Perjuangan Rohmawati Mencerdaskan Anak Bangsa di Pelosok Kampar

Kamaruddin • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 11:40 WIB
Perwakilan Disdik Kampar mengukur lahan yang akan dibangun gedung baru untuk peserta kelas jauh UPT SDN 007 Desa Sungai Agung, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Kamis (24/9/2026). Tampak gedung lama berdiri dengan dinding tripleks.(DISDIKPORA KAMPAR UNTUK RIAU POS)
Perwakilan Disdik Kampar mengukur lahan yang akan dibangun gedung baru untuk peserta kelas jauh UPT SDN 007 Desa Sungai Agung, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Kamis (24/9/2026). Tampak gedung lama berdiri dengan dinding tripleks.(DISDIKPORA KAMPAR UNTUK RIAU POS)

 

Dari balik dinding tripleks yang mulai rapuh dan melapuk dimakan usia, suara lantang Rohmawati tetap menggema setiap pagi. Dinding tipis itu menjadi batas antara ruang belajar sederhana dengan dunia luar yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. 

Laporan KAMARUDDIN, Bangkinang

DI dalam dinding tripleks itu, anak-anak duduk mengikuti pelajaran, sementara di hadapan mereka berdiri seorang perempuan yang telah menghabiskan sebagian besar masa hidupnya untuk mengajarkan ilmu.

Di ruang kelas jauh UPT SDN 007 Desa Sungai Agung, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar itu, Rohmawati tidak sekadar mengajarkan abjad dan angka. Selama lebih dari dua dekade, ia memilih  bertahan dan ikut merajut masa depan anak-anak di salah satu sudut daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses dan fasilitas pendidikan.

Di sana, Rohmawati sudah 22 tahun mendedikasikan hidupnya sebagai guru honorer. Sejak sekolah rintisan itu berdiri pada 2004, ia selalu berada di garis terdepan, menemani anak-anak di wilayah tersebut mengenal dunia pendidikan.

Kala itu, perjalanan menuju sekolah bukanlah perkara mudah. Akses jalan masih sulit dilalui, terlebih ketika hujan turun dan jalan berubah menjadi kubangan lumpur. Kondisi ekonomi masyarakat di sekitar sekolah pun belum sepenuhnya sejahtera.


Namun, semua keterbatasan tersebut tidak pernah membuat Rohmawati mengurungkan niatnya untuk mengajar. Ia tetap datang ke sekolah, berdiri di depan kelas dan menjalankan tugasnya sebagai seorang guru. Insentif yang diterima seadanya tidak menjadi alasan baginya untuk meninggalkan anak-anak yang membutuhkan pendidikan.

Waktu terus berjalan. 22 tahun berlalu, tetapi kondisi sekolah tempat Rohmawati mengabdikan diri masih jauh dari kata ideal. Bangunan sekolah yang berdinding tripleks seadanya menjadi saksi panjang perjalanan pendidikan di kawasan tersebut. 

Dinding tipis itu harus menghadapi panas matahari yang menyengat. Ketika hujan turun disertai angin kencang, para guru dan siswa juga harus berhadapan dengan rembesan air yang masuk ke ruang belajar.

Dalam kondisi seperti itu, menjaga buku dan perlengkapan belajar agar tidak basah menjadi pekerjaan tersendiri. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk menuntut ilmu justru masih bergelut dengan persoalan mendasar. 

Keterbatasan sarana fisik ditambah akses jalan yang sulit ditempuh membuat sebagian orang tua dari wilayah afdeling di sekitar sekolah memilih tidak menyekolahkan anak mereka di sana.

Sekolah yang sebelumnya pernah menampung hingga sekitar 50 siswa, kini jumlahnya terus menyusut. Hanya sekitar 18 anak yang masih bertahan belajar di balik sekat-sekat triplek yang sudah usang. 


Meski demikian, Rohmawati tidak melihat keterbatasan itu sebagai alasan untuk berhenti. Baginya, sekolah bukan hanya soal gedung yang megah, meja dan kursi yang bagus, atau fasilitas yang lengkap. Ada masa depan anak-anak yang harus tetap dijaga.


Dan selama masih ada anak-anak yang datang untuk belajar, selama itu pula ia merasa masih memiliki alasan untuk tetap berdiri di depan kelas. Dari sekolah sederhana yang jauh dari kemewahan itu, tangan dingin Rohmawati telah mengantarkan banyak anak menuju kehidupan yang lebih baik.

Sejumlah lulusannya berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bahkan, ada pula yang kini bekerja sebagai tenaga medis. Bagi Rohmawati, keberhasilan para anak didiknya menjadi kebahagiaan tersendiri. Pendidikan yang ia berikan di ruang kelas sederhana itu ternyata mampu menjadi pijakan bagi sebagian anak untuk melangkah lebih jauh.


