Dua hari menjalani perawatan, selang masih menempel di dada sebelah kiri. Napas Hari Harianto (31), Warga Teluk Lanus, Sungai Apit, Siak yang diserang harimau masih sesak. Menurutnya kuku harimau menancap dan kata dokter mengenai paru-parunya.
Laporan MONANG LUBIS, Siak Sri Indrapura
HARI HariANTo saat ini sedang menjalani proses pemulihan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tengku Rafian Siak. Lelaki yang akrab disapa Itul itu, dijaga oleh adiknya yang bekerja sebagai Kaur Perencanaan Kampung Teluk Lanus bernama Hendra Firhandi.
Terkait penyerangan harimau, Hari Harianto menceritakan, dia baru selesai buang air besar (BAB) di kanal yang lebarnya 3 meter sampai 5 meter di Sungai Belat, Desa/Kampung Teluk Lanus. Jarak kanal dengan kamp tempat mereka menginap sekitar 20 meter.
“Harimau melompati kanal, karena terkejut saya berbalik, jadi posisinya kami berhadap-hadapan dalam jarak sekitar 5 meter,” terang Hari.
Disebutkan Hari, meski sudah disenternya, harimau tetap berjalan mendekat. Tentu saja Hari menjadi panik. Tak ingin nyawanya melayang sia-sia. Hari berbalik dan mencoba untuk lari. Momentum itu dimanfaatkan harimau. Kaki kiri depan harimau mencakar bawah ketiak kiri Hari dan kukunya menghujam cukup dalam.
Hari berusaha melepas cakaran, sementara kaki harimau satunya mencakar bawah punggung Hari, menyebabkan Hari tersungkur tak kuat menahan sakit dan bobot tubuh harimau. Hari berusaha bertahan memegang roda alat berat, sambil teriak minta tolong ke temannya, Rakha (22), dan Herman (30) yang ada di dalam kamp.
Namun, mulut harimau langsung berusaha menggigit tengkuknya, lalu menariknya, sampai terlepas pegangannya dari roda alat berat, kemudian menyeretnya ke semak kebun sawit.
Baca Juga: Omzet Meningkat Berkat Pelatihan Sertifikasi Halal BRI Peduli, Kisah Sukses UMKM di Cimahi
“Saat gigitan dilepaskan di semak kebun sawit. Saya yang sudah benar-benar lemas, memaksakan diri bangkit dan berlari ke kamp sambil teriak-teriak minta tolong,” ucap Hari.
Sesampai di kamp, Hari roboh bersimbah darah. Situasi panik karena mereka tidak tahu di mana posisi harimau. Rekannya Herman naik ke alat berat, menghidupkan semua lampu, lalu lampu diarahkan ke harimau. Dan, harimau pun pergi meninggalkan lokasi.
Selanjutnya Hari dilarikan ke Kampung Penyengat menggunakan speed boat yang memang siaga di lokasi, dari Penyengat dengan ambulans dibawa ke RSUD Tengku Rafian.
Baca Juga: Menambah Daya, Menjaga Produksi, Kisah di Balik Penguatan Kelistrikan Lapangan Libo Zona Rokan
Saat BAB, Selasa (21/7) malam sekitar pukul 19.30 WIB, dia hanya membawa senter dan lupa membawa golok. Padahal selama ini, dia ke mana mana membawa golok.
“Saya tidak menyangka bakal selamat seperti ini. Kejadiannya serasa mimpi saja, begitu cepat dan sangat mencekam dan begitu menakutkan,” sebut Hari.
Karena baru dua hari menjalani perawatan, Hari harus lebih banyak istirahat. Menurutnya, walau di bagian dada kirinya masik perih, dan ngilu, namun terasa semakin berkurang rasa sakitnya.
Baca Juga: Pekanbaru Rasa Bali; Cluster Grand Ubud Tawarkan Hunian Premium dengan Suasana Asri
Hari menyebutkan, dirinya, Rakha (22), dan Herman (30), bekerja sebagai operator dan helper alat berat untuk pembersihan lahan perkebunan dan pembuatan kanal.
“Lokasi kami berada di wilayah yang sulit dijangkau dan membutuhkan waktu, serta hanya bisa dijangkau dengan sarana transportasi air,” jelas Hari. Di sekitar kamp, susah jaringan, sehingga menyulitkan proses komunikasi dan koordinasi.
Disebutkan Kaur Perencanaan Kampung Teluk Lanus Hendra Firhandi, dia berharap abangnya tidak lagi bekerja di hutan. “Biarlah dia bekerja di kampung saja. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi keluarga kami,” ucap Hendra.
Sementara itu, Kabid II Balai Besar Kosnervasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Siak Hermanto mengatakan, wilayah Sungai Belat merupakan kawasan yang masih menjadi habitat satwa liar jenis harimau, sehingga memiliki tingkat risiko yang tinggi dan dapat membahayakan keselamatan manusia jika berada atau beraktivitas di kawasan tersebut.
“Tim kami sudah turun dan melakukan pemetaan dengan membawa kamera trap dan drone,” sebutnya. Pihaknya mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan, menghindari aktivitas seorang diri di area yang berpotensi menjadi lintasan satwa liar, terutama pada sore hingga malam hari.(das)
Editor : Arif Oktafian