EP Field Rantau untuk Riau Pos)

 

Chaidir Saleh merintis usaha sebagai petani melon sejak tujuh tahun lalu, kini ia membagikan ilmunya dan mengajak anak muda bertani.

Laporan HENNY ELYATI, Pekanbaru 

DUA orang perempuan tampak sibuk menggemburkan tanah di polybag kebun Melon Golden Alisha milik Chaidir Saleh (62), Selasa (21/7). Mereka tengah menyiapkan media tanam pascabanjir bandang November 2025.

‘’Mereka sedang fermentasi tanah dengan sekam bakar dan pupuk kandang. Cukup digemburkan bagian atas polybag saja,’’ ujar Chaidir saat memberikan arahan terhadap sejumlah anak muda di kebunnya.

Kebun Chaidir berada di dekat Stasiun Pengumpul Minyak (SP-7), Kebun Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Ratusan batang Melon Golden Alisha tumbuh di atas lahan tiga rante (sekitar 1.200 meter persegi).

Baca Juga: Omzet Meningkat Berkat Pelatihan Sertifikasi Halal BRI Peduli, Kisah Sukses UMKM di Cimahi

Ia memanfaatkan lahan tiga rante tersebut secara optimal dengan sistem polybag ukuran 50x60 sentimeter, jarak tanam rapat dan jalur antar baris selebar 1,5 meter. Beberapa ruas batang melon pun dipangkas agar nutrisi yang diserap tanaman fokus pada pembesaran buah.

‘’Tujuan memangkas daun dan ruang batang agar dapat melihat buah dengan lebih baik, tahu jumlah dan bentuknya,’’ katanya.

Chaidir menanam varietas unggulan yakni Melon Golden Alisha F1. Varietas ini tahan penyakit dan bernilai jual tinggi. Perjalanan Chaidir di awal merintis menanam melon tidak mudah. Penuh jatuh bangun. Bahkan, ia pernah empat kali gagal. Tapi, ia tak menyerah. Ia terus belajar kendati secara otodidak. 

Tahun 2020, ia kembali menanam melon dengan pengetahuan baru. Namun, saat panen perdana buah melonnya hambar. Ia kemudian menjual ke agen di bawah harga pasar.

Baca Juga: Pekanbaru Rasa Bali; Cluster Grand Ubud Tawarkan Hunian Premium dengan Suasana Asri

Kendati belum berhasil, Chaidir sudah merasa senang. Sebab, ia berhasil panen. Ia terus mencari tahu rahasia manis melon. Hasil observasinya masa panen harus cukup umur. Jika biasa melon panen usia 55 hari ia mencoba menundanya hingga 60-70 hari. Kunci lainnya perawatan dan pemupukan sejak fase vegetatif hingga panen.

Setelah berhasil menemukan formulasi rasa manis melon, produksi melon Chaidir menanjak. Permintaan melon terus meningkat terutama lewat media sosial. Tidak hanya itu, permintaan dari mall dan swalayan juga tidak mampu ia penuhi.

Akan tetapi, Desember 2024, Chaidir terserang stroke ringan dan harus menggunakan kursi roda. Aktivitas pertaniannya sempat terhenti. Pertamina EP Field Rantau berinisiatif meneruskan usahanya lewat Program Smart Agriculture Melonesia.

Baca Juga: Menambah Daya, Menjaga Produksi, Kisah di Balik Penguatan Kelistrikan Lapangan Libo Zona Rokan

Kini, ia diminta menjadi mentor Kelompok Tani Melon Mutiara dan Sekolah Lapang Pertamina EP Field Rantau. Sebagai mentor, ia memberikan pembelajaran terkait formula rasa ma­nis melon kepada belasan petani milenial. Dan, inovasi teknik pengelolaan media tanam polybag yang bisa digunakan hingga 22 kali masa tanam.

Dengan biaya media tanam sekitar Rp8.000 per-polybag, penggunaan berulang membuat media tanam per-siklus budidaya hanya berkisar Rp400-Rp500. Jadi, lebih efisien dibandingkan praktik budidaya melon konvensional yang umumnya media tanam hanya dapat dimanfaatkan dua hingga empat kali.

Manager Community Involvement & Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal menjelaskan, Sekolah Lapang merupakan bagian dari Program Smart Agriculture Melonesia yang dikembangkan Pertamina EP Field Rantau. Program ini sebagai upaya mendorong regenerasi petani sekaligus transformasi ilmu budidaya melon.***

Editor : Arif Oktafian
Chaidir Saleh petani melon Melon Golden Alisha