“Jika dilihat dari segi ekonomi, insentifnya tentu tidak layak. Namun, motivasi saya murni karena cinta pada profesi ini dan ingin membagikan ilmu kepada anak-anak bangsa,” ungkap Rohmawati dengan mata berbinar saat ditemui di lokasi, Kamis (24/9).

Kalimat itu seakan menggambarkan alasan mengapa ia mampu bertahan begitu lama. Bukan karena besarnya penghasilan. Bukan pula karena fasilitas yang diberikan. Melainkan karena kecintaan terhadap profesi dan keinginan agar anak-anak di pelosok tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan.

Namun, perjuangan panjang itu akhirnya mendapat perhatian lebih luas. Kondisi sekolah yang memprihatinkan tersebut belakangan viral di media sosial. Gambaran ruang belajar berdinding triplek dan keterbatasan fasilitas pendidikan di sana menyita perhatian masyarakat.

Kabar itu kemudian sampai kepada pemerintah daerah. Angin segar pun mulai berembus ke sekolah terpencil tersebut. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar bergerak cepat dengan merencanakan pembangunan ruang belajar baru yang permanen dan lebih layak. Harapan yang selama ini seperti tertahan di balik dinding tripleks perlahan mulai menemukan titik terang.

Kehadiran pihak Pemkab Kampar bersama jajaran kepolisian yang turun langsung meninjau lokasi menjadi momen yang tidak biasa bagi Rohmawati. Ia mendampingi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Kampar Helmi saat melakukan pengukuran lahan yang nantinya direncanakan menjadi lokasi pembangunan gedung baru.

Di tengah bangunan lama yang masih berdiri sederhana, aktivitas pengukuran lahan itu menjadi pemandangan yang membawa harapan baru. Setelah bertahun-tahun mengajar dalam kondisi serba terbatas, Rohmawati akhirnya melihat kemungkinan anak-anaknya belajar di ruang kelas yang lebih layak.

“Alhamdulillah, saya sangat senang dan terharu. Pemkab Kampar cepat tanggap. Hari ini (Kamis, red) konsultan langsung mengukur lokasi, insya Allah pembangunan ruang belajar segera direalisasikan,” ujarnya penuh rasa syukur.

Bagi Rohmawati, pembangunan gedung baru bukan semata-mata soal perubahan fisik sekolah. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk menghidupkan kembali semangat masyarakat terhadap pendidikan.

Bangunan yang layak, menurutnya, bisa menjadi daya tarik bagi para orang tua untuk kembali mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada sekolah tersebut. Dengan demikian, persoalan jumlah murid yang terus menurun diharapkan dapat perlahan teratasi.

“Kalau bangunan sekolah sudah bagus dan layak, anak-anak dari sekitar sini pasti akan kembali bersekolah di kelas jauh SDN 007 Sungai Agung,” tambahnya.

Setelah bertahun-tahun melihat ruang belajar berdinding triplek, Rohmawati kini membayangkan suasana yang berbeda. Anak-anak bisa belajar dengan lebih nyaman. Para orang tua tidak lagi ragu menyekolahkan buah hati mereka. Dan sekolah yang sempat kehilangan banyak murid bisa kembali dipenuhi suara anak-anak.

Namun, di balik optimisme yang muncul setelah adanya rencana pembangunan tersebut, Rohmawati masih menyimpan satu harapan yang telah digantungkannya hampir seperempat abad. 22 tahun menjadi guru honorer di daerah terpencil bukanlah perjalanan singkat. 

Selama kurun waktu tersebut, ia tetap menjalankan tugas meski honorarium yang diterima jauh dari kata cukup. Baginya, pembangunan gedung sekolah memang penting. Tetapi, ada hal lain yang tidak kalah penting, yakni orang-orang yang setiap hari berdiri di depan kelas dan memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung. Sebab, gedung yang bagus tidak akan berarti banyak tanpa guru yang mengisinya.

Karena itu, Rohmawati berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada pembangunan fisik berupa dinding, ruang kelas dan atap sekolah. Perhatian yang sama juga diharapkannya menyentuh kesejahteraan para guru honorer yang selama ini menjadi bagian penting dalam menjaga pendidikan tetap berjalan di wilayah-wilayah terisolir.

“Gaji yang diterima teman-teman guru honorer saat ini sangat jauh dari layak. Saya berharap pemerintah dapat memperhatikan nasib kami, khususnya yang telah lama mengabdi di wilayah terisolir,” tuturnya penuh harap.(ali/das)

Editor : Arif Oktafian
rohmawati anak bangsa