Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Gara-Gara Tak Ada Sosok Ayah, Jadi Salah Satu Alasan Pria Suka Selingkuh

Redaksi • Senin, 8 Juli 2024 - 10:21 WIB

Ilustrasi pria yang ketahuan selingkuh melalui isi chat ponselnya
Ilustrasi pria yang ketahuan selingkuh melalui isi chat ponselnya
JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Memahami alasan beberapa pria yang menjadi tukang selingkuh bisa menjadi teka-teki yang rumit. Sering kali ini bukan hanya tentang sensasi atau kegembiraan atas hal terlarang tetapi lebih berakar dalam pada masa lalu mereka.

Pada dasarnya pengalaman masa kecil bisa mempengaruhi sifat dan karakter seseorang yang dibawa hingga usia dewasa. Karakter ini bisa berdampak untuk hubungan mereka salah satunya percintaan. Lantas pengalaman masa kecil apa yang membuat mereka selingkuh di usia dewasa? Dilansir dari laman The Vessel, Senin (8/7), berikut beberapa pengalaman masa kecil pria yang suka selingkuh diantaranya:

1. Adanya paparan perselingkuhan sejak dini
Tidak bisa dipungkiri bahwa mereka yang berselingkuh sering pertama kali mengalami perselingkuhan saat masa kanak-kanak. Hal ini bisa terjadi karena melihat orang tua atau anggota keluarga dekat tidak setia.

Pemaparan dini ini dapat membuat konsep perselingkuhan menjadi hal yang wajar bagi sebagian orang sehingga mereka meniru perilaku serupa dalam hubungan mereka sendiri. Intinya pemahaman ini dapat membantu kita berempati tetapi tidak berarti memberi seseorang keleluasaan untuk berkhianat.

2. Tidak adanya sosok ayah
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Family Issues, peneliti menemukan korelasi antara tidak adanya figur ayah selama masa kanak-kanak dan perselingkuhan dalam hubungan di kemudian hari. Tumbuh besar tanpa sosok panutan laki-laki dapat membuat beberapa pria kurang siap menghadapi tantangan.

Mereka cenderung merasa kesulitan memahami komitmen, kepercayaan dan cara berkomunikasi secara efektif dalam suatu hubungan. Kurangnya bimbingan ini dapat menyebabkan perilaku hubungan yang tidak pantas seperti selingkuh dalam kehidupan dewasa mereka.

3. Trauma masa kecil
Pengalaman traumatis di masa kanak-kanak dapat berdampak jangka panjang pada perilaku seseorang termasuk pendekatan mereka terhadap hubungan. Bagi sebagian pria, pengalaman seperti kekerasan, penelantaran atau menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga dapat menyebabkan rasa tidak aman yang mendalam dan ketakutan.

Ketakutan inilah yang bisa mendorong mereka untuk mencari validasi di luar hubungan utama mereka hingga berujung pada perselingkuhan.

4. Kurangnya keintiman emosional
Pengalaman masa kecil lainnya yang dialami oleh pria tukang selingkuh adalah kurangnya keintiman emosional. Jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang minim ekspresi dan koneksi emosional maka mereka cenderung kesulitan untuk membangun dan mempertahankan keintiman emosional dalam hubungan mereka saat dewasa. Tanpa kedekatan emosional ini, mereka akan mencari kepuasan di tempat lain hingga berujung perselingkuhan.

5. Tingkat konflik yang tinggi di rumah
Pria yang berselingkuh sering kali tumbuh dalam rumah tangga yang sering dilanda konflik. Paparan ketegangan dan perselisihan yang terus-menerus dapat mengaburkan pemahaman mereka tentang seperti apa seharusnya hubungan yang sehat.

Mereka bukan belajar berkomunikasi dan menyelesaikan perselisihan secara efektif namun justru belajar untuk melarikan diri atau menghindari konflik sama sekali. Penghindaran ini dapat terwujud sebagai perselingkuhan ketika masalah hubungan muncul dalam kehidupan dewasa mereka.

6. Kurangnya harga diri
Salah satu pengalaman masa kecil yang paling signifikan terkait dengan perselingkuhan berantai adalah kurangnya harga diri. Seorang anak yang tumbuh dengan perasaan tidak dicintai, tidak mampu atau terus-menerus dikritik dapat membawa perasaan rendah diri hingga dewasa. Kurangnya harga diri ini sering mendorong pria untuk mencari validasi eksternal melalui banyak pasangan yang berujung perselingkuhan. Hal ini juga dikenal sebagai upaya yang salah arah untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh kebutuhan emosional mereka yang tak terpenuhi.

Sumber: Jawapos.com

Editor : RP Rinaldi
#trauma masa kecil #sosok ayah #selingkuh