Indonesia sudah 81 tahun merdeka. Namun, persoalan akses jalan masih menjadi keluhan warga di Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan dan mengganggu mobilitas masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Laporan WIRA SAPUTRA, Selatpanjang
Tak hanya mengurangi kenyamanan, kondisi jalan yang rusak di daerah ini membuat mobilitas warga menjadi perjuangan tersendiri. Bahkan di sejumlah titik, kerusakan jalan semenisasi terpaksa ditambal secara swadaya menggunakan potongan kayu agar lubang tidak semakin membahayakan pengguna jalan.
Hasan, warga Pulau Rangsang mengatakan, kondisi jalan di sejumlah wilayah masih memerlukan perhatian serius. Kerusakan berupa jalan berlubang, bergelombang hingga berlumpur membuat perjalanan masyarakat menjadi tidak mudah, terutama ketika hujan.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan warga yang hendak bepergian, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi dan akses menuju fasilitas pelayanan dasar.
Baca Juga: 81 Tahun Indonesia Merdeka, Dusun Mungkal Siak Masih Terisolir Tanpa Listrik dan Air Bersih
“Jalan ini sangat penting bagi masyarakat. Kalau rusak, bukan hanya perjalanan yang terganggu, tetapi hasil kebun, aktivitas anak sekolah, dan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan juga ikut terdampak,” ujarnya, Senin (17/8).
Pulau Rangsang sendiri memiliki aktivitas ekonomi yang cukup bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan. Sejumlah komoditas seperti padi, kelapa, karet dan kopi menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Hasan berharap pemerintah tidak hanya fokus membangun infrastruktur baru, tetapi juga memperhatikan jalan yang sudah ada agar tetap bisa digunakan dengan baik.
Nazri, warga Pulau Rangsang lainnya juga mengaku hal yang sama. Menurutnya jalan yang warga lalui kini sudah berada pada kondisi yang membuat warga harus ekstrawaspada setiap kali bepergian. Jalan yang berlubang dan tidak rata membuat perjalanan terasa seperti melewati jalur penuh jebakan.
Baca Juga: Simbol Kerja Keras, Dibeli Dua Bulan sebelum Akad Nikah
“Kalau siang mungkin masih nampak lubangnya. Kalau malam, apalagi habis hujan, kita cuma mengandalkan lampu kendaraan. Lubang tertutup air, tiba-tiba masuk, motor bisa oleng,” keluhnya.
Menurut Nazri, persoalan paling terasa ketika hujan turun. Air menggenangi badan jalan dan membuat batas antara jalan yang masih layak dengan bagian yang sudah rusak menjadi sulit dibedakan.
“Kadang bukan lagi soal cepat sampai. Yang penting selamat sampai tujuan. Pelan-pelan pun tetap harus hati-hati karena kita tidak tahu di depan ada lubang sedalam apa,” katanya.
Baca Juga: Makin Sepi Pembeli, Pedagang TPS Pasar Wisata Pasar Bawah Harap Revitalisasi Segera Selesai
Ia juga menggambarkan bagaimana kondisi jalan berdampak langsung terhadap aktivitas warga. Kendaraan yang membawa hasil kebun harus berjalan perlahan, sementara masyarakat yang memiliki keperluan mendesak tetap harus melewati ruas jalan tersebut.
“Petani mau bawa hasil kebun, jalannya rusak. Anak sekolah lewat, jalannya rusak. Orang sakit mau dibawa berobat, jalannya juga rusak. Jadi hampir semua aktivitas kami bergantung pada jalan ini,” ujarnya.
Nazri berharap pemerintah melihat kondisi tersebut bukan hanya dari laporan administrasi atau angka panjang ruas jalan yang akan diperbaiki. Menurutnya, kondisi di lapangan jauh lebih terasa bagi masyarakat yang setiap hari menggunakannya.
Baca Juga: Akademi Como 1907 Larang Sundulan, Aturan Revolusioner untuk Lindungi Otak Pemain Muda
“Kalau kami boleh berharap, jangan tunggu jalan ini benar-benar putus atau ada korban baru ditangani. Kami ingin diperbaiki sebelum kerusakannya semakin parah,” tegasnya.
Ia menilai perbaikan jalan bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi menyangkut kehidupan masyarakat Pulau Rangsang. “Jalan ini ibarat urat nadi kami. Kalau tersumbat, semuanya ikut tersendat. Kami hanya ingin bisa bepergian dengan tenang, bukan setiap kali lewat harus berdoa semoga tidak jatuh,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kepulauan Meranti Rahmat Kurnia mengatakan, keterbatasan fiskal daerah menjadi salah satu kendala dalam mempercepat perbaikan infrastruktur.
“Dengan kondisi keuangan daerah yang sedang sulit, kita juga tengah membatasi pembangunan infrastruktur. Namun kita tetap berusaha untuk mengajukan ke pusat,” ujarnya.
Baca Juga: Dari Benang Menjadi Peluang Usaha, Merajut Jalan UMKM Meranti Naik Kelas
Ia menjelaskan, perbaikan jalan dengan kondisi rusak berat membutuhkan anggaran yang cukup besar. Penanganannya juga tidak dapat dilakukan secara parsial karena sejumlah ruas membutuhkan pekerjaan secara menyeluruh. “Untuk kasus seperti di Tanjung Kedabu juga tidak bisa ditangani separuh, namun harus total dan penanganannya juga khusus agar lebih optimal,” jelasnya.
Pemkab Kepulauan Meranti kini berupaya mendapatkan dukungan pemerintah pusat melalui usulan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang Konektivitas Tahun Anggaran 2027. Untuk Pulau Rangsang, pemerintah daerah mengusulkan anggaran Rp417,27 miliar untuk penanganan dua ruas strategis, yakni Tanjung Samak-Repan dan Tanjung Samak-Tanjung Kedabu.
Ruas Tanjung Samak-Repan diusulkan mendapat peningkatan atau rekonstruksi sepanjang 14,834 kilometer dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp115,04 miliar. Sedangkan ruas Tanjung Samak-Tanjung Kedabu diusulkan direkonstruksi sepanjang 28,957 kilometer dengan kebutuhan sekitar Rp302,24 miliar.
Kedua ruas tersebut dinilai strategis karena menjadi akses masyarakat menuju sekolah, fasilitas kesehatan, pusat perekonomian hingga pelabuhan. Usulan tersebut sebelumnya telah dibahas bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian PPN/Bappenas pada 24 Juli 2026 di Bandung.(das)
Editor : Arif Oktafian