JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Tak semua anak mendapatkan dukungan emosional yang mumpuni dari keluarga dan orang tuanya. Hal ini tentu memengaruhi pada perilaku mereka saat dewasa.
Anak yang dibesarkan dengan kurang dukungan emosional orang tuanya, mereka akan mendapati perilaku yang buruk untuk kehidupan sosialnya di masa dewasa. Saat Anda menemukan beberapa perilaku ini, maka bisa jadi orang itu tak mendapatkan dukungan emosional yang cukup dari orang tuanya.
Maka dari itu, penting untuk memberikan porsi yang cukup agar sisi emosional anak tetap terpenuhi semasa kecilnya. Berikut adalah lima ciri karakter menyedihkan orang yang masa kecilnya tak cukup menerima dukungan emosional dari orang tuanya, dikutip dari Ideapod, Selasa (9/7/2024).
1. Kesulitan memercayai orang lain
Baik disengaja maupun tidak, ketika anak-anak tidak menerima dukungan emosional yang mereka butuhkan, mereka tidak mengembangkan ikatan yang aman. Artinya, mereka tidak belajar cara memercayai orang lain.
Dan itu adalah sifat yang mereka bawa sampai dewasa. Sulit untuk memercayai orang lain ketika orang yang seharusnya merawat Anda saat masih anak-anak yang tidak berdaya tidak melakukannya.
2. Harga diri yang rendah
Ketika anak tidak menerima banyak perhatian dan kasih sayang atau mungkin yang mereka dengar hanyalah kritikan terus-menerus, maka mereka akan merasa tidak dibutuhkan. Pada dasarnya, mereka merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan.
Ini adalah perasaan mengerikan yang seharusnya tidak pernah dirasakan oleh anak mana pun, tetapi begitulah kenyataannya. Keyakinan yang tertanam dalam diri mereka ini dapat membayangi mereka saat dewasa dan mewarnai pandangan mereka terhadap diri mereka sendiri serta tempat mereka di dunia.
Mereka mungkin mempertanyakan harga diri mereka dan berjuang untuk menemukan nilai mereka, karena tahun-tahun formatif tersebut tidak mendapatkan penegasan bahwa mereka penting.
3. Ketakutan yang sangat besar terhadap penolakan
Tumbuh tanpa dukungan emosional yang cukup, saya telah merasakan ketakutan ini lebih sering daripada yang ingin saya akui. Akibatnya, saya terlibat dalam perilaku yang tidak sehat seperti menyenangkan orang lain dan tidak mengungkapkan pendapat saya.
Dalam hubungan, saya jarang menunjukkan jati diri saya yang sebenarnya karena dalam benak saya, saya selalu berpikir, "Bagaimana jika mereka tidak menyukai saya?" Saya akan menjaga jarak dengan orang lain agar mereka tidak tahu betapa buruknya saya.
Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk menyadari bahwa pandangan dunia ini disebabkan oleh fakta bahwa saya tidak menerima dukungan emosional yang saya perlukan untuk percaya diri dengan siapa saya.
4. Menghindari kerentanan
Karena rasa takut akan penolakan itu, saya jarang memberi kesempatan kepada orang lain untuk melihat kelemahan saya. Orang-orang yang tidak menerima banyak dukungan emosional saat masih kecil cenderung melakukan hal itu.
Namun sisi buruknya adalah, hubungan saya terasa hampa. Saya hanya menunjukkan sisi diri saya yang "cukup baik untuk konsumsi publik." Bukan sisi diri saya yang sangat mendambakan hubungan yang tulus.
Akhirnya, saya mulai melihat kerentanan sebagai kekuatan, terutama dalam hal hubungan. Tanpa itu, saya akan terkungkung dalam hubungan yang dangkal dan saya akan merasa semakin tidak terlihat dan tidak didukung.
5. Merasa hampa dan kesepian
Bayangkan tidak tahu bagaimana rasanya memiliki seseorang di sisi Anda. Atau bayangkan harus selalu memasang wajah ceria karena Anda tidak ingin menunjukkan kepada dunia saat-saat keraguan dan ketakutan Anda.
Saya yakin Anda akan merasa kesepian, bukan? Begitulah yang sering dirasakan orang-orang yang kurang mendapat dukungan emosional saat tumbuh dewasa.
Ini adalah jenis kesepian yang aneh yang muncul karena perasaan tidak dipahami dan tidak diperhatikan.
Sumber: Jawapos.com
Editor : RP Edwir Sulaiman